Di sebuah restoran ada seorang pramusaji yang menjadi favorit setiap tamu untuk melayani mereka. Ia memiliki kemampuan yang hebat, yaitu ia pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati dan gerak para pelanggannya. Dengan mulus ia mensinkronkan diri dengan mereka.
Ia tenang dan berhati-hati dengan pria murung yang minum-minum di meja sudut yang gelap. Namun, ia juga suka bergaul dan amat ramah dengan sekelompok tamu yang tertawa bersama pada jam makan siang.
Terhadap ibu muda dengan dua anak balita yang hiperaktif, ia langsung saja masuk ke dalam keriuhan itu, membuat senang anak-anak itu dengan membuat mimik-mimik lucu dan lelucon-lelucon. Maka, dapatlah dipahami pramusaji ini selalu mendapatkan tip paling besar dibandingkan dengan pramusaji lainnya.
Kunci Sukses Apa yang dibutuhkan untuk meraih kehidupan terbaik, yaitu kesuksesan dan kebahagiaan sejati? Dalam materi pelatihan motivasi yang biasa saya bawakan, jawaban terhadap pertanyaan tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga (triangle):
Sudut sebelah kiri adalah personal mastery, sudut sebelah kanan adalah interpersonal mastery, dan sudut bagian atas adalah spiritual mastery.
Ketiganya dibutuhkan dan ketiganya sama-sama penting. Pada bab-bab sebelumnya kita telah banyak membahas hal-hal yang berhubungan dengan personal mastery, di antaranya adalah pentingnya membangun sikap positif, mengelola kekuatan pikiran, memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, bersedia bekerja keras serta kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan.
Orang bijak pernah berkata bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Artinya ketika seseorang berhasil menguasai dan mengelola dirinya dengan baik, kesuksesan dan kebahagiaan akan lebih mudah diraih.
Namun, tingkat kesuksesan dan kebahagiaan tersebut hanya dapat dimaksimalkan dengan keterampilan dalam bekerja sama dengan orang lain.
Mengapa? Karena tak ada individu yang pernah mencapai sesuatu yang besar seorang diri. Kepercayaan bahwa satu orang dapat melakukan sesuatu yang hebat hanya sebuah mitos belaka.
Seperti pramusaji pada cerita di atas, ia bisa saja memiliki penguasaan diri yang hebat, seperti kemampuan untuk bekerja keras dan memiliki sikap pantang menyerah. Tetapi, jika ia tidak terampil dalam menjalin hubungan yang tepat dengan para pelanggan, ia tidak akan mendapatkan kesuksesan seperti sekarang.
Mungkin Anda mengenal orang-orang yang sangat pandai, tekun dan penuh semangat, tetapi mereka selalu gagal ketika bekerja sama dengan siapa pun. Akibatnya mereka tidak pernah berhasil meraih kehidupan terbaik.
Karena itu, selain kemampuan mengelola diri, kita juga harus terampil dalam membangun hubungan dengan orang lain. Stanley C. Allyn bahkan pernah berkata,
”Orang paling berguna di dunia dewasa ini adalah pria dan wanita yang tahu bagaimana bergaul dengan orang lain. Hubungan manusia adalah ilmu terpenting dalam hidup.”
Senada dengan itu, John C. Maxwell, dalam bukunya Winning with People berkata,
”Bertanyalah kepada para direktur perusahaan besar dan sukses, karakteristik apa yang paling diperlukan dalam posisi kepemimpinan. Mereka akan memberitahukan Anda bahwa hal itu adalah kemampuan untuk bekerja bersama orang lain. Wawancarailah para pengusaha untuk menemukan apa yang memisahkan kesuksesan dari kegagalan. Mereka akan memberitahukan Anda bahwa yang memisahkan kedua hal itu adalah kemampuan bekerja dengan orang. Bicaralah dengan penjual-penjual yang ulung dan mereka akan memberitahu Anda bahwa pengetahuan tentang orang jauh lebih penting daripada pengetahuan tentang produk.”
Jadi, keterampilan berhubungan dengan orang tidak ternilai harganya. Tak peduli apa impian Anda, jika Anda mau meraihnya, pastikan diri Anda memiliki keterampilan dalam membangun relasi dengan orang lain.
Di bawah ini adalah lima langkah awal untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. 1. Periksa Diri Anda Suatu hari seorang kakek sedang tidur di sofa ketika cucu-cucunya yang masih kecil mencoba menggodanya. Mereka pergi ke lemari es dan menarik keluar sedikit keju Limburger yang baunya sangat tidak sedap. Mereka mengambil keju itu dan diam-diam mengoleskannya pada kumis si kakek. Kemudian mereka bersembunyi untuk melihat apa yang akan terjadi.
Setelah beberapa saat, hidung si kakek mulai bergerak-gerak. Kemudian kepalanya mulai bergoyang dan akhirnya si kakek duduk tegak dengan cepat. Mukanya kelihatan masam. Dia berkata :
”Ada yang berbau busuk di sini!”
Ia bangkit berdiri, berjalan ke dapur, membau-bau di sana dan berkata.
”Wah, bau busuk juga di sini!” Pada titik itu, ia memutuskan pergi keluar untuk menghirup udara segar. Namun, ketika menghirup udara, ia mendapati bau busuk itu lagi. ”Ah, seluruh dunia berbau busuk!”
keluhnya.
Kisah di atas mengingatkan kita bahwa bagi seseorang dengan keju Limburger di bawah hidungnya, apa pun akan berbau busuk. Demikian juga bila kebusukan itu terdapat dalam diri seseorang, ia akan sulit sekali membangun hubungan dengan orang lain. Orang seperti ini sering memiliki perasaan curiga yang berlebihan atau prasangka buruk terhadap orang lain.
Bayangkan seseorang yang sering iri terhadap kesuksesan orang lain. Ketika ia meraih suatu kesuksesan ia akan cenderung merasa bahwa orang-orang di sekitarnya iri dengan dirinya. Seseorang yang belum mampu menerima atau menghargai dirinya sendiri akan sering merasa bahwa orang lain menolak dan merendahkan dirinya. Akibatnya ia pun tidak mungkin bisa menerima, menghargai apalagi mencintai orang lain, termasuk keluarganya sendiri.
Mengapa? Karena kita tidak mungkin memberikan apa yang tidak kita miliki. Untuk dapat menerima dan menghargai orang lain, kita harus terlebih dahulu mampu menerima dan menghargai diri sendiri. Karena itu kita perlu memeriksa diri kita dan berlajar untuk menyingkirkan sifat-sifat negatif yang menghambat relasi kita dengan orang lain.
2. Periksa Cara Pandang Anda terhadap Orang Lain Beberapa tahun lalu di Universitas Harvard, Dr. Robert Rosenthal melakukan beberapa kali eksperimen yang menggugah minat dengan melibatkan tiga kelompok mahasiswa dan tiga kelompok tikus. Ia memberitahukan kepada kelompok pertama mahasiswa tersebut,
”Anda beruntung. Anda akan bekerja sama dengan tikus-tikus jenius. Tikus ini telah di-kembangbiakkan untuk memperoleh kecerdasan dan memang sangat cerdik. Tikus tersebut akan tiba di ujung labirin tanpa kesalahan, dan memakan banyak keju. Karena itu, belilah banyak keju.”
Kelompok kedua diberitahu,
”Tikus-tikus Anda biasa-biasa saja, tidak terlalu cerdas, tidak terlalu bodoh, hanya sekawanan tikus rata-rata. Tikus tersebut akhirnya akan tiba di ujung labirin dan memakan kejunya, tetapi jangan terlalu berharap banyak darinya. Tikus tersebut mempunyai kemampuan dan kecerdasan rata-rata sehingga kinerjanya pun akan tetap rata-rata.”
Ia berkata kepada kelompok ketiga mahasiswa tersebut,
”Tikus-tikus ini benar-benar bodoh. Kalau ternyata mereka mencapai ujung labirin tersebut, itu hanya karena kebetulan. Mereka benar-benar bodoh sehingga tentu saja kinerjanya rendah. Saya tidak yakin kalian bahkan perlu membeli keju. Pasang saja di ujung labirin tersebut tanda yang berbunyi ’keju’.”
Selama enam minggu berikut, mahasiswa tersebut melakukan eksperimen dengan kondisi-kondisi ilmiah yang tepat. Tikus-tikus jenius tersebut tampil seperti jenius. Binatang tersebut mencapai ujung labirinnya dengan cepat. Kelompok tikus rata-rata, berhasil ke ujung, tetapi tidak mencapai satu pun rekor kecepatan dalam proses itu. Sementara kelompok tikus-tikus idiot, benar-benar merasa mengalami kesulitan dan apabila seekor benar-benar menemukan ujung labirinnya, jelas hal itu hanyalah suatu kebetulan, bukan ”rencana”.
Hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa ternyata tidak ada tikus jenius atau tikus idiot. Semuanya adalah tikus rata-rata dari perindukan yang sama. Perbedaan kinerja atau hasil yang dicapai merupakan hasil langsung dari perbedaan sikap mahasiswa yang melakukan eksperimen itu. Mahasiswa tersebut memperlakukan tikus-tikus itu dengan ”berbeda” karena mereka melihatnya ”berbeda”, dan perlakuan yang berbeda mengakibatkan hasil yang berbeda.
Karena itu, pertanyaannya adalah bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita temui selama ini? Apakah kita memperlakukan mereka dengan rasa hormat atau justru dengan sikap merendahkan? Mungkin karena penampilan, pendidikan atau status sosial mereka yang berada di bawah ekspektasi kita sehingga kita memandang mereka sebelah mata. Singkatnya adalah, bila kita ingin membangun relasi yang lebih baik, kita perlu memastikan bahwa kita memperlakukan orang lain dengan baik.
3. Mendengarkan dan Empati dengan Orang Lain
Dale Carnegie dalam bukunya How to Win Friends and Influence People menulis
”Pernah dalam sebuah pesta saya mengobrol dengan seorang ahli botani. Saya duduk dengan terpesona saat dia menceritakan aneka fakta mencengangkan tentang kentang yang rendah hati. Setelah saya mengucapkan selamat malam, ahli botani itu berpaling kepada tuan rumah, menyampaikan beberapa pujian untuk saya, dan mengakirinya dengan mengatakan bahwa saya adalah ’ahli percakapan yang paling menarik.’ Ahli percakapan yang paling menarik? Padahal saya nyaris tak berkata sepatah kata pun. Tetapi, saya mendengarkan dengan penuh minat dan dia merasakan hal itu.”
Kita, tanpa kecuali, memiliki kecenderungan untuk memikirkan dan memetingkan diri sendiri. Ketika bertemu seseorang, kita punya kecenderungan untuk menceritakan kisah dan pengalaman diri kita. Kita kurang peduli atau kurang berempati dengan keadaan hidup orang lain. Namun, bila Anda betul-betul ingin membangun relasi yang baik dengan orang lain, mulai hari ini mari berhenti memikirkan diri sendiri dan mulai berfokus pada diri orang dengan siapa kita ingin menjalin relasi. 4. Berikan Kata-Kata yang Manis Membaca buku tentang orang-orang hebat adalah cara terbaik untuk mempelajari banyak hal. Dua orang di antara orang-orang terkenal tersebut adalah Abraham Lincoln dan Benjamin Franklin. Yang satu terkenal sebagai seorang presiden besar yang mengakhiri masa perbudakan, satunya lagi orang berpendidikan, penemu dan negarawan yang sangat terkenal.
Tetapi, bukan bagaimana cara mereka menjadi sukses yang paling menarik, melainkan bagaimana masing-masing orang ini menjadi ahli dalam hubungan antarmanusia dan melaku-kan afirmasi pada orang lain dengan kata-kata positif. Karakteristik yang paling hebat dari keduanya adalah kemampuan bekerja sama dengan baik dengan semua tipe orang dan memunculkan hal-hal terbaik yang terdapat pada diri orang lain.
Dosen sejarah, Dr. Ashbrook, mengatakan bahwa kehebatan Presiden Lincoln adalah kemampuannya untuk bekerja sama dengan orang lain. Dikisahkan tentang orang-orang di seputar dia di lingkungan gedung putih. Orang-orang ini punya bakat namun masing-masing memiliki ego yang sangat tinggi. Beberapa di antara mereka bahkan merasa lebih hebat daripada sang Presiden. Tetapi, bukannya menyingkirkan mereka, Lincoln justru menghormati mereka. Dia memuji kemampuan mereka, meminta nasihat-nasihat mereka, dan mendorong mereka membaktikan bakat dan tenaga mereka demi negara. Dan akhirnya semuanya muncul sebagai pemenang.
Fraklin sering digambarkan sebagai diplomat dengan bakat alami; orang yang dilahirkan dengan kepribadian yang menyenangkan. Tetapi gambaran tersebut jauh dari kebenaran. Menurut pengakuan Fraklin sendiri, dia memiliki beberapa kelemahan kepribadian, dan dengan kerja keras serta ketekunan dia menyempurnakan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain yang pada akhirnya membawanya pada pencapaian-pencapaian yang luar biasa.
Dalam buku otobiografinya Fraklin menceritakan sulitnya mengatasi kecenderungan alaminya untuk menghakimi dan mengkritik orang lain. Tetapi, usahanya berhasil. Pada akhirnya dia membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Dia melatih dirinya untuk melihat karakteristik yang positif pada diri orang lain dan mengatakannya kepada mereka.
Lincoln dan Fraklin telah menemukan salah satu kunci untuk sukses dalam hidup, yaitu meneguhkan atau mengafirmasi orang lain dengan kata-kata positif. Mereka mengatakan hal-hal yang baik dan bekerja keras membantu orang lain memunculkan potensi terbaik dari diri mereka. Dengan mengangkat orang lain, mereka mengangkat diri mereka ke tempat yang terhormat dalam sejarah.
Blaise Pascal pernah berucap,
”Kata-kata yang manis tidak butuh biaya… tetapi menghasilkan sangat banyak.”
Karena itu bila kita ingin membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain, mari melatih diri untuk lebih rajin mengatakan hal-hal manis atau kalimat-kalimat yang membesarkan hati orang lain.
5. Senyum Di lantai enam gedung saya berkantor terdapat food court di mana masing-masing penjaja makanan berusaha menarik konsumen. Salah satu tempat makan dijaga oleh seorang wanita yang selalu tersenyum kepada setiap orang yang lewat. Dia juga akan menyapa dengan ramah, sekalipun kita baru saja memesan makan dari tempat sebelah.
Sikapnya yang ramah dan murah senyum itu membuat saya tertarik untuk mencoba makanan yang ia jual. Setelah mencoba, dari segi rasa, makanan yang ia jual tidak lebih sedap dari yang lain. Namun, saya cukup sering memesan makanan darinya karena senyuman dan keramahan yang ia berikan kepada semua orang. John Maxwell pernah berkata
”Jika Anda ingin menarik orang lain kepada Anda, hiasilah wajah Anda dengan senyuman.”
Kita telah membahas bahwa bila kita ingin meraih kesuksesan dan kebagiaan sejati, selain kemampuan menguasai dan mengelola diri sendiri, kita juga perlu terampil dalam membangun hubungan dengan orang lain. Untuk itu mulai hari ini mari melatih diri untuk melakukan lima hal di atas.
Salam Triangle!
Sumber : Buku "Life Success Triangle" Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama
|