Misteri Ilahi (3/3)
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas alasan pertama mengapa seseorang mempertanyakan kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang di tengah kesulitan hidup yang tengah dialami. Alasan tersebut berhubungan dengan kesalahan di dalam kita mendefinisikan penderitaan versus kebaikan. Oleh karena itu, pada artikel sebelumnya (baca Misteri Ilahi 2), kita telah diingatkan supaya ketika kita sedang mengalami penderitaan, mari kita tidak putus asa apalagi menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, ketika hidup berjalan lancar dan kita seakan menari di atas angin, mari kita tidak lupa daratan.
Sekarang kita akan lihat alasan yang kedua, yaitu berhubungan dengan hukum tabur-tuai.
Seorang orator dan filsuf ternama, Marcus T. Cicero, pernah berkata; “Sebagaimana Anda telah menabur, demikian pula Anda akan menuai”. Artinya adalah, bila Anda ingin tubuh yang sehat (tuai) maka rajin-rajinlah berolah-raga (tabur). Bila Anda ingin naik jabatan (tuai) maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya (tanam). Bila Anda ingin keluarga yang bahagia (tuai) maka relakanlah sifat buruk Anda dipotong sampai ke akar-akarnya (tabur).
Atau bila Anda adalah seorang agen Asuransi, dan Anda ingin meraih target jalan-jalan ke luar negeri (tuai), maka tekunlah dalam mencari prospek sebanyak-banyaknya (tanam). Sebaliknya bila Anda terbiasa pasif dan malas dalam bekerja (tabur), maka kemiskinan akan menjadi teman Anda selamanya (tuai). Kisah di bawah ini akan menolong kita untuk lebih memahami hukum tabur-tuai yang tengah kita bahas.
Dua Orang Pendaki
Dikisahkan tentang dua orang pendaki yang sedang mengarungi badai salju di pegunungan Himalaya. Mereka berjalan dengan susah payah karena udara yang sangat dingin hingga terasa sampai ke sumsum tulang.
Di tengah perjalanan mereka menemukan seorang laki-laki yang tergeletak di pinggir jalan. Karena kasihan melihat keadaan orang itu, pendaki yang pertama berkata kepada temannya, "Orang ini masih hidup. Kasihan sekali kalau dia dibiarkan tergeletak di sini, dia pasti akan mati, mari kita tolong dia." Tapi temannya menjawab, "Bagaimana kita bisa menolongnya kalau membawa diri sendiri saja sudah sangat susah di tengah badai seperti ini. Kalau kamu ingin membawanya, silahkan, tapi aku tidak akan menolongmu."
Maka orang yang pertama dengan sangat susah payah memanggul tubuh orang yang tak berdaya itu sedangkan temannya lebih dulu melanjutkan perjalanan sendirian. Pendaki yang baik hati itu memang pada awalnya merasa perjalanannya sangat berat karena beratnya tubuh orang yang dipanggulnya itu. Tetapi lama kelamaan ia tidak terlalu merasa kedinginan lagi karena kehangatan tubuh orang yang dipanggulnya itu juga menjalar ke tubuhnya. Maka perlahan-lahan, ia terus berjalan.
Setelah berjalan sekian jauh, ia melihat satu orang lain yang tergeletak di pinggir jalan. Pada saat ia memperhatikan lebih dekat orang itu sudah meninggal dunia. Ternyata orang itu adalah teman seperjalanannya tadi.
Manfaat Hukum Tabur-Tuai
Kisah di atas menggambarkan bagaimana pendaki pertama menabur kebaikan dan hasilnya adalah selamat dari badai salju. Sebaliknya, pendaki yang kedua menabur dalam egoisme yang tinggi dan hasilnya adalah kematian. Setiap kita pasti memiliki pengalaman berkaitan dengan hukum tabur-tuai ini. Sebuah hukum yang tidak terbantahkan keberadaannya.
Namun berbicara tentang hukum tabur-tuai, nasihat Cicero di atas bukan yang pertama atau satu-satunya. Konsep yang sama dapat dengan mudah kita temukan dalam semua Kitab Suci dan aliran kepercayaan yang ada. Kita diajar bahwa jika kita ingin menuai hidup yang lancar, sukses dan bahagia, maka kita berbuat baik kepada Tuhan dengan cara melakukan ajaran-ajaranNya. Sebaliknya, jika kita gagal menabur kebaikan, maka Tuhan akan menimpakan kutukan dan menghambat rencana masa depan kita.
Dari satu sisi, konsep hukum ini tentu saja bermanfaat. Kita dapat menyaksikan jutaan orang setiap hari, di berbagai belahan dunia, berusaha menjaga kelakuannya bersih, dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kehidupan di dunia yang sementara ini, tetapi juga sebagai bekal di dunia yang akan datang (kekal).
Kita juga dapat melihat, dengan adanya hukum tabur-tuai tidak terhitung berapa banyak kejahatan yang batal dilakukan oleh seorang manusia, karena rasa takut pada amarah Tuhan terhadap dirinya. Tidak terbayang betapa rusaknya dunia ini bila setiap orang dapat berbuat apapun yang diinginkan hatinya, tanpa rasa takut pada tuain buruk yang akan dihadapi. Tanpa hukum tabur-tuai kita akan hidup dalam hukum rimba, dimana hanya yang paling kuat yang bertahan hidup.
Naik Kelas
Dari penjelasan di atas kita dapat lihat betapa pentingnya dan bermanfaatnya hukum tabur-tuai, khusunya dalam menjaga agar dunia tidak binasa sebelum waktu yang sudah ditetapkan oleh Pencipta. Tanpa hukum tabur-tuai kita akan mudah menyaksikan pohon mangga berbuah durian dan domba melahirkan anak singa. Suatu dunia yang tidak teratur dan kacau balau.
Namun, sebaik-baiknya dan seperlu-perlunya hukum tabur-tuai, di dalam kita berelasi dengan Tuhan, kita harus naik kelas. Bila kita tetap di kelas yang sama maka kita akan terus bergumul dengan pertanyaan di awal, yang selalu mempertanyakan kehadiran dan kebaikan Tuhan.
Pertanyaan seperti itu muncul karena cara pandang bahwa kalau saya percaya pada Tuhan, hidup saleh dan amal baik, maka sudah sepantasnya Tuhan menolong saya. Bila sebaliknya yang saya dapatkan, yaitu kesulitan atau penyakit, maka rasa keadilan saya terganggu. Karena cara pandang seperti inilah maka kita sering mendengar orang berkata “Tuhan tidak adil”. Kesimpulan seperti itu membuat kita kecewa dan meninggalkan Tuhan di saat kita sangat membutuhkanNya.
Mengapa rasa kecewa bisa kita rasakan? Karena realita yang ada tidak sesuai dengan harapan kita. Maksudnya, dengan hukum tabur-tuai, ketika saya sedang sakit dan ingin disembuhkan, caranya mudah saja, tinggal minta ampun dan berbuat baik kepada Tuhan, dan penyakit saya akan disembuhkan.
Tetapi realitanya hidup tidak sesederhana hukum tabur-tuai. Sering kali kita tidak mampu memahami kejadian yang kita alami. Di tengah kebahagiaan bisa saja kesusahan datang tanpa diundang dan tanpa penjelasan. Meminjam bahasa Kahlil Gibran, “Ketika kita bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan.”
Bahaya Hukum Tabur-Tuai
Di atas kita sudah membahas manfaat hukum tabur-tuai tetapi sekarang kita perlu melihat empat bahaya yang akan terjadi bila hukum tersebut kita jadikan satu-satunya dasar dalam kita berelasi dengan Tuhan. Setelah memahami keempat bahaya ini saya berharap, apapun agama dan ajaran yang kita anut, kita mau naik kelas di dalam perjalanan spiritualitas kita.
Bahaya yang pertama adalah, dengan memakai contoh tentang sakit di atas, setelah kita meminta ampun dan berbuat baik kepada Tuhan, ternyata masih belum sembuh juga, kita akan bertanya, “apa salah saya?” Kemudian kita berusaha untuk semakin tekun berbuat baik, berdoa, berpuasa dan mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik. Tapi tetap saja kita tidak sembuh juga. Di titik ini kita akan beralih menjadi kecewa pada Tuhan dan akhirnya kita meninggalkan Tuhan pada waktu kita sedang sungguh-sungguh membutuhkan pertolonganNya.
Bahaya kedua, kita dapat mengambil kesimpulan yang salah. Maksudnya, bila kesehatan saya baik, keluarga sehat, karir saya maju, kekayaan saya bertambah dan cita-cita saya tercapai, dapat saya simpulkan bahwa hidup saya berkenan kepada Tuhan – padahal sebenarnya saya sedang banyak berbuat salah dan dosa.
Hal berbahaya karena sering kali, oleh banyaknya salah dan dosa itulah saya memasuki hukum pembiaran Tuhan, yaitu situasi dimana Tuhan membiarkan saya hidup sesuai yang saya kehendaki. Keadaan ini dapat diumpamakan seperti saya diberikan mobil mewah dengan kecepatan super. Suatu hari saya mengemudi di jalan tol dalam kecepatan tertinggi. Pada saat menurunkan kecepatan di sebuah belokan, ternyata tidak bisa. Mengapa? Karena mobil mewah itu ternyata tidak dilengkapi dengan sebuah rem. Akibatnya fatal, maut menjemput.
Demikianlah hidup seseorang yang sedang dibiarkan oleh Tuhan, semua berjalan bebas tanpa hambatan, namun sesungguhnya kebebasan itu adalah jalan kita menuju kematian. Artinya bagi kita yang tengah melakoni hidup yang bertentangan dengan Tuhan saat ini, dan semua serasa berjalan baik-baik saja, jangan senang apalagi menjadi sombong. Sebaliknya, awaslah karena mungkin saja Anda sedang memasuki hukum pembiaran Tuhan. Usul saya segeralah bertobat, mumpung belum terlambat.
Bahaya yang ketiga adalah sulit bersyukur kepada Tuhan karena saya merasa semua kebaikan, berkat dan kelancaran yang saya terima adalah hasil kerja keras saya. Bahkan kelak ketika saya berhasil masuk surga, saya tidak akan bersyukur dan bersujud di hadapan Tuhan secara tulus karena surga yang saya dapatkan itu tidak lain adalah tuaian dari apa yang pernah saya tabur selama di dunia. Bahkan, dapat terjadi, bila ternyata surga tidak seindah yang saya bayangkan, maka saya akan memarahi Tuhan.
Bahaya keempat adalah bahwa sesungguhnya dalam hukum tabur-tuai, yang berperan sebagai Tuhan adalah manusia. Mengapa? Karena perbuatan dan kelakuan kita yang akan menentukan bagaimana Tuhan bertindak atas hidup kita. Dia hanya sekedar meresponi apa yang kita lakukan – jika saya baik, Dia akan baik pada saya. Jika saya jahat Dia akan hukum saya. Dalam hal ini, Tuhan bersifat reaktif, bukan penentu kehidupan umatNya.
Padahal bukankah Tuhan seharusnya lebih berkuasa daripada manusia? Bukankah pikiran Tuhan lebih tinggi daripada pikiran kita? Bukankah rancangan Tuhan lebih dalam daripada rancangan kita? Dan karena Tuhan Maha-besar dan Maha-kuasa, selayaknya kita tunduk di bawah perintah dan kedaulatannya. Bukan sebaliknya.
Cinta Kasih
Oleh karena keempat bahaya di atas, saya mengajak kita untuk naik kelas dalam kehidupan spiritual kita. Apapun agama dan kepercayaan kita, mulai hari ini, mari kita belajar untuk berelasi dengan Tuhan berdasarkan hukum cinta-kasih yang murni, dan bukan lagi dengan sekedar hukum tabur-tuai.
Di bawah hukum cinta-kasih yang murni, kita tidak lagi datang kepada Tuhan dalam doa, atau hidup saleh dan berbuat baik karena tujuan mendapatkan ”ini dan itu” (baca: kekayaan, kesehatan, keberhasilan, bahkan surga). Kita datang kepadaNya atas dasar cinta-kasih yang murni, karena sebuah kesadaran bahwa kalau hari ini saya masih bernafas, semua semata-mata karena Tuhan.
Dengan kerendahan hati, kita mengakui bahwa nafas ini bisa saja Tuhan cabut tadi malam. Maka bila hari ini saya masih dapat bekerja, saya mau bekerja untuk Tuhan. Sesungguhnya inilah dasar dari konsep ’kerja adalah ibadah’. Konsep ’kerja adalah ibadah’ adalah dasar dari ’kualitas kerja tertinggi’. Dan ’kualitas kerja tertinggi’ adalah dasar dari kesuksesan dan kebahagiaan sejati.
Jadi kita bisa lihat, sesungguhnya konsep spiritual yang baik bukan membuat manusia menjadi pasif atau tidak relevan dengan dunia kerja. Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik semestinya adalah pekerja, pengusaha, dan pemimpin yang paling rajin, memiliki integritas tinggi dan paling profesional. Mengapa? Karena mereka tidak lagi bekerja atau beraktivitas di bawah hukum dunia yang sementara (tabur-tuai), mereka telah memasuki wilayah spiritual atau kekekalan dimana setiap kata dan tindakannya digerakkan oleh hukum cinta-kasih yang murni. Bila masyarakat Indonesia berlomba-lomba mempraktekkan hukum ini dalam seluruh aspek kehidupan, saya yakin bangsa ini akan menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain.
Sukses untuk Anda. Label: Misteri Ilahi 3 |