Misteri Ilahi (2/3)
Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah memberikan tanggapan positif serta masukan terhadap artikel sebelumnya. Pada artikel itu kita telah memikirkan empat pertanyaan Epicurus tentang kejahatan, penderitaan dan keberadaan Tuhan. Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut, kita telah merenungkan pesan dari kisah “tukang cukur” serta pengalaman wanita bernama Gretchen. Berdasarkan kisah hidup Gretchen itulah, pada akhir tulisan, saya mengajak kita mencari jawaban terhadap dua pertanyaan penting, yakni:
(1) Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan?
(2) Apakah ada sesuatu yang dapat kita jadikan pegangan atau jaminan bahwa hidup kita akan berjalan dan berakhir baik-baik saja?”
Sesungguhnya kedua pertanyaan di atas bukan sesuatu yang baru. Sudah sejak ribuan tahun silam manusia berusaha mencari jawaban. Dari hasil perenungan pribadi dan membaca berbagai referensi, saya sampai pada kesimpulkan akhir bahwa kedua pertanyaan itu hanya mungkin dijawab dengan ‘asumsi’ bahwa Tuhan ada. Saya menggunakan kata ‘asumsi’ karena tidak semua pembaca artikel ini percaya akan keberadaan Tuhan, ada juga dari kelompok agnostik maupun atheis (penjelasan terlampir)*.
Kesimpulan ini sama seperti kesimpulan seorang atheis bernama Bertrand Russel ketika ia berkata; “Sebelum Anda memikirkan tentang keberadaan Tuhan, pertanyaan Anda tentang tujuan hidup tidaklah berarti apa-apa.” Demikian halnya waktu kita berusaha memahami kehadiran dan kebaikan Tuhan di tengah penderitaan yang sedang kita alami, kita harus berangkat dari bingkai berpikir bahwa Tuhan ada. Tanpa pemahaman seperti itu kita akan selalu tiba pada jalan buntu.
Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan diatas adalah dengan dengan menampilkan pertanyaan baru, yakni: “Apa alasan seseorang menanyakan pertanyaan seperti itu?” Pertanyaan ini penting karena bila alasan yang mendasari sebuah pertanyaan adalah salah, maka jawaban apapun yang kita tampilkan juga pasti salah.
Oleh karena itu, kita akan melihat dua alasan utama yang membuat seseorang mempertanyakan dua pertanyaan diatas. Pada artikel kali ini kita akan membahas alasan pertama, yaitu berhubungan dengan pengertian atau definisi terhadap kata ‘penderitaan versus kebaikan’. Dan pada artikel berikutnya kita akan membahas alasan kedua, yaitu berhubungan dengan hukum tabur-tuai yang sudah umum dijadikan sebagai dasar kita berelasi dengan Tuhan. Sekarang, mari kita lihat alasan yang pertama secara mendetail.
Penderitaan Vs. Kebaikan Apa yang dimaksud dengan istilah ‘penderitaan’? Karena sering kali apa yang kita sebut penderitaan, ternyata sebuah kebaikan bagi kita. Sebaliknya apa yang kita sebut kebaikan, ternyata penderitaan yang belum terbuka kedoknya.
Kita sudah terbiasa beranggapan bahwa ‘kebaikan’ itu selalu muncul dalam bentuk kekayaan, kecantikan, kepandaian, kesehatan, ketenaran dan kekuasaan. Sebaliknya penderitaan selalu muncul dalam bentuk kesakitan, kemiskinan, dan kegagalan. Pikiran kita seperti sudah diprogram sedemikian rupa hingga secara otomatis kita menilai segala sesuatu berdasarkan pemahaman itu. Padahal apakah semua yang bernama ‘kekayaan’ selalu berakhir dengan ‘kebaikan’? Dan apakah semua yang bernama ‘kesakitan’ selalu berakhir dengan ‘penderitaan’? Kisah orang tua bijak berikut akan menolong kita memahami poin pertama ini:
Orang Tua Bijak
Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan kuda putih cantik itu karena kuda yang gagah, anggun dan kuat seperti itu belum pernah dilihat sebelumnya.
Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak : "Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat , bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?" Orang itu miskin tetapi ia tidak tergoda untuk menjual kuda putinya.
Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh", mereka mengejek dia: "Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda dikutuk oleh kemalangan".
Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan".
Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang bodoh; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul bodoh.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, Anda benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami".
Jawab orang itu: "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali membawa selusin kuda lain bersamanya, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan, apakah kalian dapat mengerti seluruh cerita? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu dan saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu".
"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.
Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. "Anda benar", kata mereka : "Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak ada siapa-siapa untuk membantumu... Sekarang Anda lebih miskin lagi."
Orang tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong".
Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. "Anda benar, orang tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".
Orang tua itu berbicara lagi: "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Tuhan yang tahu".
Pengalaman Pribadi
Saya yakin semua kita mempunyai pengalaman serupa dengan pak tua dalam kisah di atas. Dari pengalaman pribadi misalnya, saya dapat berbagi tiga kisah:
(a) Saya lahir di desa terpencil, tidak ada listrik dan tidak ada aspal. Ditingal ayah ketika masih usia baru sembilan bulan, sehingga saya kehilangan figur ayah. Tidak heran pada minggu-minggu pertama setelah menikah, saya sering lupa sekaligus merasa aneh kita memanggil mertua saya sebagai ’papa’. Saya tidak terbiasa. Tetapi semua kesulitan di masa kecil itu ternyata membawa saya kepada keberkahan hidup di hari ini. Sering kali saya mendapatkan umpan-balik (feedback) dari peserta seminar dan pembaca tulisan-tulisan saya, bahwa mereka mendapat banyak inspirasi oleh karena (menurut mereka) saya berbicara dan menulis dengan hati.
Tapi bagaimana seseorang dapat berbicara dan menulis dengan hati? Jelas, ia harus mengalami apa yang ia bicarakan dan ia tulis itu. Jadi tanpa penderitaan hidup yang pernah saya alami, saya tidak mungkin menjadi pribadi seperti saya ini. Dulu waktu sedang di tengah-tengah penderitaan itu, rasanya tidak ada satu alasanpun untuk bersyukur. Tetapi sekarang saya sangat bersyukur dengan perjuangan masa kecil itu. Bahkan, jujur saya katakan, seandaiya waktu dapat diputar dan Tuhan menawarkan kesempatan kepada saya untuk memilih orang-tua yang lebih kaya, papa yang berumur panjang, atau lahir di kota maju, saya tetap akan memilih kehidupan yang ada ini. Mengapa? Karena saya sudah mampu melihat mutiara indah di dengah penderitaan itu.
(b) Ketika saya sekolah di Melbourne, saya berpacaran dengan wanita Jepang bernama Sayaka. Ketika perasaan cinta saya sedang memuncak, sampai rela melakukan apa saja yang ia minta, ternyata ia meninggalkan saya. Pada hari minggu siang ia bertemu dengan pria Jepang, malam harinya ia minta berpisah dari saya. Segala cara (termasuk berdoa) saya coba untuk mendapatkannya kembali, tetapi hatinya bulat, ia ingin berpisah. Jelas, waktu itu saya sangat sedih, marah dan kecewa. Sebagai remaja yang baru belajar dewasa, kejadian seperti itu sungguh menyakitkan. Tetapi melihat ke belakang saya bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan perpisahan itu terjadi. Bila tidak, sudah pasti saya tidak sedang menulis kisah ini. Kemungkinan yang lain adalah sekolah saya gagal, masuk penjara atau bahkan mati over-dosis. Satu kerugian besar lain adalah hilangnya kesempatan saya menikahi Kim, istri yang begitu baik.
(c) Pada saat bekerja di salah satu perusahaan Konsultan di Kelapa Gading, saya memutuskan untuk keluar disebabkan oleh beberapa alasan. Anda yang pernah berhenti kerja atau kehilangan pekerjaan disaat Anda tidak memiliki tabungan untuk bertahan hidup, Anda mengerti tantangan yang saya hadapi waktu itu. Tapi sekarang saya bersyukur bahwa saya pernah memiliki keberanian seperti itu. Jika tidak, saya tidak akan pernah memulai langkah untuk menjalankan profesi yang saya senangi seperti saat ini. Apa yang dulu saya definisikan sebagai penderitaan, ternyata adalah kebaikan. Sebaliknya, ada banyak hal yang dulu saya definisikan sebagai kebaikan, ternyata berbuah penderitaan.
Penutup
“Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan?” Kita sudah lihat bahwa pertanyaan ini tumbul oleh karena kita salah mendefenisikan penderitaan versus kebaikan. Dan kesalahan ini bisa terjadi karena kita hanya terfokus pada potongan kecil dari keseluruhan gambaran besar hidup kita.
Seperti kita tidak akan membeli sebuah rumah hanya dengan melihat ruang dapurnya saja. Atau membeli sebuah mobil hanya dengan melihat ban depannya saja. Atau membeli buku hanya dengan membaca satu paragraf saja. Demikian juga kita tidak dapat menyimpulkan bahwa penderitaan yang tengah kita alami kini adalah kutukan yang membawa kita kepada kebinasaan.
Artinya, dalam banyak hal, kita tidak dapat menilai apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam dunia ini hanya dengan melihat sepotong cerita. Itu sebab, ketika kita sedang mengalami kesusahan bahkan malapetaka, mari kita tidak putus asa dan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, ketika hidup berjalan lancar atau di atas angin, mari kita tidak lupa daratan. Sampai jumpa pada artikel berikutnya (Misteri Ilahi 3), Sukses untuk Anda.
Lampiran
Agnostik adalah suatu paham filosofis yang mengatakan bahwa kebenaran dari sebuah klaim (Apakah Tuhan itu ada atau tidak), tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Artinya mereka menganggap bahwa keberadaan Tuhan itu tidak dapat dibuktikan dengan akal pikiran kita. Karena mereka berpendapat, bahwa sesuatu yang absolut, seperti Tuhan, mustahil dapat diverifikasi secara objektif (baca: tidak melibatkan iman).Agnostik tidak sinonim dengan Atheis. Sebab Atheir secara bulat dan satu suara sudah menyatakn bahwa Tuhan itu tidak ada. Dalam kalimat sederhana:
Atheis: “ Saya yakin Tuhan itu tidak ada.“Theis: “Saya yakin Tuhan itu ada.“Agnostik: “Saya tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak. Dan saya tidak terlalu pusing soal itu. Pokoknya saya mau jadi orang baik dan tidak merugikan orang lain. Itu saja sudah cukup.“ Label: Misteri Ilahi 2 |