Visitor


Guest Book
Links
oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools











Blog Directory - OnToplist.com

Free Automatic Backlink
Free Backlinks
TopOfBlogs
Review Our Site
Review eloyzalukhu.com on alexa.com

Facebook
Eloy Zalukhu

Create Your Badge
Selasa, 03 Februari 2009
Menata Prioritas

Dari sisi motivasi, kita perlu merenungkan salah satu pesan Dr. Randy Pausch, seorang profesor di bidang Ilmu Komputer, Interaksi Manusia dan Komputer dan Desain di Carnegie Melon University. Kisah hidupnya telah menyentuh dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia, baik melalui YouTube maupun melalui bukunya yang berjudul The Last Lecture. (Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh UfukPress).

Secara singkat, Dr. Pausch mengetahui bahwa dirinya terkena kanker pankreas sejak tahun 2006. Untuk mencegah penyebarannya ia telah menjalani serangkaian operasi. Namun operasi ini gagal melenyapkan sel kanker yang bersarang di tubuhnya. Hingga akhirnya, suatu hari pada Agustus 2007, diagnosa dokter menemukan bahwa kankernya gagal disembuhkan. Di pankreasnya telah tumbuh sepuluh buah tumor, yang tak lama lagi akan menyebar ke seluruh tubuh. Akhirnya, ia meninggal pada tanggal 25 Juli 2008 lalu, di usia masih 47 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak berusia 6,3 dan 2 tahun.

Sebagai seorang dosen, karier Dr. Pausch terbilang cemerlang. Ia memenangkan penghargaan sebagai guru dan peneliti. Ia juga dipercaya dalam mengembangkan software untuk banyak perusahaan besar seperti Walt Disney, Adobe, Google dan Electronic Arts. Ia bahkan menjadi satu dari 100 orang yang berpengaruh di dunia tahun 2007 versi majalah Time.

Mengapa kisah hidup Dr. Pausch begitu mengundang perhatian dunia? Karena ia adalah seorang yang sedang sekarat, namun dalam proses kematiannya itu ia tidak mengurung diri dan menangisi hidup. Sebaliknya, ia menjalankan hidup dengan semangat dan antusiasme. Ia memiliki sikap positif. Hal itu tercermin dari kalimat bijak yang pernah ia tuturkan yang berbunyi: “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya.”

Selain sikap positif, ia juga mengingatkan kita tentang beberapa prinsip hidup lainnya, seperti: jangan pernah mengeluh, selalu mengatakan hal yang benar, selalu mampu berterima-kasih dan bersyukur, selalu mampu meminta maaf dengan tulus, dan selalu bersabar dalam melihat kebaikan semua orang.

Namun diantara semua prinsip yang ia sampaikan itu, saya lebih tertarik pada sebuah kalimat lain yang ia ucapkan yang berbunyi: “Hanya waktu yang Anda miliki. Dan pada suatu hari Anda mungkin tersadar bahwa waktu yang Anda miliki lebih singkat dari yang Anda kira.”

Dari membaca buku The Last Lecture, saya mengetahui bahwa kalimat tersebut ia maksudkan untuk menjelaskan tentang pentingnya mengelola waktu dengan baik agar hidup kita bisa efektif dan efeisien. Namun ketika pertama kali membaca kalimat itu, imajinasi saya justru menangkap pesan lain yang jauh lebih penting untuk kita renungkan bersama.

Bagi saya, kalimat itu sesungguhnya mengingatkan tentang pentingnya menata ulang prioritas hidup kita sebagai manusia. Betul, waktu yang kita miliki singkat, jauh lebih singkat daripada yang kita bayangkan. Oleh karena itu kita perlu berhikmat agar dapat menjalani hidup yang singkat ini dengan kualitas terbaik. Mungkin sebagai langkah awal, kita dapat memulai dengan mengingat bahwa sesungguhnya makna dan kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh berapa tahun atau berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menjalankan hidup kita selama tahun-tahun tersebut.

Menerima Realita

Saya terinspirasi menulis tentang pentingnya “menata ulang prioritas hidup” karena menyaksikan realita hidup kita, khususnya di kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya, yang semakin keras. Tentu kita sepakat bahwa tantangan hidup yang kita hadapi sekarang tidak lebih mudah dibandingkan tantangan hidup yang dihadapi kakek-nenek kita dulu. Demikian pula tantangan yang akan dihadapi oleh cucu-cicit kita kelak, pasti jauh lebih berat daripada tantangan yang kita hadapi hari ini.

Betul informasi-teknologi terus berkembang dengan pesat. Betul juga bahwa perkembangan itu telah membuat hidup kita lebih mudah dan nyaman. Tetapi itu hanya satu sisi mata uang. Sisi yang lain dari mata uang yang sama adalah realita bahwa untuk mendapatkan atau memiliki semua kemudahan dan kenyamanan itu tidak ada satupun yang gratis. Maka, di dalam persaingan untuk mendapatkan yang tidak gratis itulah, kita menghadapi berbagai macam tantangan dan tekanan.

Realita lain tentang kehidupan kita sebagai manusia adalah natur bawaan yang cenderung hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Bahkan beberapa orang terbiasa serakah dan menghalkan segala cara. Di tengah ketiga realita hidup seperti inilah lahir berbagai bentuk strategi termasuk budaya sikut-menyikut. Akibatnya prioritas hidup kita sering kali tidak tepat sasaran.

Di satu sisi, persaingan yang membutuhkan strategi seperti itulah yang membuat hidup kita menjadi menarik dan serba dinamis. Tanpa itu kita akan menjalankan hidup yang monoton dan membosankan. Namun di sisi lain, hidup yang penuh intrik dan persaingan itu ternyata membawa kita ke dalam sebuah perangkap hidup yang terus berputar. Di dalam putaran itu, kita tidak boleh berhenti apalagi berdiam diri, karena keduanya berujung pada kematian.

Maka suka-tidak suka, mau-tidak mau, siap-tidak siap, kita harus terus bergerak. Bahkan semakin hari dunia menuntut kita untuk bergerak lebih cepat, lebih pandai, dan lebih akurat. Mengapa? Karena persaingan semakin ketat. Artinya, bila tahun ini Anda ingin meraih kesuksesan dalam jumlah yang sama seperti tahun lalu, maka tenaga yang Anda berikan harus lebih besar dari tahun lalu, karena tahun ini tantangan dan persaingan sudah jauh lebih tinggi. Maka bisa dibayangkan betapa besar tantangan yang akan kita hadapi pada tahun 2020 nanti.

Respon Kita

Lalau bagaimana respon kita? Apakah kita menyalahkan realita yang ada? Apakah kita menjadi takut dan menyerah? Tentu tidak! Karena bila kita mengelola diri dengan baik maka tantangan ini justru akan dapat mengeluarkan potensi terbaik kita. Karena itu kita harus terus berjuang dengan satu keyakinan dasar bahwa jika Tuhan memberikan kita kesempatan untuk mengunjungi sejarah, yaitu lahir dan hidup di tengah tantangan zaman ini, maka itu pasti karena Tuhan tahu, bahwa melalui bakat dan potensi yang Ia berikan, kita pasti mampu menghadapi realita ini dan bahkan mampu mengukir sejarah.

Namun demikian, kita perlu menata ulang prioritas hidup kita. Mengapa? Karena, ketika kita mulai memasuki perlombaan hidup yang terus berputar itu, entah karena keasyikan, kecanduan atau sekedar tuntutan pekerjaan, kita sering kali melupakan hal-hal penting lainnya, seperti kesehatan, keluarga, dan pertumbuhan spiritual kita.

Padahal tanpa hal-hal penting itu sebanyak apapun kekayaan yang kita miliki, kita tidak akan bisa menjadi pribadi yang utuh. Bahkan seorang bijak pernah berkata bahwa ada satu ruangan di dalam hati manusia dimana tidak ada satu pun yang dapat mengisi, kecuali Tuhan sendiri. Oleh karenanya, manusia dapat terus mencari cara untuk mengisi kekosongan itu, entah melalui penampilan, kuasa, uang, seks, narkoba, dan lain sebagainya, namun ia akan tetap merasa kosong. Selain dengan Tuhan, Anda boleh mencari ketenangan dengan berlibur keliling dunia, namun persaan kosong itu akan tetap ada disana.

Itu sebab, melalui tulisan ini saya bermaksud mengajak Anda untuk rehat sejenak dari segala bentuk aktivitas Anda. Setelah Anda membaca kisah di bawah ini, ambillah waktu untuk meneropong hidup Anda. Kemudian dari sana mulailah menata ulang prioritas hidup Anda. Ingat waktu kita singkat, bahkan lebih singkat dari apa yang kita bayangkan.

Sebuah Kisah

Dikisahkan, dahulu kala, di Sillicon Valley tinggallah seorang pria yang merupakan orang penting dan sibuk. Ia secara rutin menghabiskan 12 sampai 14 jam sehari di tempat kerjanya dan sering kali ia menggunakan akhir pekannya untuk bekerja. Ia meraih gelar MBA dan bergabung dengan organisasi profesional dan dewan direksi untuk memperluas koneksinya.

Ia mendengarkan pelajaran-pelajaran bisnis melalui CD player di dalam mobilnya dengan cara mempercepat suara pembacanya agar ia dapat menyelesaikan semuanya dalam waktu setengah kali lebih cepat dari waktu normal. Bahkan ketika ia tidak sedang bekerja, pikirannya melayang ke pekerjaanya sehingga itu tidak lagi menjadi sekedar pekerjaanya, namun menjadi keasyikan yang luar biasa.

Istrinya berusaha membuatnya lebih santai, mengingatkannya bahwa ia mempunyai keluarga. Pria ini tahu bahwa mereka tidak sedekat dulu, tetapi bagaimanapun, toh ia tidak menghabiskan waktu untuk mengeluyur, demikian pikirnya. Tampaknya sang istri hanya menginginkan waktu dari sang suami, dan itulah yang tidak dimiliki sang suami saat ini, karena semua waktunya telah habis terkuras untuk urusan pekerjaan.

Di tengah segala kesibukannya, pria ini tidak menyadari bahwa anak-anaknya sedang bertumbuh dan ia pun melewatkan keindahan itu. Dari waktu ke waktu anak-anaknya mengeluh bahwa ia tidak pernah membacakan buku lagi untuk mereka, melakukan berbagai permainan bersama, atau sekedar makan siang di akhir pekan. Namun, setelah beberapa saat mereka berhenti mengeluh, karena mereka berhenti berharap bahwa kehidupan keluarga mereka suatu saat nanti akan berubah.

“Aku akan bisa meluangkan waktu lebih banyak bagi mereka dalam enam bulan ke depan atau lebih”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.” Dan meskipun ia adalah seorang pria yang sangat cerdas, tampaknya ia tidak menyadari bahwa berbagai hal tidak akan pernah tenang dan teratur. Dan lagi, ia berkata pada dirinya sendiri saat ia merasa bersalah, “Toh, aku melakukan semua itu untuk mereka.”

Padahal, tentu saja hal ini sedikit pun tidak benar. Ia akan tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun ia tidak memiliki istri dan anak-anak. Nyatanya, ia tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun mereka memohon padanya untuk berubah. Namun karena mereka tidak keluar dari rumah dan tinggal di rumah kardus, karena mereka tinggal di rumah dan makan makanan serta mengenakan pakaian dan memainkan video game yang semuanya disediakan oleh uangnya, ia dapat mengatakan pada dirinya sendiri, “Aku melakukan semua itu untuk mereka.” Sayangnya tak seorang pun yang cukup mengenal dan mengasihinya yang memberitahunya tentang kebenaran ini.

Kesehatan & Spiritual

Pria ini tahu bahwa ia tidak cukup merawat tubuhnya. Dokternya mengatakan bahwa ia memiliki gejala-gejala yang cukup serius – tekanan darah naik, kolesterol tinggi – dan mengatakan padanya bahwa ia perlu berhenti mengkonsumsi twinkies (kue yang di dalamnya berisi krim) dan daging merah serta mulai berolahraga. Tetapi ia malah berhenti menemui dokternya. “Akan ada banyak waktu untuk melakukan hal itu”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Ia mengakui bahwa kehidupannya tidaklah seimbang. Istrinya mengingatkannya agar pergi beribadah – ada satu rumah ibadah di ujung jalan. Ia bermaksud pergi kesana, namun minggu pagi adalah satu-satunya waktu dimana ia dapat beristirahat. Ia bangga menjadi orang praktis yang hidup di dunia nyata dimana uanglah yang membuat seseorang memiliki nilai. “Lagi pula, aku bisa menjadi orang baik tanpa pergi ke rumah ibadah,” katanya pada diri sendiri. “Akan ada cukup waktu untuk hal seperti itu ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Meraih Kesuksesan

Waktu terus berlalu dan suatu hari kepala operasional perusahaanya datang menemuinya. “Kau pasti tidak percaya hal ini, bisnis kita meledak pesat sampai-sampai kita tidak dapat mengatasinya. Ini luar biasa. Ini adalah kesempatan emas kita, tetapi diperlukan perubahan besar-besaran. Permintaan datang begitu cepat sehingga persediaan kita tidak sebanding dengan permintaan. Kita memiliki data inventori yang payah dan software kita sudah ketinggalan zaman. Jika kita tidak mengontol setiap pekerjaan dari atas sampai ke bawah, semuanya akan berakhir sebagai bencana.”

Pria ini berpikir keras. Ia ingin menangkap peluang yang ada. Ia bertekad untuk membuat perusahaannya mengalami revolusi teknologi. Semuanya akan dibuat nirkabel – 24 jam / 7 hari akses bagi setiap orang, perintah secara umum akan diberikan melalui telepon yang menggunakan hands-free. Ia memikirkan motto perusahaan yang baru – “Kita hidup untuk ini!” – dan mencetaknya di atas semua benda.

Ini adalah satu kesempatan seumur hidup. Dan karena ketekunannya ia berhasil meraih target yang ia tetapkan. Ia sekarang selalu ada bagi setiap orang di seluruh dunia kecuali bagi mereka yang paling membutuhkannya, dan mereka yang paling ia butuhkan – istrinya, anak-anaknya, dirinya sendiri, teman-temannya, dan Tuhannya.

Malam itu ia berkata kepada istrinya, “Kamu menyadari apa artinya semua ini? Kita bisa santai. Masa depan kita terjamin – kita aman. Aku menguasai pasar; aku mengetahui setiap pokok persoalan dan dapat mengantisipasi setiap kemungkinan. Ini artinya kita memiliki keamanan finansial. Akhirnya, kita bisa pergi berlibur seperti yang pernah kau minta.” Istrinya menyimak semua kalimat itu namun ia telah mendengar hal yang sama sebelumnya. Ia telah belajar untuk tidak terlalu berharap karena takut kecewa untuk kesekian kalinya. Pada pukul 23:00 ia naik ke tempat tidur sendirian – seperti biasanya.

Istrinya terjaga pukul 03:00 pagi, dan sang suami tetap belum ada di sampingnya. Sang istri turun ke lantai bawah untuk menariknya ke kamar tidur dan mendapati sang suami tertidur di atas meja komputernya. “Ini menggelikan”, katanya pada dirinya sendiri. “Ini seperti menikahi seorang anak kecil”. Suaminya lebih memilih tertidur di depan komputer daripada pergi ke tempat tidur.

Sang istri menyentuh bahunya untuk membangunkannya, namun ia tidak merespons, dan kulitnya tetap dingin. Panik, ia merasakan sakit di perutnya saat ia menelepon 911. ketika paramedis sampai di sana, mereka mengatakan bahwa ia mengalami serangan jantung, dan telah meninggal beberapa jam yang lalu.

Akhir Kehidupan

Kematiannya menjadi cerita yang menghebohkan di komunitas keuangan. Berita kematiannya di tulis di majalah Forbes dan Wall Street Journal. Sayang sekali ia sudah meninggal, karena ia pasti akan sangat senang membaca apa yang mereka tulis tentang dia.

Lalu tibalah pada pemakaman. Karena ketenarannya, seluruh komunitas datang ke pemakamannya. Orang-orang mengelilingi peti jenazah dan memberikan komentar bodoh, sama seperti yang biasa diucapkan orang-orang di pemakaman, seperti, “Ia tampak begitu damai”. Padahal, jelas kekakuan mayat akan melakukan hal seperti itu.

Kematian adalah cara yang digunakan untuk mengatakan kepada kita untuk memperlambat ritme hidup kita. Orang-orang yang datang ke pemakaman mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang dilakukan orang-orang ketika seorang kaya meninggal, “Aku bertanya-tanya seberapa banyak harta yang ia tinggalkan?” Jelas, ia meninggalkan semuanya. Setiap orang selalu meninggalkan semuanya.

Orang-orang mulai memujinya. Kebanyakan mereka membicarakan mengenai prestasinya, karena sementara setiap orang mengenal tentang dia, tak seorang pun yang benar-benar mengenalinya.

“Ia adalah salah satu pengusaha terkemuka saat ini,” demikian kata salah seorang dari mereka. “Ia adalah inovator dalam bidang teknologi dan sistem pengiriman,” kata seorang yang lain. “Ia adalah pria yang berprinsip,” kata seorang yang lain lagi, “Ia tidak pernah menipu dalam membayar pajak.” Seorang pengagum lainnya memperhatikan prestasinya dalam bidang umum: “Ia adalah sokoguru dalam komunitas. Ia mengenal setiap orang. Orang ini adalah seorang yang gemar membangun jaringan.”

Kemudian, mereka membuat tugu peringatan dari batu pualam untuknya. Di atasnya mereka menuliskan kata-kata yang menginspirasi ini: Visioner, Inovator, Pemimpin, Pengusaha. Di bagian atasnya mereka menuliskan kata favorit pria ini, sebuah kata yang diberikan pria ini kepada jiwanya, yaitu: Sukses. Mereka meletakkan nisan pria ini, mengubur jasadnya, lalu pulang ke rumah mereka masing-masing.

Pada saat mulai larut malam dan tak seorang pun hadir untuk menyaksikan apa yang terjadi, malaikat Tuhan diutus ke makam ini. Tak terlihat dan tak terdengar, sang malaikat berjalan menyusuri makam-makam lainnya sampai ia tiba di nisan indah pria ini. Di sana sang malaikat menulis dengan satu jari, kata yang Tuhan pilih untuk menggambarkan kehidupan pria yang kaya, sibuk, dihormati, dan sukses ini, yaitu kata: Bodoh.

Tuhan berkata, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga nyawamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau kumpulkan, untuk siapakah itu nanti?” (Disarikan dari buku John Ortberg, “When the Games is Over, It all Goes Back in the Box”.)

Penutup

Pembaca dan para sahabat, jangan biarkan tulisan ini sekedar memberikan pencerahan sesaat. Tetapi wujudkanlah dalam bentuk tindakan. Mohon tanya, selama ini apa yang telah menjadi priotitas utama hidup Anda? Selama ini, sejujur-jujurnya, apa yang tengah Anda kejar? Menurut Anda, perlukan ada beberapa perubahan? Usul saya, sekarang ambil selembar kertas, atau bila sekarang waktu Anda tidak memungkinkan, lakukanlah sebelum Anda tidur nanti malam; tuliskan lima prioritas utama hidup Anda selama sisa tahun ini.

Kemudian, ceritakan komitmen baru Anda kepada orang-orang yang termasuk dalam prioritas utama Anda itu; mungkin istri atau suami, anak, orang-tua, rekan kerja? Buatlah mereka mengerti bahwa Anda tengah berubah. Percayalah perubahan kecil seperti ini akan melahirkan banyak perubahan positif lainnya, termasuk perubahan dalam diri orang-orang di sekitar Anda itu.

Bahkan bila Anda sungguh-sungguh dengan prioritas Anda yang baru tersebut, tempelkanlah di tembok ruangan tidur agar Anda dapat membacanya sebelum pergi bekerja dan sebelum Anda tidur di malam hari. Dengan itu komitmen baru ini akan masuk ke dalam otak bawah sadar Anda, sehingga tekanan dan tantangan yang telah kita bahas di atas tidak akan mudah mengoyahkannya.

Bila pasangan dan anak-anak Anda termasuk dalam prioritas utama itu (yang seharusnya termasuk, mungkin di urutan nomor dua), lakukanlah sesuatu saat ini. SMS atau teleponlah mereka. Bila mereka ada di samping Anda, peluklah mereka. Buatlah mereka mengerti betapa Anda menghargai dan mengasihi mereka. Ingat, waktu kita sangat singkat, bahkan lebih singkat dari apa yang dapat kita bayangkan.

Bila Anda adalah seorang anak yang mungkin sudah lama meninggalkan rumah, entah karena konflik keluarga atau sekedar mengikuti kebebasan seorang muda, mari, gunakanlah waktu ini untuk kembali ke rumah. Keluargamu merindukanmu. Atau kita sebagai anak di perantauan dan tulisan ini mengingatkan kita kepada orang tua di kota atau negara lain, hubungilah mereka melalui telepon atau email hari ini. Buatlah mereka mengerti betapa menghargai, mengasihi dan merindukan mereka.

Bila Anda seorang yang terlanjur menikmati hidup tanpa Tuhan, atau selama ini merasa diri mampu hidup baik tanpa perlu berelasi denganNya....maukah saat ini Anda berdiam diri sejenak, dan ijinkan saya bertanya: “Sampai kapankah Anda akan melakoni hidup seperti ini?” Ingat, waktu kita singkat, bahkan lebih singkat dari yang kita kira.

Selamat merenung dan selamat menata ulang prioritas hidup Anda.

Salam sukses!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 15.44  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Previous Post
Archives
About Me

Name: Eloy Zalukhu
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University.
See my complete profile
Network

BLOGGER

Live Traffic Feed