Visitor


Guest Book
Links
oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools











Blog Directory - OnToplist.com

Free Automatic Backlink
Free Backlinks
TopOfBlogs
Review Our Site
Review eloyzalukhu.com on alexa.com

Facebook
Eloy Zalukhu

Create Your Badge
Selasa, 03 Februari 2009
Menata Prioritas

Dari sisi motivasi, kita perlu merenungkan salah satu pesan Dr. Randy Pausch, seorang profesor di bidang Ilmu Komputer, Interaksi Manusia dan Komputer dan Desain di Carnegie Melon University. Kisah hidupnya telah menyentuh dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia, baik melalui YouTube maupun melalui bukunya yang berjudul The Last Lecture. (Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh UfukPress).

Secara singkat, Dr. Pausch mengetahui bahwa dirinya terkena kanker pankreas sejak tahun 2006. Untuk mencegah penyebarannya ia telah menjalani serangkaian operasi. Namun operasi ini gagal melenyapkan sel kanker yang bersarang di tubuhnya. Hingga akhirnya, suatu hari pada Agustus 2007, diagnosa dokter menemukan bahwa kankernya gagal disembuhkan. Di pankreasnya telah tumbuh sepuluh buah tumor, yang tak lama lagi akan menyebar ke seluruh tubuh. Akhirnya, ia meninggal pada tanggal 25 Juli 2008 lalu, di usia masih 47 tahun, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak berusia 6,3 dan 2 tahun.

Sebagai seorang dosen, karier Dr. Pausch terbilang cemerlang. Ia memenangkan penghargaan sebagai guru dan peneliti. Ia juga dipercaya dalam mengembangkan software untuk banyak perusahaan besar seperti Walt Disney, Adobe, Google dan Electronic Arts. Ia bahkan menjadi satu dari 100 orang yang berpengaruh di dunia tahun 2007 versi majalah Time.

Mengapa kisah hidup Dr. Pausch begitu mengundang perhatian dunia? Karena ia adalah seorang yang sedang sekarat, namun dalam proses kematiannya itu ia tidak mengurung diri dan menangisi hidup. Sebaliknya, ia menjalankan hidup dengan semangat dan antusiasme. Ia memiliki sikap positif. Hal itu tercermin dari kalimat bijak yang pernah ia tuturkan yang berbunyi: “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkannya.”

Selain sikap positif, ia juga mengingatkan kita tentang beberapa prinsip hidup lainnya, seperti: jangan pernah mengeluh, selalu mengatakan hal yang benar, selalu mampu berterima-kasih dan bersyukur, selalu mampu meminta maaf dengan tulus, dan selalu bersabar dalam melihat kebaikan semua orang.

Namun diantara semua prinsip yang ia sampaikan itu, saya lebih tertarik pada sebuah kalimat lain yang ia ucapkan yang berbunyi: “Hanya waktu yang Anda miliki. Dan pada suatu hari Anda mungkin tersadar bahwa waktu yang Anda miliki lebih singkat dari yang Anda kira.”

Dari membaca buku The Last Lecture, saya mengetahui bahwa kalimat tersebut ia maksudkan untuk menjelaskan tentang pentingnya mengelola waktu dengan baik agar hidup kita bisa efektif dan efeisien. Namun ketika pertama kali membaca kalimat itu, imajinasi saya justru menangkap pesan lain yang jauh lebih penting untuk kita renungkan bersama.

Bagi saya, kalimat itu sesungguhnya mengingatkan tentang pentingnya menata ulang prioritas hidup kita sebagai manusia. Betul, waktu yang kita miliki singkat, jauh lebih singkat daripada yang kita bayangkan. Oleh karena itu kita perlu berhikmat agar dapat menjalani hidup yang singkat ini dengan kualitas terbaik. Mungkin sebagai langkah awal, kita dapat memulai dengan mengingat bahwa sesungguhnya makna dan kualitas hidup kita tidak ditentukan oleh berapa tahun atau berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menjalankan hidup kita selama tahun-tahun tersebut.

Menerima Realita

Saya terinspirasi menulis tentang pentingnya “menata ulang prioritas hidup” karena menyaksikan realita hidup kita, khususnya di kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya, yang semakin keras. Tentu kita sepakat bahwa tantangan hidup yang kita hadapi sekarang tidak lebih mudah dibandingkan tantangan hidup yang dihadapi kakek-nenek kita dulu. Demikian pula tantangan yang akan dihadapi oleh cucu-cicit kita kelak, pasti jauh lebih berat daripada tantangan yang kita hadapi hari ini.

Betul informasi-teknologi terus berkembang dengan pesat. Betul juga bahwa perkembangan itu telah membuat hidup kita lebih mudah dan nyaman. Tetapi itu hanya satu sisi mata uang. Sisi yang lain dari mata uang yang sama adalah realita bahwa untuk mendapatkan atau memiliki semua kemudahan dan kenyamanan itu tidak ada satupun yang gratis. Maka, di dalam persaingan untuk mendapatkan yang tidak gratis itulah, kita menghadapi berbagai macam tantangan dan tekanan.

Realita lain tentang kehidupan kita sebagai manusia adalah natur bawaan yang cenderung hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Bahkan beberapa orang terbiasa serakah dan menghalkan segala cara. Di tengah ketiga realita hidup seperti inilah lahir berbagai bentuk strategi termasuk budaya sikut-menyikut. Akibatnya prioritas hidup kita sering kali tidak tepat sasaran.

Di satu sisi, persaingan yang membutuhkan strategi seperti itulah yang membuat hidup kita menjadi menarik dan serba dinamis. Tanpa itu kita akan menjalankan hidup yang monoton dan membosankan. Namun di sisi lain, hidup yang penuh intrik dan persaingan itu ternyata membawa kita ke dalam sebuah perangkap hidup yang terus berputar. Di dalam putaran itu, kita tidak boleh berhenti apalagi berdiam diri, karena keduanya berujung pada kematian.

Maka suka-tidak suka, mau-tidak mau, siap-tidak siap, kita harus terus bergerak. Bahkan semakin hari dunia menuntut kita untuk bergerak lebih cepat, lebih pandai, dan lebih akurat. Mengapa? Karena persaingan semakin ketat. Artinya, bila tahun ini Anda ingin meraih kesuksesan dalam jumlah yang sama seperti tahun lalu, maka tenaga yang Anda berikan harus lebih besar dari tahun lalu, karena tahun ini tantangan dan persaingan sudah jauh lebih tinggi. Maka bisa dibayangkan betapa besar tantangan yang akan kita hadapi pada tahun 2020 nanti.

Respon Kita

Lalau bagaimana respon kita? Apakah kita menyalahkan realita yang ada? Apakah kita menjadi takut dan menyerah? Tentu tidak! Karena bila kita mengelola diri dengan baik maka tantangan ini justru akan dapat mengeluarkan potensi terbaik kita. Karena itu kita harus terus berjuang dengan satu keyakinan dasar bahwa jika Tuhan memberikan kita kesempatan untuk mengunjungi sejarah, yaitu lahir dan hidup di tengah tantangan zaman ini, maka itu pasti karena Tuhan tahu, bahwa melalui bakat dan potensi yang Ia berikan, kita pasti mampu menghadapi realita ini dan bahkan mampu mengukir sejarah.

Namun demikian, kita perlu menata ulang prioritas hidup kita. Mengapa? Karena, ketika kita mulai memasuki perlombaan hidup yang terus berputar itu, entah karena keasyikan, kecanduan atau sekedar tuntutan pekerjaan, kita sering kali melupakan hal-hal penting lainnya, seperti kesehatan, keluarga, dan pertumbuhan spiritual kita.

Padahal tanpa hal-hal penting itu sebanyak apapun kekayaan yang kita miliki, kita tidak akan bisa menjadi pribadi yang utuh. Bahkan seorang bijak pernah berkata bahwa ada satu ruangan di dalam hati manusia dimana tidak ada satu pun yang dapat mengisi, kecuali Tuhan sendiri. Oleh karenanya, manusia dapat terus mencari cara untuk mengisi kekosongan itu, entah melalui penampilan, kuasa, uang, seks, narkoba, dan lain sebagainya, namun ia akan tetap merasa kosong. Selain dengan Tuhan, Anda boleh mencari ketenangan dengan berlibur keliling dunia, namun persaan kosong itu akan tetap ada disana.

Itu sebab, melalui tulisan ini saya bermaksud mengajak Anda untuk rehat sejenak dari segala bentuk aktivitas Anda. Setelah Anda membaca kisah di bawah ini, ambillah waktu untuk meneropong hidup Anda. Kemudian dari sana mulailah menata ulang prioritas hidup Anda. Ingat waktu kita singkat, bahkan lebih singkat dari apa yang kita bayangkan.

Sebuah Kisah

Dikisahkan, dahulu kala, di Sillicon Valley tinggallah seorang pria yang merupakan orang penting dan sibuk. Ia secara rutin menghabiskan 12 sampai 14 jam sehari di tempat kerjanya dan sering kali ia menggunakan akhir pekannya untuk bekerja. Ia meraih gelar MBA dan bergabung dengan organisasi profesional dan dewan direksi untuk memperluas koneksinya.

Ia mendengarkan pelajaran-pelajaran bisnis melalui CD player di dalam mobilnya dengan cara mempercepat suara pembacanya agar ia dapat menyelesaikan semuanya dalam waktu setengah kali lebih cepat dari waktu normal. Bahkan ketika ia tidak sedang bekerja, pikirannya melayang ke pekerjaanya sehingga itu tidak lagi menjadi sekedar pekerjaanya, namun menjadi keasyikan yang luar biasa.

Istrinya berusaha membuatnya lebih santai, mengingatkannya bahwa ia mempunyai keluarga. Pria ini tahu bahwa mereka tidak sedekat dulu, tetapi bagaimanapun, toh ia tidak menghabiskan waktu untuk mengeluyur, demikian pikirnya. Tampaknya sang istri hanya menginginkan waktu dari sang suami, dan itulah yang tidak dimiliki sang suami saat ini, karena semua waktunya telah habis terkuras untuk urusan pekerjaan.

Di tengah segala kesibukannya, pria ini tidak menyadari bahwa anak-anaknya sedang bertumbuh dan ia pun melewatkan keindahan itu. Dari waktu ke waktu anak-anaknya mengeluh bahwa ia tidak pernah membacakan buku lagi untuk mereka, melakukan berbagai permainan bersama, atau sekedar makan siang di akhir pekan. Namun, setelah beberapa saat mereka berhenti mengeluh, karena mereka berhenti berharap bahwa kehidupan keluarga mereka suatu saat nanti akan berubah.

“Aku akan bisa meluangkan waktu lebih banyak bagi mereka dalam enam bulan ke depan atau lebih”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.” Dan meskipun ia adalah seorang pria yang sangat cerdas, tampaknya ia tidak menyadari bahwa berbagai hal tidak akan pernah tenang dan teratur. Dan lagi, ia berkata pada dirinya sendiri saat ia merasa bersalah, “Toh, aku melakukan semua itu untuk mereka.”

Padahal, tentu saja hal ini sedikit pun tidak benar. Ia akan tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun ia tidak memiliki istri dan anak-anak. Nyatanya, ia tetap menjalani kehidupan seperti ini bahkan sekalipun mereka memohon padanya untuk berubah. Namun karena mereka tidak keluar dari rumah dan tinggal di rumah kardus, karena mereka tinggal di rumah dan makan makanan serta mengenakan pakaian dan memainkan video game yang semuanya disediakan oleh uangnya, ia dapat mengatakan pada dirinya sendiri, “Aku melakukan semua itu untuk mereka.” Sayangnya tak seorang pun yang cukup mengenal dan mengasihinya yang memberitahunya tentang kebenaran ini.

Kesehatan & Spiritual

Pria ini tahu bahwa ia tidak cukup merawat tubuhnya. Dokternya mengatakan bahwa ia memiliki gejala-gejala yang cukup serius – tekanan darah naik, kolesterol tinggi – dan mengatakan padanya bahwa ia perlu berhenti mengkonsumsi twinkies (kue yang di dalamnya berisi krim) dan daging merah serta mulai berolahraga. Tetapi ia malah berhenti menemui dokternya. “Akan ada banyak waktu untuk melakukan hal itu”, katanya pada diri sendiri, “ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Ia mengakui bahwa kehidupannya tidaklah seimbang. Istrinya mengingatkannya agar pergi beribadah – ada satu rumah ibadah di ujung jalan. Ia bermaksud pergi kesana, namun minggu pagi adalah satu-satunya waktu dimana ia dapat beristirahat. Ia bangga menjadi orang praktis yang hidup di dunia nyata dimana uanglah yang membuat seseorang memiliki nilai. “Lagi pula, aku bisa menjadi orang baik tanpa pergi ke rumah ibadah,” katanya pada diri sendiri. “Akan ada cukup waktu untuk hal seperti itu ketika segala sesuatunya sudah tenang dan teratur.”

Meraih Kesuksesan

Waktu terus berlalu dan suatu hari kepala operasional perusahaanya datang menemuinya. “Kau pasti tidak percaya hal ini, bisnis kita meledak pesat sampai-sampai kita tidak dapat mengatasinya. Ini luar biasa. Ini adalah kesempatan emas kita, tetapi diperlukan perubahan besar-besaran. Permintaan datang begitu cepat sehingga persediaan kita tidak sebanding dengan permintaan. Kita memiliki data inventori yang payah dan software kita sudah ketinggalan zaman. Jika kita tidak mengontol setiap pekerjaan dari atas sampai ke bawah, semuanya akan berakhir sebagai bencana.”

Pria ini berpikir keras. Ia ingin menangkap peluang yang ada. Ia bertekad untuk membuat perusahaannya mengalami revolusi teknologi. Semuanya akan dibuat nirkabel – 24 jam / 7 hari akses bagi setiap orang, perintah secara umum akan diberikan melalui telepon yang menggunakan hands-free. Ia memikirkan motto perusahaan yang baru – “Kita hidup untuk ini!” – dan mencetaknya di atas semua benda.

Ini adalah satu kesempatan seumur hidup. Dan karena ketekunannya ia berhasil meraih target yang ia tetapkan. Ia sekarang selalu ada bagi setiap orang di seluruh dunia kecuali bagi mereka yang paling membutuhkannya, dan mereka yang paling ia butuhkan – istrinya, anak-anaknya, dirinya sendiri, teman-temannya, dan Tuhannya.

Malam itu ia berkata kepada istrinya, “Kamu menyadari apa artinya semua ini? Kita bisa santai. Masa depan kita terjamin – kita aman. Aku menguasai pasar; aku mengetahui setiap pokok persoalan dan dapat mengantisipasi setiap kemungkinan. Ini artinya kita memiliki keamanan finansial. Akhirnya, kita bisa pergi berlibur seperti yang pernah kau minta.” Istrinya menyimak semua kalimat itu namun ia telah mendengar hal yang sama sebelumnya. Ia telah belajar untuk tidak terlalu berharap karena takut kecewa untuk kesekian kalinya. Pada pukul 23:00 ia naik ke tempat tidur sendirian – seperti biasanya.

Istrinya terjaga pukul 03:00 pagi, dan sang suami tetap belum ada di sampingnya. Sang istri turun ke lantai bawah untuk menariknya ke kamar tidur dan mendapati sang suami tertidur di atas meja komputernya. “Ini menggelikan”, katanya pada dirinya sendiri. “Ini seperti menikahi seorang anak kecil”. Suaminya lebih memilih tertidur di depan komputer daripada pergi ke tempat tidur.

Sang istri menyentuh bahunya untuk membangunkannya, namun ia tidak merespons, dan kulitnya tetap dingin. Panik, ia merasakan sakit di perutnya saat ia menelepon 911. ketika paramedis sampai di sana, mereka mengatakan bahwa ia mengalami serangan jantung, dan telah meninggal beberapa jam yang lalu.

Akhir Kehidupan

Kematiannya menjadi cerita yang menghebohkan di komunitas keuangan. Berita kematiannya di tulis di majalah Forbes dan Wall Street Journal. Sayang sekali ia sudah meninggal, karena ia pasti akan sangat senang membaca apa yang mereka tulis tentang dia.

Lalu tibalah pada pemakaman. Karena ketenarannya, seluruh komunitas datang ke pemakamannya. Orang-orang mengelilingi peti jenazah dan memberikan komentar bodoh, sama seperti yang biasa diucapkan orang-orang di pemakaman, seperti, “Ia tampak begitu damai”. Padahal, jelas kekakuan mayat akan melakukan hal seperti itu.

Kematian adalah cara yang digunakan untuk mengatakan kepada kita untuk memperlambat ritme hidup kita. Orang-orang yang datang ke pemakaman mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang dilakukan orang-orang ketika seorang kaya meninggal, “Aku bertanya-tanya seberapa banyak harta yang ia tinggalkan?” Jelas, ia meninggalkan semuanya. Setiap orang selalu meninggalkan semuanya.

Orang-orang mulai memujinya. Kebanyakan mereka membicarakan mengenai prestasinya, karena sementara setiap orang mengenal tentang dia, tak seorang pun yang benar-benar mengenalinya.

“Ia adalah salah satu pengusaha terkemuka saat ini,” demikian kata salah seorang dari mereka. “Ia adalah inovator dalam bidang teknologi dan sistem pengiriman,” kata seorang yang lain. “Ia adalah pria yang berprinsip,” kata seorang yang lain lagi, “Ia tidak pernah menipu dalam membayar pajak.” Seorang pengagum lainnya memperhatikan prestasinya dalam bidang umum: “Ia adalah sokoguru dalam komunitas. Ia mengenal setiap orang. Orang ini adalah seorang yang gemar membangun jaringan.”

Kemudian, mereka membuat tugu peringatan dari batu pualam untuknya. Di atasnya mereka menuliskan kata-kata yang menginspirasi ini: Visioner, Inovator, Pemimpin, Pengusaha. Di bagian atasnya mereka menuliskan kata favorit pria ini, sebuah kata yang diberikan pria ini kepada jiwanya, yaitu: Sukses. Mereka meletakkan nisan pria ini, mengubur jasadnya, lalu pulang ke rumah mereka masing-masing.

Pada saat mulai larut malam dan tak seorang pun hadir untuk menyaksikan apa yang terjadi, malaikat Tuhan diutus ke makam ini. Tak terlihat dan tak terdengar, sang malaikat berjalan menyusuri makam-makam lainnya sampai ia tiba di nisan indah pria ini. Di sana sang malaikat menulis dengan satu jari, kata yang Tuhan pilih untuk menggambarkan kehidupan pria yang kaya, sibuk, dihormati, dan sukses ini, yaitu kata: Bodoh.

Tuhan berkata, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga nyawamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau kumpulkan, untuk siapakah itu nanti?” (Disarikan dari buku John Ortberg, “When the Games is Over, It all Goes Back in the Box”.)

Penutup

Pembaca dan para sahabat, jangan biarkan tulisan ini sekedar memberikan pencerahan sesaat. Tetapi wujudkanlah dalam bentuk tindakan. Mohon tanya, selama ini apa yang telah menjadi priotitas utama hidup Anda? Selama ini, sejujur-jujurnya, apa yang tengah Anda kejar? Menurut Anda, perlukan ada beberapa perubahan? Usul saya, sekarang ambil selembar kertas, atau bila sekarang waktu Anda tidak memungkinkan, lakukanlah sebelum Anda tidur nanti malam; tuliskan lima prioritas utama hidup Anda selama sisa tahun ini.

Kemudian, ceritakan komitmen baru Anda kepada orang-orang yang termasuk dalam prioritas utama Anda itu; mungkin istri atau suami, anak, orang-tua, rekan kerja? Buatlah mereka mengerti bahwa Anda tengah berubah. Percayalah perubahan kecil seperti ini akan melahirkan banyak perubahan positif lainnya, termasuk perubahan dalam diri orang-orang di sekitar Anda itu.

Bahkan bila Anda sungguh-sungguh dengan prioritas Anda yang baru tersebut, tempelkanlah di tembok ruangan tidur agar Anda dapat membacanya sebelum pergi bekerja dan sebelum Anda tidur di malam hari. Dengan itu komitmen baru ini akan masuk ke dalam otak bawah sadar Anda, sehingga tekanan dan tantangan yang telah kita bahas di atas tidak akan mudah mengoyahkannya.

Bila pasangan dan anak-anak Anda termasuk dalam prioritas utama itu (yang seharusnya termasuk, mungkin di urutan nomor dua), lakukanlah sesuatu saat ini. SMS atau teleponlah mereka. Bila mereka ada di samping Anda, peluklah mereka. Buatlah mereka mengerti betapa Anda menghargai dan mengasihi mereka. Ingat, waktu kita sangat singkat, bahkan lebih singkat dari apa yang dapat kita bayangkan.

Bila Anda adalah seorang anak yang mungkin sudah lama meninggalkan rumah, entah karena konflik keluarga atau sekedar mengikuti kebebasan seorang muda, mari, gunakanlah waktu ini untuk kembali ke rumah. Keluargamu merindukanmu. Atau kita sebagai anak di perantauan dan tulisan ini mengingatkan kita kepada orang tua di kota atau negara lain, hubungilah mereka melalui telepon atau email hari ini. Buatlah mereka mengerti betapa menghargai, mengasihi dan merindukan mereka.

Bila Anda seorang yang terlanjur menikmati hidup tanpa Tuhan, atau selama ini merasa diri mampu hidup baik tanpa perlu berelasi denganNya....maukah saat ini Anda berdiam diri sejenak, dan ijinkan saya bertanya: “Sampai kapankah Anda akan melakoni hidup seperti ini?” Ingat, waktu kita singkat, bahkan lebih singkat dari yang kita kira.

Selamat merenung dan selamat menata ulang prioritas hidup Anda.

Salam sukses!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 15.44   0 comments
Misteri Ilahi (3/3)

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas alasan pertama mengapa seseorang mempertanyakan kehadiran Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang di tengah kesulitan hidup yang tengah dialami. Alasan tersebut berhubungan dengan kesalahan di dalam kita mendefinisikan penderitaan versus kebaikan. Oleh karena itu, pada artikel sebelumnya (baca Misteri Ilahi 2), kita telah diingatkan supaya ketika kita sedang mengalami penderitaan, mari kita tidak putus asa apalagi menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, ketika hidup berjalan lancar dan kita seakan menari di atas angin, mari kita tidak lupa daratan.

Sekarang kita akan lihat alasan yang kedua, yaitu berhubungan dengan hukum tabur-tuai.

Seorang orator dan filsuf ternama, Marcus T. Cicero, pernah berkata; “Sebagaimana Anda telah menabur, demikian pula Anda akan menuai”. Artinya adalah, bila Anda ingin tubuh yang sehat (tuai) maka rajin-rajinlah berolah-raga (tabur). Bila Anda ingin naik jabatan (tuai) maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya (tanam). Bila Anda ingin keluarga yang bahagia (tuai) maka relakanlah sifat buruk Anda dipotong sampai ke akar-akarnya (tabur).

Atau bila Anda adalah seorang agen Asuransi, dan Anda ingin meraih target jalan-jalan ke luar negeri (tuai), maka tekunlah dalam mencari prospek sebanyak-banyaknya (tanam). Sebaliknya bila Anda terbiasa pasif dan malas dalam bekerja (tabur), maka kemiskinan akan menjadi teman Anda selamanya (tuai). Kisah di bawah ini akan menolong kita untuk lebih memahami hukum tabur-tuai yang tengah kita bahas.

Dua Orang Pendaki

Dikisahkan tentang dua orang pendaki yang sedang mengarungi badai salju di pegunungan Himalaya. Mereka berjalan dengan susah payah karena udara yang sangat dingin hingga terasa sampai ke sumsum tulang.

Di tengah perjalanan mereka menemukan seorang laki-laki yang tergeletak di pinggir jalan. Karena kasihan melihat keadaan orang itu, pendaki yang pertama berkata kepada temannya, "Orang ini masih hidup. Kasihan sekali kalau dia dibiarkan tergeletak di sini, dia pasti akan mati, mari kita tolong dia." Tapi temannya menjawab, "Bagaimana kita bisa menolongnya kalau membawa diri sendiri saja sudah sangat susah di tengah badai seperti ini. Kalau kamu ingin membawanya, silahkan, tapi aku tidak akan menolongmu."

Maka orang yang pertama dengan sangat susah payah memanggul tubuh orang yang tak berdaya itu sedangkan temannya lebih dulu melanjutkan perjalanan sendirian. Pendaki yang baik hati itu memang pada awalnya merasa perjalanannya sangat berat karena beratnya tubuh orang yang dipanggulnya itu. Tetapi lama kelamaan ia tidak terlalu merasa kedinginan lagi karena kehangatan tubuh orang yang dipanggulnya itu juga menjalar ke tubuhnya. Maka perlahan-lahan, ia terus berjalan.

Setelah berjalan sekian jauh, ia melihat satu orang lain yang tergeletak di pinggir jalan. Pada saat ia memperhatikan lebih dekat orang itu sudah meninggal dunia. Ternyata orang itu adalah teman seperjalanannya tadi.

Manfaat Hukum Tabur-Tuai

Kisah di atas menggambarkan bagaimana pendaki pertama menabur kebaikan dan hasilnya adalah selamat dari badai salju. Sebaliknya, pendaki yang kedua menabur dalam egoisme yang tinggi dan hasilnya adalah kematian. Setiap kita pasti memiliki pengalaman berkaitan dengan hukum tabur-tuai ini. Sebuah hukum yang tidak terbantahkan keberadaannya.

Namun berbicara tentang hukum tabur-tuai, nasihat Cicero di atas bukan yang pertama atau satu-satunya. Konsep yang sama dapat dengan mudah kita temukan dalam semua Kitab Suci dan aliran kepercayaan yang ada. Kita diajar bahwa jika kita ingin menuai hidup yang lancar, sukses dan bahagia, maka kita berbuat baik kepada Tuhan dengan cara melakukan ajaran-ajaranNya. Sebaliknya, jika kita gagal menabur kebaikan, maka Tuhan akan menimpakan kutukan dan menghambat rencana masa depan kita.

Dari satu sisi, konsep hukum ini tentu saja bermanfaat. Kita dapat menyaksikan jutaan orang setiap hari, di berbagai belahan dunia, berusaha menjaga kelakuannya bersih, dengan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untuk kehidupan di dunia yang sementara ini, tetapi juga sebagai bekal di dunia yang akan datang (kekal).

Kita juga dapat melihat, dengan adanya hukum tabur-tuai tidak terhitung berapa banyak kejahatan yang batal dilakukan oleh seorang manusia, karena rasa takut pada amarah Tuhan terhadap dirinya. Tidak terbayang betapa rusaknya dunia ini bila setiap orang dapat berbuat apapun yang diinginkan hatinya, tanpa rasa takut pada tuain buruk yang akan dihadapi. Tanpa hukum tabur-tuai kita akan hidup dalam hukum rimba, dimana hanya yang paling kuat yang bertahan hidup.

Naik Kelas

Dari penjelasan di atas kita dapat lihat betapa pentingnya dan bermanfaatnya hukum tabur-tuai, khusunya dalam menjaga agar dunia tidak binasa sebelum waktu yang sudah ditetapkan oleh Pencipta. Tanpa hukum tabur-tuai kita akan mudah menyaksikan pohon mangga berbuah durian dan domba melahirkan anak singa. Suatu dunia yang tidak teratur dan kacau balau.

Namun, sebaik-baiknya dan seperlu-perlunya hukum tabur-tuai, di dalam kita berelasi dengan Tuhan, kita harus naik kelas. Bila kita tetap di kelas yang sama maka kita akan terus bergumul dengan pertanyaan di awal, yang selalu mempertanyakan kehadiran dan kebaikan Tuhan.

Pertanyaan seperti itu muncul karena cara pandang bahwa kalau saya percaya pada Tuhan, hidup saleh dan amal baik, maka sudah sepantasnya Tuhan menolong saya. Bila sebaliknya yang saya dapatkan, yaitu kesulitan atau penyakit, maka rasa keadilan saya terganggu. Karena cara pandang seperti inilah maka kita sering mendengar orang berkata “Tuhan tidak adil”. Kesimpulan seperti itu membuat kita kecewa dan meninggalkan Tuhan di saat kita sangat membutuhkanNya.

Mengapa rasa kecewa bisa kita rasakan? Karena realita yang ada tidak sesuai dengan harapan kita. Maksudnya, dengan hukum tabur-tuai, ketika saya sedang sakit dan ingin disembuhkan, caranya mudah saja, tinggal minta ampun dan berbuat baik kepada Tuhan, dan penyakit saya akan disembuhkan.

Tetapi realitanya hidup tidak sesederhana hukum tabur-tuai. Sering kali kita tidak mampu memahami kejadian yang kita alami. Di tengah kebahagiaan bisa saja kesusahan datang tanpa diundang dan tanpa penjelasan. Meminjam bahasa Kahlil Gibran, “Ketika kita bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan.”

Bahaya Hukum Tabur-Tuai

Di atas kita sudah membahas manfaat hukum tabur-tuai tetapi sekarang kita perlu melihat empat bahaya yang akan terjadi bila hukum tersebut kita jadikan satu-satunya dasar dalam kita berelasi dengan Tuhan. Setelah memahami keempat bahaya ini saya berharap, apapun agama dan ajaran yang kita anut, kita mau naik kelas di dalam perjalanan spiritualitas kita.

Bahaya yang pertama adalah, dengan memakai contoh tentang sakit di atas, setelah kita meminta ampun dan berbuat baik kepada Tuhan, ternyata masih belum sembuh juga, kita akan bertanya, “apa salah saya?” Kemudian kita berusaha untuk semakin tekun berbuat baik, berdoa, berpuasa dan mendekatkan diri kita kepada Sang Khalik. Tapi tetap saja kita tidak sembuh juga. Di titik ini kita akan beralih menjadi kecewa pada Tuhan dan akhirnya kita meninggalkan Tuhan pada waktu kita sedang sungguh-sungguh membutuhkan pertolonganNya.

Bahaya kedua, kita dapat mengambil kesimpulan yang salah. Maksudnya, bila kesehatan saya baik, keluarga sehat, karir saya maju, kekayaan saya bertambah dan cita-cita saya tercapai, dapat saya simpulkan bahwa hidup saya berkenan kepada Tuhan – padahal sebenarnya saya sedang banyak berbuat salah dan dosa.

Hal berbahaya karena sering kali, oleh banyaknya salah dan dosa itulah saya memasuki hukum pembiaran Tuhan, yaitu situasi dimana Tuhan membiarkan saya hidup sesuai yang saya kehendaki. Keadaan ini dapat diumpamakan seperti saya diberikan mobil mewah dengan kecepatan super. Suatu hari saya mengemudi di jalan tol dalam kecepatan tertinggi. Pada saat menurunkan kecepatan di sebuah belokan, ternyata tidak bisa. Mengapa? Karena mobil mewah itu ternyata tidak dilengkapi dengan sebuah rem. Akibatnya fatal, maut menjemput.

Demikianlah hidup seseorang yang sedang dibiarkan oleh Tuhan, semua berjalan bebas tanpa hambatan, namun sesungguhnya kebebasan itu adalah jalan kita menuju kematian. Artinya bagi kita yang tengah melakoni hidup yang bertentangan dengan Tuhan saat ini, dan semua serasa berjalan baik-baik saja, jangan senang apalagi menjadi sombong. Sebaliknya, awaslah karena mungkin saja Anda sedang memasuki hukum pembiaran Tuhan. Usul saya segeralah bertobat, mumpung belum terlambat.

Bahaya yang ketiga adalah sulit bersyukur kepada Tuhan karena saya merasa semua kebaikan, berkat dan kelancaran yang saya terima adalah hasil kerja keras saya. Bahkan kelak ketika saya berhasil masuk surga, saya tidak akan bersyukur dan bersujud di hadapan Tuhan secara tulus karena surga yang saya dapatkan itu tidak lain adalah tuaian dari apa yang pernah saya tabur selama di dunia. Bahkan, dapat terjadi, bila ternyata surga tidak seindah yang saya bayangkan, maka saya akan memarahi Tuhan.

Bahaya keempat adalah bahwa sesungguhnya dalam hukum tabur-tuai, yang berperan sebagai Tuhan adalah manusia. Mengapa? Karena perbuatan dan kelakuan kita yang akan menentukan bagaimana Tuhan bertindak atas hidup kita. Dia hanya sekedar meresponi apa yang kita lakukan – jika saya baik, Dia akan baik pada saya. Jika saya jahat Dia akan hukum saya. Dalam hal ini, Tuhan bersifat reaktif, bukan penentu kehidupan umatNya.


Padahal bukankah Tuhan seharusnya lebih berkuasa daripada manusia? Bukankah pikiran Tuhan lebih tinggi daripada pikiran kita? Bukankah rancangan Tuhan lebih dalam daripada rancangan kita? Dan karena Tuhan Maha-besar dan Maha-kuasa, selayaknya kita tunduk di bawah perintah dan kedaulatannya. Bukan sebaliknya.


Cinta Kasih


Oleh karena keempat bahaya di atas, saya mengajak kita untuk naik kelas dalam kehidupan spiritual kita. Apapun agama dan kepercayaan kita, mulai hari ini, mari kita belajar untuk berelasi dengan Tuhan berdasarkan hukum cinta-kasih yang murni, dan bukan lagi dengan sekedar hukum tabur-tuai.


Di bawah hukum cinta-kasih yang murni, kita tidak lagi datang kepada Tuhan dalam doa, atau hidup saleh dan berbuat baik karena tujuan mendapatkan ”ini dan itu” (baca: kekayaan, kesehatan, keberhasilan, bahkan surga). Kita datang kepadaNya atas dasar cinta-kasih yang murni, karena sebuah kesadaran bahwa kalau hari ini saya masih bernafas, semua semata-mata karena Tuhan.


Dengan kerendahan hati, kita mengakui bahwa nafas ini bisa saja Tuhan cabut tadi malam. Maka bila hari ini saya masih dapat bekerja, saya mau bekerja untuk Tuhan. Sesungguhnya inilah dasar dari konsep ’kerja adalah ibadah’. Konsep ’kerja adalah ibadah’ adalah dasar dari ’kualitas kerja tertinggi’. Dan ’kualitas kerja tertinggi’ adalah dasar dari kesuksesan dan kebahagiaan sejati.


Jadi kita bisa lihat, sesungguhnya konsep spiritual yang baik bukan membuat manusia menjadi pasif atau tidak relevan dengan dunia kerja. Sebaliknya, orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik semestinya adalah pekerja, pengusaha, dan pemimpin yang paling rajin, memiliki integritas tinggi dan paling profesional. Mengapa? Karena mereka tidak lagi bekerja atau beraktivitas di bawah hukum dunia yang sementara (tabur-tuai), mereka telah memasuki wilayah spiritual atau kekekalan dimana setiap kata dan tindakannya digerakkan oleh hukum cinta-kasih yang murni. Bila masyarakat Indonesia berlomba-lomba mempraktekkan hukum ini dalam seluruh aspek kehidupan, saya yakin bangsa ini akan menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain.

Sukses untuk Anda.

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 15.41   0 comments
Misteri Ilahi (2/3)

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah memberikan tanggapan positif serta masukan terhadap artikel sebelumnya. Pada artikel itu kita telah memikirkan empat pertanyaan Epicurus tentang kejahatan, penderitaan dan keberadaan Tuhan. Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut, kita telah merenungkan pesan dari kisah “tukang cukur” serta pengalaman wanita bernama Gretchen. Berdasarkan kisah hidup Gretchen itulah, pada akhir tulisan, saya mengajak kita mencari jawaban terhadap dua pertanyaan penting, yakni:

(1) Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan?

(2) Apakah ada sesuatu yang dapat kita jadikan pegangan atau jaminan bahwa hidup kita akan berjalan dan berakhir baik-baik saja?”

Sesungguhnya kedua pertanyaan di atas bukan sesuatu yang baru. Sudah sejak ribuan tahun silam manusia berusaha mencari jawaban. Dari hasil perenungan pribadi dan membaca berbagai referensi, saya sampai pada kesimpulkan akhir bahwa kedua pertanyaan itu hanya mungkin dijawab dengan ‘asumsi’ bahwa Tuhan ada. Saya menggunakan kata ‘asumsi’ karena tidak semua pembaca artikel ini percaya akan keberadaan Tuhan, ada juga dari kelompok agnostik maupun atheis (penjelasan terlampir)*.

Kesimpulan ini sama seperti kesimpulan seorang atheis bernama Bertrand Russel ketika ia berkata; “Sebelum Anda memikirkan tentang keberadaan Tuhan, pertanyaan Anda tentang tujuan hidup tidaklah berarti apa-apa.” Demikian halnya waktu kita berusaha memahami kehadiran dan kebaikan Tuhan di tengah penderitaan yang sedang kita alami, kita harus berangkat dari bingkai berpikir bahwa Tuhan ada. Tanpa pemahaman seperti itu kita akan selalu tiba pada jalan buntu.

Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan diatas adalah dengan dengan menampilkan pertanyaan baru, yakni: “Apa alasan seseorang menanyakan pertanyaan seperti itu?” Pertanyaan ini penting karena bila alasan yang mendasari sebuah pertanyaan adalah salah, maka jawaban apapun yang kita tampilkan juga pasti salah.

Oleh karena itu, kita akan melihat dua alasan utama yang membuat seseorang mempertanyakan dua pertanyaan diatas. Pada artikel kali ini kita akan membahas alasan pertama, yaitu berhubungan dengan pengertian atau definisi terhadap kata ‘penderitaan versus kebaikan’. Dan pada artikel berikutnya kita akan membahas alasan kedua, yaitu berhubungan dengan hukum tabur-tuai yang sudah umum dijadikan sebagai dasar kita berelasi dengan Tuhan. Sekarang, mari kita lihat alasan yang pertama secara mendetail.

Penderitaan Vs. Kebaikan

Apa yang dimaksud dengan istilah ‘penderitaan’? Karena sering kali apa yang kita sebut penderitaan, ternyata sebuah kebaikan bagi kita. Sebaliknya apa yang kita sebut kebaikan, ternyata penderitaan yang belum terbuka kedoknya.

Kita sudah terbiasa beranggapan bahwa ‘kebaikan’ itu selalu muncul dalam bentuk kekayaan, kecantikan, kepandaian, kesehatan, ketenaran dan kekuasaan. Sebaliknya penderitaan selalu muncul dalam bentuk kesakitan, kemiskinan, dan kegagalan. Pikiran kita seperti sudah diprogram sedemikian rupa hingga secara otomatis kita menilai segala sesuatu berdasarkan pemahaman itu. Padahal apakah semua yang bernama ‘kekayaan’ selalu berakhir dengan ‘kebaikan’? Dan apakah semua yang bernama ‘kesakitan’ selalu berakhir dengan ‘penderitaan’? Kisah orang tua bijak berikut akan menolong kita memahami poin pertama ini:


Orang Tua Bijak


Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan kuda putih cantik itu karena kuda yang gagah, anggun dan kuat seperti itu belum pernah dilihat sebelumnya.


Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak : "Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat , bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat?" Orang itu miskin tetapi ia tidak tergoda untuk menjual kuda putinya.


Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh", mereka mengejek dia: "Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana mungkin Anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya Anda menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan Anda dikutuk oleh kemalangan".


Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan".


Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"


Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang bodoh; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul bodoh.


Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, Anda benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami".


Jawab orang itu: "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah kembali membawa selusin kuda lain bersamanya, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana Anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan, apakah kalian dapat mengerti seluruh cerita? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang Anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu dan saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu".


"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.


Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. "Anda benar", kata mereka : "Anda sudah buktikan bahwa Anda benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tua Anda tidak ada siapa-siapa untuk membantumu... Sekarang Anda lebih miskin lagi."


Orang tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong".


Maka terjadilah dua minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali. "Anda benar, orang tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, Anda benar. Ini buktinya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".


Orang tua itu berbicara lagi: "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Tuhan yang tahu".


Pengalaman Pribadi


Saya yakin semua kita mempunyai pengalaman serupa dengan pak tua dalam kisah di atas. Dari pengalaman pribadi misalnya, saya dapat berbagi tiga kisah:


(a) Saya lahir di desa terpencil, tidak ada listrik dan tidak ada aspal. Ditingal ayah ketika masih usia baru sembilan bulan, sehingga saya kehilangan figur ayah. Tidak heran pada minggu-minggu pertama setelah menikah, saya sering lupa sekaligus merasa aneh kita memanggil mertua saya sebagai ’papa’. Saya tidak terbiasa. Tetapi semua kesulitan di masa kecil itu ternyata membawa saya kepada keberkahan hidup di hari ini. Sering kali saya mendapatkan umpan-balik (feedback) dari peserta seminar dan pembaca tulisan-tulisan saya, bahwa mereka mendapat banyak inspirasi oleh karena (menurut mereka) saya berbicara dan menulis dengan hati.


Tapi bagaimana seseorang dapat berbicara dan menulis dengan hati? Jelas, ia harus mengalami apa yang ia bicarakan dan ia tulis itu. Jadi tanpa penderitaan hidup yang pernah saya alami, saya tidak mungkin menjadi pribadi seperti saya ini. Dulu waktu sedang di tengah-tengah penderitaan itu, rasanya tidak ada satu alasanpun untuk bersyukur. Tetapi sekarang saya sangat bersyukur dengan perjuangan masa kecil itu. Bahkan, jujur saya katakan, seandaiya waktu dapat diputar dan Tuhan menawarkan kesempatan kepada saya untuk memilih orang-tua yang lebih kaya, papa yang berumur panjang, atau lahir di kota maju, saya tetap akan memilih kehidupan yang ada ini. Mengapa? Karena saya sudah mampu melihat mutiara indah di dengah penderitaan itu.


(b) Ketika saya sekolah di Melbourne, saya berpacaran dengan wanita Jepang bernama Sayaka. Ketika perasaan cinta saya sedang memuncak, sampai rela melakukan apa saja yang ia minta, ternyata ia meninggalkan saya. Pada hari minggu siang ia bertemu dengan pria Jepang, malam harinya ia minta berpisah dari saya. Segala cara (termasuk berdoa) saya coba untuk mendapatkannya kembali, tetapi hatinya bulat, ia ingin berpisah. Jelas, waktu itu saya sangat sedih, marah dan kecewa. Sebagai remaja yang baru belajar dewasa, kejadian seperti itu sungguh menyakitkan. Tetapi melihat ke belakang saya bersyukur bahwa Tuhan mengijinkan perpisahan itu terjadi. Bila tidak, sudah pasti saya tidak sedang menulis kisah ini. Kemungkinan yang lain adalah sekolah saya gagal, masuk penjara atau bahkan mati over-dosis. Satu kerugian besar lain adalah hilangnya kesempatan saya menikahi Kim, istri yang begitu baik.


(c) Pada saat bekerja di salah satu perusahaan Konsultan di Kelapa Gading, saya memutuskan untuk keluar disebabkan oleh beberapa alasan. Anda yang pernah berhenti kerja atau kehilangan pekerjaan disaat Anda tidak memiliki tabungan untuk bertahan hidup, Anda mengerti tantangan yang saya hadapi waktu itu. Tapi sekarang saya bersyukur bahwa saya pernah memiliki keberanian seperti itu. Jika tidak, saya tidak akan pernah memulai langkah untuk menjalankan profesi yang saya senangi seperti saat ini. Apa yang dulu saya definisikan sebagai penderitaan, ternyata adalah kebaikan. Sebaliknya, ada banyak hal yang dulu saya definisikan sebagai kebaikan, ternyata berbuah penderitaan.


Penutup

“Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan?” Kita sudah lihat bahwa pertanyaan ini tumbul oleh karena kita salah mendefenisikan penderitaan versus kebaikan. Dan kesalahan ini bisa terjadi karena kita hanya terfokus pada potongan kecil dari keseluruhan gambaran besar hidup kita.


Seperti kita tidak akan membeli sebuah rumah hanya dengan melihat ruang dapurnya saja. Atau membeli sebuah mobil hanya dengan melihat ban depannya saja. Atau membeli buku hanya dengan membaca satu paragraf saja. Demikian juga kita tidak dapat menyimpulkan bahwa penderitaan yang tengah kita alami kini adalah kutukan yang membawa kita kepada kebinasaan.

Artinya, dalam banyak hal, kita tidak dapat menilai apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam dunia ini hanya dengan melihat sepotong cerita. Itu sebab, ketika kita sedang mengalami kesusahan bahkan malapetaka, mari kita tidak putus asa dan menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, ketika hidup berjalan lancar atau di atas angin, mari kita tidak lupa daratan.
Sampai jumpa pada artikel berikutnya (Misteri Ilahi 3), Sukses untuk Anda.

Lampiran

Agnostik adalah suatu paham filosofis yang mengatakan bahwa kebenaran dari sebuah klaim (Apakah Tuhan itu ada atau tidak), tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Artinya mereka menganggap bahwa keberadaan Tuhan itu tidak dapat dibuktikan dengan akal pikiran kita. Karena mereka berpendapat, bahwa sesuatu yang absolut, seperti Tuhan, mustahil dapat diverifikasi secara objektif (baca: tidak melibatkan iman).Agnostik tidak sinonim dengan Atheis. Sebab Atheir secara bulat dan satu suara sudah menyatakn bahwa Tuhan itu tidak ada. Dalam kalimat sederhana:

Atheis: “ Saya yakin Tuhan itu tidak ada.“Theis: “Saya yakin Tuhan itu ada.“Agnostik: “Saya tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak. Dan saya tidak terlalu pusing soal itu. Pokoknya saya mau jadi orang baik dan tidak merugikan orang lain. Itu saja sudah cukup.“

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 15.33   0 comments
Previous Post
Archives
About Me

Name: Eloy Zalukhu
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University.
See my complete profile
Network

BLOGGER

Live Traffic Feed