Visitor


Guest Book
Links
oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools











Blog Directory - OnToplist.com

Free Automatic Backlink
Free Backlinks
TopOfBlogs
Review Our Site
Review eloyzalukhu.com on alexa.com

Facebook
Eloy Zalukhu

Create Your Badge
Selasa, 06 Januari 2009
Tentang Disiplin Diri
TENTANG DISIPLIN DIRI

Eloy Zalukhu
Director Frontline
Motivator & Business Trainer


Selamat Tahun Baru 2009.

Di Afrika, setiap pagi singa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa atau ia akan mati kelaparan. Setiap pagi pula, rusa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa atau ia akan mati dimangsa.

Sementara singa dan rusa memperjuangkan hidup di Afrika, disini kita pun sama. Bedanya adalah perjuangan singa dan rusa sebatas isi perut saja, perjuangan kita adalah demi kesuksesan tanpa batas. Demi meraih kesuksesan itu, sama seperti awal tahun sebelumnya, kita membuat janji dan rencana tentang hal-hal yang akan kita lakukan sepanjang tahun ini.

Tetapi bila kita melihat ke belakang, sepertinya ada banyak janji dan rencana kita yang tidak menjadi kenyataan. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tetapi hidup kita tidak mengalami kemajuan berarti. Kertas yang kita pakai untuk menuliskan sejumlah rencana dan janji itu ternyata sudah lama tercecer entah dimana. Atau kalaupun ada kemajuan, ternyata hati kecil kita terus berkata bahwa sesungguhnya kita masih jauh dari apa yang sepatutnya dapat kita raih. Artinya potensi terbaik kita masih belum diberdayakan secara maksimal.

Tentu kita tidak ingin tahun ini berakhir dalam kesalahan yang sama. Kita menginginkan hidup yang lebih baik. Kita bosan terus menjadi orang yang serba kekurangan. Kita malu menjalani hidup yang tidak memberi manfaat apa-apa bagi sesama. Kita ingin kehidupan keluarga yang lebih bahagia. Dan kita marah karena kita terus menerus jatuh dalam kesalahan yang sama.

Iya, saya harap Anda marah terhadap apapun yang menghambat Anda meraih kehidupan terbaik. Marahlah, marah sampai Anda mendengar jiwa Anda berteriak keras: “Cukup! Sudah cukup! Aku mau berubah!” Hanya setelah Anda mendengar teriakan itu, Anda dapat mengharapkan hidup yang lebih baik. Berangkat dari teriakan itulah, sekarang mari kita bicara tentang disiplin-diri, sebagai pintu kita menuju kesuksesan dan kebahagiaan sejati – (ingat bahwa kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan banyaknya uang. Baca tulisan saya berjudul “Definisi Sukses,” di www.eloy-zalukhu.com)

Apa itu Disiplin-Diri?

Disiplin diri adalah kemampuan untuk membuat diri Anda melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu (yang memang perlu Anda lakukan demi meraih suatu kesuksesan), secara khusus pada saat Anda tidak suka untuk melakukan pekerjaan tersebut. Definisi ini penting untuk dipahami dengan sungguh-sungguh, karena itu saya usulkan agar Anda membacanya berulang kali secara perlahan sampai berhasil menghafalkannya.

Pada umumnya kita cenderung memilih melakukan pekerjaan sebatas yang kita suka saja dan menghindari kegiatan yang membuat kita tidak nyaman. Bila kita jujur, kecenderungan semacam ini sering kita lakukan, bahkan termasuk dalam hal menyelesaikan suatu pekerjaan yang sudah jelas akan membuat hidup kita menjadi lebih baik pada akhirnya. Mengapa? Karena kita semua terlahir dengan natur atau sifat yang cenderung “merangkul kenikmatan dan menolak penderitaan.”

Sebagai contoh, mengapa Mr. X selalu merokok setelah makan? Karena ia berpikir bahwa merokok setelah makan memberi kenikmatan. Tetapi ketika Mr. X jatuh sakit lalu dokter memberi peringatan terakhir bahwa Ia akan mati dalam satu tahun bila tidak berhenti merokok, apa yang terjadi? Jika Mr. X terhitung orang yang masih normal ia pasti akan berhenti merokok. Mengapa? Karena sekarang bagi Mr. X rokok setelah makan tidak lagi diasosiasikan sebagai “kenikmatan” melainkan “penderitaan” yakni kematian yang mengenaskan.

Contoh lain, perhatikan usulan saya agar Anda membaca ulang dan menghafalkan definisi disiplin–diri di atas. Apakah Anda melakukannya? Selamat bagi Anda yang melakukan. Tapi saya yakin banyak yang tidak melakukan karena itu sudah menjadi natur kita. Bila Anda adalah salah satunya, sesungguhnya Anda baru saja mencontohkan kecenderungan kita yang merangkul kenikmatan dan menolak penderitaan. Dalam hal ini, pada dasarnya kita semua sama. Kita selalu lebih memilih yang mudah, menyenangkan dan serba instan.

Mohon perhatikan poin penting berikut ini:

Ketika saya berkata “kita semua” memiliki kecenderungan atau natur yang sama, artinya termasuk orang-orang sukses yang sering kita saksikan di layar kaca atau membaca di majalah bergengsi. Sebutlah nama seperti Bill Gates, Warren Buffet, Ronaldo, Rafael Nadal, Kobe Bryant, Tiger Woods, Tom Cruise, atau Barack Obama yang kita sebut hebat itu. Mereka semua sama seperti kita.

Pada dasarnya mereka ingin tidur lebih dari empat jam per hari. Ada waktunya ketika Ronaldo malas pergi latihan. Ada saatnya Kobe Bryant hanya ingin santai di depan televisi sambil menikmati pizza atau makanan kesukaannya. Tetapi mereka berusaha mengalahkan semua kecenderungan itu dan pergi bekerja atau berlatih.

Lalu kita bertanya, mengapa mereka bangun subuh, pergi bekerja dan berlatih kalau mereka tidak suka? Jawabannya sederhana, karena mereka semua sadar bahwa untuk meraih kesuksesan seperti yang mereka capai saat ini ada harga yang harus mereka bayar – harga itu bernama disiplin diri. Orang sukses adalah orang yang berhasil membuat dirinya melakukan suatu pekerjaan pada saat ia tidak suka melakukannya. Tanpa disiplin diri, seorang yang terlahir jenius sekalipun tidak akan mencapai sesuatu yang berarti dalam hidupnya.

Mengapa Penting?

Tulisan ini bermaksud mengingatkan dan membangunkan kita untuk mulai berubah. Cobalah kita renungkan berapa banyak kerugian yang telah kita alami yang disebabkan oleh ketidak-disiplinan diri kita. Dari segi karir, coba bayangkan posisi, jabatan dan kondisi keuangan Anda saat ini bila dalam lima tahun terakhir Anda berhasil membuat diri Anda mengerjakan hal-hal yang perlu Anda kerjakan di kantor, sekalipun Anda tidak suka atau malas mengerjakannya.

Dari segi pendidikan, coba bayangkan tingkat kesuksesan Anda hari ini bila sewaktu sekolah dulu Anda belajar baik-baik. Berbicara tentang bidang pendidikan, secara jujur saya akui saya bukan contoh yang baik. Sewaktu SMA dulu, saya sempat salah arah dan ikut arus. Akibatnya saya harus menghabiskan lima tahun untuk menyelesaikan jenjang SMA; empat tahun di Jakarta dan satu tahun di Melbourne.
Tetapi saya bersyukur karena pada bulan September 1997 saya menemukan jalan pulang ke jalan yang benar dan arah hidup sayapun berubah. Ada beberapa teman yang keterusan, mereka tidak menemukan titik balik, sekolah mereka berantakan, bahkan ada yang terjangkit penyakit yang sulit disembuhkan. Sungguh suatu kenyataan hidup yang sangat menyedihkan.

Coba Anda bayangkan juga kerugian yang pernah Anda derita dalam hal hubungan. Mungkin ada hubungan yang rusak dengan suami, istri, anak-anak, orang-tua, saudara, sahabat, teman, kekasih, atasan, atau hubungan dengan rekan kerja. Pikirkan, kira-kira apa hasilnya bila dulu Anda berhasil mendisiplinkan atau menguasai diri untuk tetap mencintai pasangan Anda yang rewel dan menyebalkan itu. Baiklah, saya tahu, hal ini lebih mudah bicara daripada praktek. Tetapi maksud saya, bahwa banyak orang yang berhasil menjalaninya dengan baik, berarti ada harapan bahwa Anda dan saya pun bisa, sekalipun mungkin harus melalui perjuangan berat.

Daftar kerugian yang telah kita derita sebagai akibat dari tidak disiplinnya diri kita bisa berlanjut sampai puluhan segi lainnya. Tetapi intinya adalah marilah kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan di masa lalu kita jadikan pelajaran, sekarang kita fokus untuk memperbaiki masa depan agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali, atau setidaknya berhasil dikurangi.

Bagaimana Membangun Disiplin Diri?

Setelah semua bahasan di atas, sekarang kita berdiskusi tentang cara atau kiat membangun disiplin diri. Untuk menjelaskan poin ini, kita perlu mengenal beberapa alasan yang membuat seseorang tidak memiliki disiplin diri yang memadai. Berangkat dari pengalaman pribadi, saya mencatat dua faktor utama; pertama adalah godaan untuk meraih kenikmataan dalam jangka pendek (instan), dan kedua adalah hilangnya visi atau gambaran-besar tentang masa depan.

1. Kenikmatan jangka pendek

Di atas kita sudah membahas tentang kecenderungan manusia untuk “merangkul kenikmatan dan menolak kesulitan.” Tetapi bila kita teliti lebih dalam lagi, kita menemukan bahwa ternyata manusia memiliki kecenderungan lain yaitu “keinginan untuk mendapatkan kenikmatan pada saat ini, tanpa menunggu.”

Artinya, banyak dari kita yang lebih terfokus pada kenikmatan jangka pendek, dan berjuang sekeras-kerasnya agar terhindar dari penantian yang terlalu lama. Kita manusia yang tidak sabar menunggu. Kita tidak suka menjalani proses. Kita ingin semuanya serba cepat. Kita ingin kesuksesan instan. Bila perlu kita mencari jalan potong. Kita semua manusia yang pada dasarnya tidak suka disiplin-diri.

2. Hilangnya visi atau gambaran-besar tentang masa depan

Mentalitas jangka pendek seperti yang kita bahas di atas menjadikan kita orang-orang yang gagal melihat masa depan. Bagaimana hal ini berhubungan dengan disiplin diri? Begini, Anda akan menemukan bahwa orang-orang sukses, baik dalam bidang penjulan, olah-raga, politik atau profesi lainnya, semua memiliki kebiasaan untuk berpikir dalam “frame jangka panjang.”

Maksudnya, orang-orang sukses terlatih mendisiplinkan diri dalam membuat target untuk dicapai dalam kurun waktu tertentu. Kemudian mereka membawa diri ke masa depan dengan cara mem-visualisasikan target yang telah dibuat tersebut, seolah-olah telah tercapai atau menjadi kenyataan.

Dalam imajinasi mereka, semua respon positif orang-orang terhadap keberhasilan pencapain target itu, baik dalam bentuk imbalan materi, penghargaan, kata-kata maupun perlakuan khusus, semua dapat mereka rasakan. Mereka bahkan dapat merasakan emosi kebahagiaan serta kepuasan batin dari semua kesuksesan tersebut. Bayangan dan imaginasi itu memacu serta memotivasi mereka untuk meraih cita-cita sekalipun harus melewati lorong gelap yang sangat panjang.

Sebagai contoh, saya ingat ketika saya bekerja di sebuah Cafe di Melbourne. Pada waktu musim dingin, jam 5.30 pagi saya harus sampai di tempat untuk menyapu dan mengepel lantai. Setelah itu saya keluarkan meja serta kursi untuk diletakkan di depan cafe dan di halaman gedung. Baru kemudian saya mengeluarkan beberapa heater (alat pemanas) yang besarnya lebih tinggi dari badan saya. Pada saat jam kantor tiba, orang-orang mulai datang untuk membeli kopi dan saya melayani mereka. Pada waktu tamu mulai sepi pada jam 10 pagi atau jam 3 sore, saya membuang sampah atau membantu mencuci piring.

Jujur saja itu bukan pekerjaan yang menyenangkan. Ada kalanya saya begitu lelah dan ingin segera pulang untuk beristirahat. Tetapi saya sadar itu bukan pilihan tepat karena saya butuh uang untuk membayar tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Lalu apa yang membuat saya terus bertahan, bahkan mampu bekerja dengan senyuman? Jawabannya persis seperti konsep visualisasi di atas.

Bagini, saat itu saya sering berdialog dengan diri saya sendiri. Saya selalu membayangkan bahwa suatu hari kelak saya akan menjadi orang sukses. Saya membayangkan foto saya menghiasi koran-koran ibukota, memuat tulisan-tulisan saya dan memuat kisah hidup saya yang menginspirasi banyak orang.

Pada saat saya melihat tamu sedang duduk menikmati Cappucino sambil membaca koran, seolah-olah saya bisa melihat foto saya terpampang di halaman koran itu. Saya sampai mampu mem-visualisasikan tamu tersebut begitu antusias membaca setiap kalimat dari tulisan saya. Tangan sibuk membuat kopi, mulut sibuk menyapa tamu, tetapi hati dan pikiran saya terpaku pada koran itu. Saya menembus waktu dan ruang, saya melihat Eloy masa depan.

Karena Cafe tersebut terletak di gedung perkantoran, saya sempat merasa rendah-diri melayani para tamu berdasi, memakai jas serta wanita-wanita cantik dengan aroma parfum yang sangat mahal. Tetapi saya ingat, setiap kali merasa minder saya berkata pada diri sendiri; “waktunya akan tiba ketika saya seperti mereka, bahkan lebih. Saat ini saya melayani dengan gaji AUS$12.00/jam, tetapi kelak mereka akan menyaksikan Eloy yang sama sekali berbeda.”

Itulah salah satu pengalaman saya tentang kekuatan visualisasi atau gambaran masa depan. Memang sampai saat ini saya belum dimuat di koran manapun, tetapi harapan dan gambaran besar itu terus memacu saya untuk terus melangkah maju. Apakah kelak wajah dan tulisan saya berhasil menghiasi media ibukota, saya tidak tahu. Tetapi saya tahu satu hal, bahwa visi, harapan dan gambaran besar itu terus memacu langkah saya untuk terus berkarya.

Penutup

Bagaimana dengan Anda? Apakah saat ini Anda sedang menjalani hidup yang tidak menyenangkan? Apakah Anda sedang diminta menyelesaikan suatu pekerjaan baru dan itu mengganggu kenyamanan Anda? Usulan saya, jalani dan kerjakanlah dengan senyuman serta kebesaran jiwa.

Sebagai contoh, mungkin saat ini Anda menumpang di rumah mertua atau tinggal di rumah kecil sehingga Anda merasa sering direndahkan. Saran saya, sabarlah. Bayangkan rumah indah Anda lima tahun ke depan sebagai hasil keringat dan jerih payah Anda. Ingat, semua orang memulai dari satu titik, dan seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya: “Tidak penting bagaimana titik awal ketika Anda memulai perjuangan menuju kesuksesan, yang terpenting adalah bagaimana titik akhirnya.” Maka pastikan, pada akhirnya kelak Anda tampil sebagai pemenang.

Kesimpulannya adalah tanpa disiplin diri, orang yang terlahir jenius sekalipun tidak akan meraih sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Karena itu, pastikan Anda melatih diri mulai saat ini dan mulai dari hal-hal kecil. Mungkin sekedar tidur satu jam lebih awal dari biasanya agar Anda dapat bangun lebih pagi untuk berolah-raga? Mungkin sekedar menjaga kemuliaan kata-kata yang keluar dari mulut ini agar tidak melukai hati orang lain? Atau mungkin sekedar menjaga diri agar tidak terus-menerus tergoda membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak diperlukan? Rasanya poin terakhir ini penting agar budaya materialisme dapat dihentikan.

Bila Anda seorang tenaga penjual, bagaimana bila mulai hari ini Anda komitmen untuk tidak makan siang sebelum berhasil menelpon sejumlah prospek yang Anda targetkan? Bila Anda seorang istri, bagaimana bila Anda mendisiplinkan diri untuk menyambut suami pulang, dengan senyuman dan kasih sayang, sekalipun harus menunggu hingga larut malam?

Bila Anda seorang suami, bagaimna bila setiap hari minggu Anda komitmen memberikan waktu untuk istri dan anak-anak? Intinya adalah, pikirkan satu hal, sesuatu yang kecil dan sederhana saja, lalu disiplinkan diri Anda untuk melakukannya selama dua minggu ke depan, lalu perhatikan bagaimana hasilnya.

Sebagai penutup, untuk membangun disiplin-diri, ingat tiga hal berikut ini:

Pertama, kalahkan kecenderungan untuk menolak kesulitan. Ingat bahwa kesulitan dan penderitaan adalah guru para juara. Termasuk dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini – baik sebagai individu, organisasi maupun sebagai bangsa mari kita hadapi dengan keyakinan dan kebesaran jiwa. Kesulitan ini berguna untuk melahirkan manusia unggul dan para pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah kebutuhan mendesak bangsa ini. Akankah kita menjadi salah seorang diantaranya?

Kedua, kalahkan kecenderungan untuk berfokus pada kenikmatan jangka pendek (sesaat). Ingat kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak pernah datang dalam semalam. Kesuksesan dan kebahagiaan yang bertahan lama selalu menuntut harga untuk dibayar – harga itu bernama disiplin-diri. Bayarlah harga kesuksesan Anda, mulai dari sekarang. Waktunya akan tiba ketika Anda mulai menikmati buahnya.

Ketiga, kalahkan kecenderungan hidup tanpa visi atau tanpa gambaran masa depan. Latih diri Anda untuk mem-visualisasikan diri Anda lima atau sepuluh tahun ke depan. Bila Anda seorang manager sebuah perusahaan, dapatkah Anda melihat diri Anda beranjak naik menjadi CEO of the year? Bila Anda seorang pengusaha muda, dapatkah Anda melihat sepuluh ribu orang bekerja di perusahaan Anda?

Saat ini, saya sedang melihat diri berdiri di hadapan tiga ribu orang, tengah mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut ini. Saya dapat merasakan semangat dan antusiasme mereka. Mata mereka menyinarkan harapan baru. Sepertinya, hati mereka telah disentuh, hidup mereka diubahkan. Mereka mendapat pencerahan, mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Saat ini, saya sedang melihat jutaan orang memegang buku hasil karya saya. Mereka membaca di cafe, busway, halte, ruang tunggu, dalam pesawat, sekolah, kampus, dan di ruang tidur. Saya melihat, setiap pembaca tersenyum seperti hati mereka telah disentuh, hidup mereka diubahkan. Mereka mendapat pencerahan, mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.

Ketika tengah membayangkan semua ini, hati saya diam-diam memanjatkan doa: “Tuhan, bagaimanakah orang seperti saya ini mampu mencapai semua itu? Bagaimana mungkin saya mampu menyentuh hati manusia lain, apalagi mengubahkannya? Kumohon ya Tuhan, tolonglah saya mengubah diri sendiri lebih dulu. Ya, sungguh hanya Engkau yang mampu mengubah hati manusia. Kami ini sesungguhnya hanyalah alat di tanganMu.”

Saya mendengar seseorang bertanya; “Jadi, apakah semua visi, harapan dan bayangan indah itu akan terwujud?” Saya menjawab; “Sangat mungkin!”. Tetapi, apa yang akan terjadi satu menit ke depan saya tidak tahu. Hanya satu hal yang saya tahu – bahwa visi, harapan dan bayangan itu terus memberi saya kekuatan untuk belajar mendisplinkan diri dan terus bergerak maju. Saya hanya merindukan satu hal, ketika kelak Tuhan memanggil saya pulang, IA menemukan saya sedang melakukan yang terbaik.” Bagaimana dengan Anda?

Selamat menjalani tahun 2009, sukses untuk Anda.

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 10.53  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Previous Post
Archives
About Me

Name: Eloy Zalukhu
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University.
See my complete profile
Network

BLOGGER

Live Traffic Feed