Misteri Ilahi (1/1)
Bagi saya, menjalani profesi sebagai Motivator, termasuk kegiatan menulis seperti ini, sungguh merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmatinya adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang, yang masing-masing datang dari pengalaman, pemahaman serta pertanyaan mereka tentang kehidupan. Suatu kali seorang kenalan, di tengah keputus-asaan menghadapi kehidupan yang serba sulit, mengajukan pertanyaan di bawah ini:
“Bila Tuhan betul Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Ia tega membiarkan semua kesulitan dan penderitaan ini menimpa aku?”
Dalam proses mencari jawaban terhadap pertanyaan yang tidak mudah itu, saya bertemu dengan pertanyaan serupa dari filsuf Yunani bernama Epicurus (341-270 SM). Ia melemparkan empat pertanyaan bertingkat yang sempat membuat saya merenung dan berpikir sangat keras. Bila diterjemahkan, pertanyaan itu kira-kira begini:
(1) Apakah Tuhan MAU mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia tidak MAMPU? Bila demikian halnya berarti Ia tidak Mahakuasa.
(2) Ataukah Tuhan MAMPU mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia tidak MAU? Bila demikian halnya berarti Ia Tuhan yang sangat kejam.
(3) Ataukah Tuhan MAU sekaligus MAMPU mencegah kejahatan dan penderitaan? Bila demikian halnya, mengapa kejahatan dan penderitaan masih ada?
(4) Ataukah Tuhan tidak MAMPU sekaligus tidak MAU mencegah kejahatan dan penderitaan? Bila demikian halnya, untuk apa Anda memanggilNya Tuhan?”
Tukang Cukur
Bila Anda serius dalam kehidupan spiritual Anda maka pertanyaan Epicurus di atas bukan pertanyaan yang boleh Anda abaikan begitu saja. Pertanyaan tersebut menantang kita untuk berpikir kritis tentang realita hidup kita sebagai manusia. Sehingga, apapun jawaban Anda terhadap pertanyaan Epicurus akan menentukan kualitas hidup Anda, baik di dunia yang sementara ini maupun di dunia yang akan datang.
Ketika sedang mencari jawaban terhadap pertanyaan di atas, saya mendapat email dari seorang kenalan. Email tersebut berkisah tentang seorang pria yang pergi ke tukang cukur. Saat sedang dicukur, ia terserang kantuk sehingga kepalanya mulai mengangguk-angguk. Merasa terganggu, si tukang cukur berusaha membangunkan pelanggannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan:
'Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?' Pelanggan menjawab, 'Ya, saya percaya adanya Tuhan!' Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, 'Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!' 'Apa alasanmu?' pelanggan melempar tanya.
Mengajak pelanggannya menoleh ke arah jendela, tukang cukur menunjuk kepada seorang miskin yang kebetulan sedang mengais makan dari tempat sampah, lalu berkata, 'Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, rasanya tidak mungkin ada orang miskin dan kelaparan seperti orang itu. Coba saja perhatikan keadaan dunia sekarang ini, masalah dan kesusahan terjadi diman-mana, tanpa henti; lihat bayi yang lahir cacat, penyakit, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, hingga peperangan yang merenggut ribuan nyawa. Itu adalah bukti sederhana tentang ketiadaan Tuhan!' tukang cukur berbicara dengan cukup lantang. Si pelanggan terdiam.
Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban sehingga pembicaraan pun terhenti. Si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan. Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat.
Namun pada saat ia menarik tungkai pintu hendak melangkahkan kakinya keluar.... Matanya tertumbuk pada seorang pria ’tidak-waras’ yang kebetulan lewat. Pria itu berparas awur-awuran, rambut panjang tak terurus dan janggutnya lebat berantakan.
Melihat pemandangan demikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka ditutup kembali. Ia menghampiri tukang cukur dan berkata, 'Pak, menurut saya, di dunia ini tidak ada tukang cukur!' Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, 'Bagaimana bisa Anda berkata demikian, padahal baru saja saya mencukur rambut Anda!’
Kemudian pelanggan menunjuk ke luar jendela kepada pria tidak-waras dengan rambut panjang tak terurus itu, lalu berkata ’Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti dia!' si pelanggan menyampaikan penjelasannya.
Tukang cukur tersenyum sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, 'Pak... bukan tukang cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria yang Anda tunjuk itu tidak mau datang ke sini, ke tempat saya... Andai dia datang, maka rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan seperti itu!' Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, 'Naaaahhhh.... itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!'
Fakta Berbicara Lain
Kisah tukang cukur di atas dapat disimpulkan begini: “Sama seperti keberadaan pria dengan rambut awur-awuran tidak berarti tukang cukur tidak ada, melainkan karena dia tidak datang ke tukang cukur untuk mencukur rambutnya. Demikian juga hadirnya kejahatan dan penderitaan tidak berarti Tuhan tidak ada, melainkan karena manusia tidak datang kepada Tuhan untuk membereskan semua kejahatan dan penderitaan itu.”
Kesimpulan tersebut sempat memberi saya kelegaan dalam menjawab pertanyaan Epicurus. Tetapi tidak lama berselang saya membaca pengalaman hidup Gretchen yang dikisahkan oleh Lynda Hunter dalam bukunya “God, Do You Care?” Apa yang dialami Gretchen sangat berbeda dengan kisah tukang cukur. Fakta hidup Gretchen jelas berbicara lain.
Gretchen menikah pada usia muda 19 tahun, dengan seorang laki-laki tampan berusia 23 tahun. Mereka mendapat dua anak laki-laki, Stanley dan Howard, yang perbedaan usianya hanya terpaut sebelas bulan. Kemudian perang Vietnam mengharuskan suaminya pergi meninggalkan dia dan kedua anaknya. Ketika kembali dari medan perang, suaminya sudah tidak seperti dulu lagi, tetapi berubah menjadi seorang pecandu obat-obatan. Tahun 1974 pernikahan mereka berakhir, sejak itu ia tidak pernah melihat suaminya lagi. Gretchen tinggal dengan orangtuanya untuk sementara waktu. Dia bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan telepon dan hanya mendapatkan enam puluh empat dolar seminggu. Dengan kedua orang-tuanya, Gretchen dan kedua anak laki-lakinya mulai belajar mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Pada tahun 1981 Gretchen menikah dengan Chuck, seorang penerbit surat kabar kota. Chuck berganti pekerjaan ketika Stanley dan Howard masuk SMU. Hal ini membuat mereka harus pindah ke sebuah kota lain di Illinois. Walaupun secara keuangan lebih menguntungkan, ternyata perpindahan ini tidak mudah bagi kedua anak laki-laki itu. Stanley mengalami masalah sekolah dan menjadi pecandu alkohol. Gretchen berusaha terus untuk mendapatkan pertolongan dan mencari orang-orang yang dapat membantunya melalui masa-masa sulit itu. Akhirnya Stanley berhasil lulus dari SMU lalu bergabung dengan Angkatan Laut dan pergi ke San Diego. Howard menyelesaikan sekolahnya setahun kemudian dengan nilai A, lalu masuk perguruan tinggi. Kemudian Chuck kehilangan pekerjaan sehingga dia dan Gretchen harus pindah ke Carolina Utara. Di tempat yang baru, Gretchen kembali harus berjuang untuk kehidupannya. Pada tanggal 8 Januari 1992, Gretchen menelepon Stanley karena sudah beberapa hari dia tidak mendengar kabar tentang anak pertamanya itu. Teman sekamarnya yang menerima telepon itu berkata, “Saya terus berusaha menghubungi Anda. Stanley meninggal tadi pagi.” Gretchen kemudian mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu mengendarai sepeda motor menuju pangkalan militernya pagi itu. Dia terlempar ke bawah kolong kendaraan lain karena salah perhitungan dalam menjaga jarak dengan sebuah truk yang sedang melaju cepat. Gretchen, Chuck dan Howard melihat jenazah Stanley yang dikirim dengan kapal laut oleh Angkatan Laut ke Illinois. Setelah acara penguburan, Howard meninggalkan perguruan tingginya lalu pergi ke Carolina Utara untuk menghibur ibunya yang berduka atas kejadian itu. Tidak lama setelah itu, datang kiriman sebuah kotak yang berisi barang-barang Stanley dan Howard mengambil jaket milik kakaknya. Howard mendaftarkan diri ke perguruan tinggi setempat untuk meneruskan pendidikannya. Dia juga mendapatkan pekerjaan paruh-waktu di sebuah toko yang bagus. Suatu malam dia mengenakan jaket milik kakaknya untuk berangkat bekerja. “Ibu mengasihimu, Nak,” kata Gretchen kepada anak laki-lakinya itu. “Aku juga mengasihi Ibu,” kata Howard. Itu untuk terakhir kalinya Gretchen bertemu dengan Howard. Ketika Howard sedang bekerja, dua orang pemuda masuk ke toko dan mengambil uang sebanyak 50 dollar sebelum menembakkan enam peluru ke tubuhnya. Gretchen mengubur anak keduanya sebelas minggu setelah penguburan anak pertamanya. Secara berturut-turut Stanley dan Howard meninggal pada tanggal 8 Januari dan 24 Maret 1992. Kematian mereka tidak akan pernah bisa dimengerti. Gretchen sendiri mengakui bahwa dia sering bertanya kepada Tuhan tentang kematian kedua anak laki-lakinya. Ketika polisi mengabarkan bahwa anak keduanya meninggal, Gretchen berkata, “Anak saya tidak mungkin meninggal, karena saya baru saja menguburkan anak laki-laki saya yang pertama. Saya tidak akan pernah berdoa lagi, karena Tuhan telah mengambil kedua anak saya. Saya tidak mengerti semua ini. Rasanya ingin mati saja.” Penutup SementaraBila pada kisah tukang cukur disimpulkan bahwa kejahatan dan penderitaan ada karena manusia tidak datang kepada Tuhan, apa yang dialami Gretchen menggugurkan kesimpulan itu. Fakta berbicara lain. Gretchen telah datang kepada Tuhan, ia berjuang menjaga kelakuannya bersih, tetapi ia masih mengalami penderitaan sehebat itu. Maka pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama adalah: “Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, lalu untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan? Adakah sesuatu yang dapat kita jadikan jaminan bahwa hidup kita akan berakhir baik-baik saja?”Saya kira pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat penting, jauh lebih penting daripada sekedar mencari jawaban terhadap krisis ekonomi yang sedang menghimpit kita saat ini. Saya akan berusaha membagikan pandangan terhadap pertanyaan tersebut pada artikel berikutnya. Namun, untuk sementara bila Anda mau berbagi pengalaman hidup berkaitan dengan topik yang tengah kita bahas, mohon email saya ke: eloyzalukhu@yahoo.com. Tanggapan, masukan serta pengalaman hidup Anda akan semakin memperkaya artikel yang akan datang, sehingga akan mampu memberikan lebih banyak manfaat bagi para pembaca. Sebelumnya, terima kasih dan sukses untuk Anda. |