Bagi saya, menjalani profesi sebagai Motivator, termasuk kegiatan menulis seperti ini, sungguh merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Salah satu alasan mengapa saya begitu menikmatinya adalah kesempatan bertemu dengan banyak orang, yang masing-masing datang dari pengalaman, pemahaman serta pertanyaan mereka tentang kehidupan. Suatu kali seorang kenalan, di tengah keputus-asaan menghadapi kehidupan yang serba sulit, mengajukan pertanyaan di bawah ini:
“Bila Tuhan betul Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Ia tega membiarkan semua kesulitan dan penderitaan ini menimpa aku?”
Dalam proses mencari jawaban terhadap pertanyaan yang tidak mudah itu, saya bertemu dengan pertanyaan serupa dari filsuf Yunani bernama Epicurus (341-270 SM). Ia melemparkan empat pertanyaan bertingkat yang sempat membuat saya merenung dan berpikir sangat keras. Bila diterjemahkan, pertanyaan itu kira-kira begini:
(1) Apakah Tuhan MAU mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia tidak MAMPU? Bila demikian halnya berarti Ia tidak Mahakuasa.
(2) Ataukah Tuhan MAMPU mencegah kejahatan dan penderitaan, tetapi Ia tidak MAU? Bila demikian halnya berarti Ia Tuhan yang sangat kejam.
(3) Ataukah Tuhan MAU sekaligus MAMPU mencegah kejahatan dan penderitaan? Bila demikian halnya, mengapa kejahatan dan penderitaan masih ada?
(4) Ataukah Tuhan tidak MAMPU sekaligus tidak MAU mencegah kejahatan dan penderitaan? Bila demikian halnya, untuk apa Anda memanggilNya Tuhan?”
Tukang Cukur
Bila Anda serius dalam kehidupan spiritual Anda maka pertanyaan Epicurus di atas bukan pertanyaan yang boleh Anda abaikan begitu saja. Pertanyaan tersebut menantang kita untuk berpikir kritis tentang realita hidup kita sebagai manusia. Sehingga, apapun jawaban Anda terhadap pertanyaan Epicurus akan menentukan kualitas hidup Anda, baik di dunia yang sementara ini maupun di dunia yang akan datang.
Ketika sedang mencari jawaban terhadap pertanyaan di atas, saya mendapat email dari seorang kenalan. Email tersebut berkisah tentang seorang pria yang pergi ke tukang cukur. Saat sedang dicukur, ia terserang kantuk sehingga kepalanya mulai mengangguk-angguk. Merasa terganggu, si tukang cukur berusaha membangunkan pelanggannya dengan melemparkan sebuah pertanyaan:
'Pak, apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?' Pelanggan menjawab, 'Ya, saya percaya adanya Tuhan!' Agar pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali, 'Saya termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!' 'Apa alasanmu?' pelanggan melempar tanya.
Mengajak pelanggannya menoleh ke arah jendela, tukang cukur menunjuk kepada seorang miskin yang kebetulan sedang mengais makan dari tempat sampah, lalu berkata, 'Kalau benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, rasanya tidak mungkin ada orang miskin dan kelaparan seperti orang itu. Coba saja perhatikan keadaan dunia sekarang ini, masalah dan kesusahan terjadi diman-mana, tanpa henti; lihat bayi yang lahir cacat, penyakit, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, hingga peperangan yang merenggut ribuan nyawa. Itu adalah bukti sederhana tentang ketiadaan Tuhan!' tukang cukur berbicara dengan cukup lantang. Si pelanggan terdiam.
Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang, sampai cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban sehingga pembicaraan pun terhenti. Si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan perdebatan. Akhirnya, saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan ongkos yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk meninggalkan tempat.
Namun pada saat ia menarik tungkai pintu hendak melangkahkan kakinya keluar.... Matanya tertumbuk pada seorang pria ’tidak-waras’ yang kebetulan lewat. Pria itu berparas awur-awuran, rambut panjang tak terurus dan janggutnya lebat berantakan.
Melihat pemandangan demikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka ditutup kembali. Ia menghampiri tukang cukur dan berkata, 'Pak, menurut saya, di dunia ini tidak ada tukang cukur!' Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang cukur balik bertanya, 'Bagaimana bisa Anda berkata demikian, padahal baru saja saya mencukur rambut Anda!’
Kemudian pelanggan menunjuk ke luar jendela kepada pria tidak-waras dengan rambut panjang tak terurus itu, lalu berkata ’Kalau benar di dunia ini ada tukang cukur, rasanya tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti dia!' si pelanggan menyampaikan penjelasannya.
Tukang cukur tersenyum sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, 'Pak... bukan tukang cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria yang Anda tunjuk itu tidak mau datang ke sini, ke tempat saya... Andai dia datang, maka rambut dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan seperti itu!'
Tiba-tiba si pelanggan meledakkan suara, 'Naaaahhhh.... itu dia jawabannya. Rupanya Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!'
Fakta Berbicara Lain
Kisah tukang cukur di atas dapat disimpulkan begini: “Sama seperti keberadaan pria dengan rambut awur-awuran tidak berarti tukang cukur tidak ada, melainkan karena dia tidak datang ke tukang cukur untuk mencukur rambutnya. Demikian juga hadirnya kejahatan dan penderitaan tidak berarti Tuhan tidak ada, melainkan karena manusia tidak datang kepada Tuhan untuk membereskan semua kejahatan dan penderitaan itu.”
Kesimpulan tersebut sempat memberi saya kelegaan dalam menjawab pertanyaan Epicurus. Tetapi tidak lama berselang saya membaca pengalaman hidup Gretchen yang dikisahkan oleh Lynda Hunter dalam bukunya “God, Do You Care?” Apa yang dialami Gretchen sangat berbeda dengan kisah tukang cukur. Fakta hidup Gretchen jelas berbicara lain.
Gretchen menikah pada usia muda 19 tahun, dengan seorang laki-laki tampan berusia 23 tahun. Mereka mendapat dua anak laki-laki, Stanley dan Howard, yang perbedaan usianya hanya terpaut sebelas bulan. Kemudian perang Vietnam mengharuskan suaminya pergi meninggalkan dia dan kedua anaknya. Ketika kembali dari medan perang, suaminya sudah tidak seperti dulu lagi, tetapi berubah menjadi seorang pecandu obat-obatan.
Tahun 1974 pernikahan mereka berakhir, sejak itu ia tidak pernah melihat suaminya lagi. Gretchen tinggal dengan orangtuanya untuk sementara waktu. Dia bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan telepon dan hanya mendapatkan enam puluh empat dolar seminggu. Dengan kedua orang-tuanya, Gretchen dan kedua anak laki-lakinya mulai belajar mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Pada tahun 1981 Gretchen menikah dengan Chuck, seorang penerbit surat kabar kota. Chuck berganti pekerjaan ketika Stanley dan Howard masuk SMU. Hal ini membuat mereka harus pindah ke sebuah kota lain di Illinois. Walaupun secara keuangan lebih menguntungkan, ternyata perpindahan ini tidak mudah bagi kedua anak laki-laki itu. Stanley mengalami masalah sekolah dan menjadi pecandu alkohol.
Gretchen berusaha terus untuk mendapatkan pertolongan dan mencari orang-orang yang dapat membantunya melalui masa-masa sulit itu. Akhirnya Stanley berhasil lulus dari SMU lalu bergabung dengan Angkatan Laut dan pergi ke San Diego. Howard menyelesaikan sekolahnya setahun kemudian dengan nilai A, lalu masuk perguruan tinggi. Kemudian Chuck kehilangan pekerjaan sehingga dia dan Gretchen harus pindah ke Carolina Utara. Di tempat yang baru, Gretchen kembali harus berjuang untuk kehidupannya.
Pada tanggal 8 Januari 1992, Gretchen menelepon Stanley karena sudah beberapa hari dia tidak mendengar kabar tentang anak pertamanya itu. Teman sekamarnya yang menerima telepon itu berkata, “Saya terus berusaha menghubungi Anda. Stanley meninggal tadi pagi.” Gretchen kemudian mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu mengendarai sepeda motor menuju pangkalan militernya pagi itu. Dia terlempar ke bawah kolong kendaraan lain karena salah perhitungan dalam menjaga jarak dengan sebuah truk yang sedang melaju cepat. Gretchen, Chuck dan Howard melihat jenazah Stanley yang dikirim dengan kapal laut oleh Angkatan Laut ke Illinois.
Setelah acara penguburan, Howard meninggalkan perguruan tingginya lalu pergi ke Carolina Utara untuk menghibur ibunya yang berduka atas kejadian itu. Tidak lama setelah itu, datang kiriman sebuah kotak yang berisi barang-barang Stanley dan Howard mengambil jaket milik kakaknya.
Howard mendaftarkan diri ke perguruan tinggi setempat untuk meneruskan pendidikannya. Dia juga mendapatkan pekerjaan paruh-waktu di sebuah toko yang bagus. Suatu malam dia mengenakan jaket milik kakaknya untuk berangkat bekerja. “Ibu mengasihimu, Nak,” kata Gretchen kepada anak laki-lakinya itu. “Aku juga mengasihi Ibu,” kata Howard. Itu untuk terakhir kalinya Gretchen bertemu dengan Howard.
Ketika Howard sedang bekerja, dua orang pemuda masuk ke toko dan mengambil uang sebanyak 50 dollar sebelum menembakkan enam peluru ke tubuhnya. Gretchen mengubur anak keduanya sebelas minggu setelah penguburan anak pertamanya. Secara berturut-turut Stanley dan Howard meninggal pada tanggal 8 Januari dan 24 Maret 1992.
Kematian mereka tidak akan pernah bisa dimengerti. Gretchen sendiri mengakui bahwa dia sering bertanya kepada Tuhan tentang kematian kedua anak laki-lakinya. Ketika polisi mengabarkan bahwa anak keduanya meninggal, Gretchen berkata, “Anak saya tidak mungkin meninggal, karena saya baru saja menguburkan anak laki-laki saya yang pertama. Saya tidak akan pernah berdoa lagi, karena Tuhan telah mengambil kedua anak saya. Saya tidak mengerti semua ini. Rasanya ingin mati saja.”
Penutup Sementara
Bila pada kisah tukang cukur disimpulkan bahwa kejahatan dan penderitaan ada karena manusia tidak datang kepada Tuhan, apa yang dialami Gretchen menggugurkan kesimpulan itu. Fakta berbicara lain. Gretchen telah datang kepada Tuhan, ia berjuang menjaga kelakuannya bersih, tetapi ia masih mengalami penderitaan sehebat itu. Maka pertanyaan penting yang harus kita renungkan bersama adalah:
“Bila pengenalan akan Tuhan, kesalehan dan amal baik tidak menjamin kita terhindar dari malapetaka atau penderitaan, lalu untuk apa kita beragama dan berelasi dengan Tuhan? Adakah sesuatu yang dapat kita jadikan jaminan bahwa hidup kita akan berakhir baik-baik saja?”
Saya kira pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat penting, jauh lebih penting daripada sekedar mencari jawaban terhadap krisis ekonomi yang sedang menghimpit kita saat ini. Saya akan berusaha membagikan pandangan terhadap pertanyaan tersebut pada artikel berikutnya.
Namun, untuk sementara bila Anda mau berbagi pengalaman hidup berkaitan dengan topik yang tengah kita bahas, mohon email saya ke: eloyzalukhu@yahoo.com. Tanggapan, masukan serta pengalaman hidup Anda akan semakin memperkaya artikel yang akan datang, sehingga akan mampu memberikan lebih banyak manfaat bagi para pembaca. Sebelumnya, terima kasih dan sukses untuk Anda.
Eloy Zalukhu Director Frontline Motivator & Business Trainer
Selamat Tahun Baru 2009.
Di Afrika, setiap pagi singa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa atau ia akan mati kelaparan. Setiap pagi pula, rusa bangun dari tidurnya dengan kesadaran penuh bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa atau ia akan mati dimangsa.
Sementara singa dan rusa memperjuangkan hidup di Afrika, disini kita pun sama. Bedanya adalah perjuangan singa dan rusa sebatas isi perut saja, perjuangan kita adalah demi kesuksesan tanpa batas. Demi meraih kesuksesan itu, sama seperti awal tahun sebelumnya, kita membuat janji dan rencana tentang hal-hal yang akan kita lakukan sepanjang tahun ini.
Tetapi bila kita melihat ke belakang, sepertinya ada banyak janji dan rencana kita yang tidak menjadi kenyataan. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, tetapi hidup kita tidak mengalami kemajuan berarti. Kertas yang kita pakai untuk menuliskan sejumlah rencana dan janji itu ternyata sudah lama tercecer entah dimana. Atau kalaupun ada kemajuan, ternyata hati kecil kita terus berkata bahwa sesungguhnya kita masih jauh dari apa yang sepatutnya dapat kita raih. Artinya potensi terbaik kita masih belum diberdayakan secara maksimal.
Tentu kita tidak ingin tahun ini berakhir dalam kesalahan yang sama. Kita menginginkan hidup yang lebih baik. Kita bosan terus menjadi orang yang serba kekurangan. Kita malu menjalani hidup yang tidak memberi manfaat apa-apa bagi sesama. Kita ingin kehidupan keluarga yang lebih bahagia. Dan kita marah karena kita terus menerus jatuh dalam kesalahan yang sama.
Iya, saya harap Anda marah terhadap apapun yang menghambat Anda meraih kehidupan terbaik. Marahlah, marah sampai Anda mendengar jiwa Anda berteriak keras: “Cukup! Sudah cukup! Aku mau berubah!” Hanya setelah Anda mendengar teriakan itu, Anda dapat mengharapkan hidup yang lebih baik. Berangkat dari teriakan itulah, sekarang mari kita bicara tentang disiplin-diri, sebagai pintu kita menuju kesuksesan dan kebahagiaan sejati – (ingat bahwa kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan banyaknya uang. Baca tulisan saya berjudul “Definisi Sukses,” di www.eloy-zalukhu.com)
Apa itu Disiplin-Diri?
Disiplin diri adalah kemampuan untuk membuat diri Anda melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu (yang memang perlu Anda lakukan demi meraih suatu kesuksesan), secara khusus pada saat Anda tidak suka untuk melakukan pekerjaan tersebut. Definisi ini penting untuk dipahami dengan sungguh-sungguh, karena itu saya usulkan agar Anda membacanya berulang kali secara perlahan sampai berhasil menghafalkannya.
Pada umumnya kita cenderung memilih melakukan pekerjaan sebatas yang kita suka saja dan menghindari kegiatan yang membuat kita tidak nyaman. Bila kita jujur, kecenderungan semacam ini sering kita lakukan, bahkan termasuk dalam hal menyelesaikan suatu pekerjaan yang sudah jelas akan membuat hidup kita menjadi lebih baik pada akhirnya. Mengapa? Karena kita semua terlahir dengan natur atau sifat yang cenderung “merangkul kenikmatan dan menolak penderitaan.”
Sebagai contoh, mengapa Mr. X selalu merokok setelah makan? Karena ia berpikir bahwa merokok setelah makan memberi kenikmatan. Tetapi ketika Mr. X jatuh sakit lalu dokter memberi peringatan terakhir bahwa Ia akan mati dalam satu tahun bila tidak berhenti merokok, apa yang terjadi? Jika Mr. X terhitung orang yang masih normal ia pasti akan berhenti merokok. Mengapa? Karena sekarang bagi Mr. X rokok setelah makan tidak lagi diasosiasikan sebagai “kenikmatan” melainkan “penderitaan” yakni kematian yang mengenaskan.
Contoh lain, perhatikan usulan saya agar Anda membaca ulang dan menghafalkan definisi disiplin–diri di atas. Apakah Anda melakukannya? Selamat bagi Anda yang melakukan. Tapi saya yakin banyak yang tidak melakukan karena itu sudah menjadi natur kita. Bila Anda adalah salah satunya, sesungguhnya Anda baru saja mencontohkan kecenderungan kita yang merangkul kenikmatan dan menolak penderitaan. Dalam hal ini, pada dasarnya kita semua sama. Kita selalu lebih memilih yang mudah, menyenangkan dan serba instan.
Mohon perhatikan poin penting berikut ini:
Ketika saya berkata “kita semua” memiliki kecenderungan atau natur yang sama, artinya termasuk orang-orang sukses yang sering kita saksikan di layar kaca atau membaca di majalah bergengsi. Sebutlah nama seperti Bill Gates, Warren Buffet, Ronaldo, Rafael Nadal, Kobe Bryant, Tiger Woods, Tom Cruise, atau Barack Obama yang kita sebut hebat itu. Mereka semua sama seperti kita.
Pada dasarnya mereka ingin tidur lebih dari empat jam per hari. Ada waktunya ketika Ronaldo malas pergi latihan. Ada saatnya Kobe Bryant hanya ingin santai di depan televisi sambil menikmati pizza atau makanan kesukaannya. Tetapi mereka berusaha mengalahkan semua kecenderungan itu dan pergi bekerja atau berlatih.
Lalu kita bertanya, mengapa mereka bangun subuh, pergi bekerja dan berlatih kalau mereka tidak suka? Jawabannya sederhana, karena mereka semua sadar bahwa untuk meraih kesuksesan seperti yang mereka capai saat ini ada harga yang harus mereka bayar – harga itu bernama disiplin diri. Orang sukses adalah orang yang berhasil membuat dirinya melakukan suatu pekerjaan pada saat ia tidak suka melakukannya. Tanpa disiplin diri, seorang yang terlahir jenius sekalipun tidak akan mencapai sesuatu yang berarti dalam hidupnya.
Mengapa Penting?
Tulisan ini bermaksud mengingatkan dan membangunkan kita untuk mulai berubah. Cobalah kita renungkan berapa banyak kerugian yang telah kita alami yang disebabkan oleh ketidak-disiplinan diri kita. Dari segi karir, coba bayangkan posisi, jabatan dan kondisi keuangan Anda saat ini bila dalam lima tahun terakhir Anda berhasil membuat diri Anda mengerjakan hal-hal yang perlu Anda kerjakan di kantor, sekalipun Anda tidak suka atau malas mengerjakannya.
Dari segi pendidikan, coba bayangkan tingkat kesuksesan Anda hari ini bila sewaktu sekolah dulu Anda belajar baik-baik. Berbicara tentang bidang pendidikan, secara jujur saya akui saya bukan contoh yang baik. Sewaktu SMA dulu, saya sempat salah arah dan ikut arus. Akibatnya saya harus menghabiskan lima tahun untuk menyelesaikan jenjang SMA; empat tahun di Jakarta dan satu tahun di Melbourne. Tetapi saya bersyukur karena pada bulan September 1997 saya menemukan jalan pulang ke jalan yang benar dan arah hidup sayapun berubah. Ada beberapa teman yang keterusan, mereka tidak menemukan titik balik, sekolah mereka berantakan, bahkan ada yang terjangkit penyakit yang sulit disembuhkan. Sungguh suatu kenyataan hidup yang sangat menyedihkan.
Coba Anda bayangkan juga kerugian yang pernah Anda derita dalam hal hubungan. Mungkin ada hubungan yang rusak dengan suami, istri, anak-anak, orang-tua, saudara, sahabat, teman, kekasih, atasan, atau hubungan dengan rekan kerja. Pikirkan, kira-kira apa hasilnya bila dulu Anda berhasil mendisiplinkan atau menguasai diri untuk tetap mencintai pasangan Anda yang rewel dan menyebalkan itu. Baiklah, saya tahu, hal ini lebih mudah bicara daripada praktek. Tetapi maksud saya, bahwa banyak orang yang berhasil menjalaninya dengan baik, berarti ada harapan bahwa Anda dan saya pun bisa, sekalipun mungkin harus melalui perjuangan berat.
Daftar kerugian yang telah kita derita sebagai akibat dari tidak disiplinnya diri kita bisa berlanjut sampai puluhan segi lainnya. Tetapi intinya adalah marilah kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan di masa lalu kita jadikan pelajaran, sekarang kita fokus untuk memperbaiki masa depan agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali, atau setidaknya berhasil dikurangi.
Bagaimana Membangun Disiplin Diri?
Setelah semua bahasan di atas, sekarang kita berdiskusi tentang cara atau kiat membangun disiplin diri. Untuk menjelaskan poin ini, kita perlu mengenal beberapa alasan yang membuat seseorang tidak memiliki disiplin diri yang memadai. Berangkat dari pengalaman pribadi, saya mencatat dua faktor utama; pertama adalah godaan untuk meraih kenikmataan dalam jangka pendek (instan), dan kedua adalah hilangnya visi atau gambaran-besar tentang masa depan.
1. Kenikmatan jangka pendek
Di atas kita sudah membahas tentang kecenderungan manusia untuk “merangkul kenikmatan dan menolak kesulitan.” Tetapi bila kita teliti lebih dalam lagi, kita menemukan bahwa ternyata manusia memiliki kecenderungan lain yaitu “keinginan untuk mendapatkan kenikmatan pada saat ini, tanpa menunggu.”
Artinya, banyak dari kita yang lebih terfokus pada kenikmatan jangka pendek, dan berjuang sekeras-kerasnya agar terhindar dari penantian yang terlalu lama. Kita manusia yang tidak sabar menunggu. Kita tidak suka menjalani proses. Kita ingin semuanya serba cepat. Kita ingin kesuksesan instan. Bila perlu kita mencari jalan potong. Kita semua manusia yang pada dasarnya tidak suka disiplin-diri.
2. Hilangnya visi atau gambaran-besar tentang masa depan
Mentalitas jangka pendek seperti yang kita bahas di atas menjadikan kita orang-orang yang gagal melihat masa depan. Bagaimana hal ini berhubungan dengan disiplin diri? Begini, Anda akan menemukan bahwa orang-orang sukses, baik dalam bidang penjulan, olah-raga, politik atau profesi lainnya, semua memiliki kebiasaan untuk berpikir dalam “frame jangka panjang.”
Maksudnya, orang-orang sukses terlatih mendisiplinkan diri dalam membuat target untuk dicapai dalam kurun waktu tertentu. Kemudian mereka membawa diri ke masa depan dengan cara mem-visualisasikan target yang telah dibuat tersebut, seolah-olah telah tercapai atau menjadi kenyataan.
Dalam imajinasi mereka, semua respon positif orang-orang terhadap keberhasilan pencapain target itu, baik dalam bentuk imbalan materi, penghargaan, kata-kata maupun perlakuan khusus, semua dapat mereka rasakan. Mereka bahkan dapat merasakan emosi kebahagiaan serta kepuasan batin dari semua kesuksesan tersebut. Bayangan dan imaginasi itu memacu serta memotivasi mereka untuk meraih cita-cita sekalipun harus melewati lorong gelap yang sangat panjang.
Sebagai contoh, saya ingat ketika saya bekerja di sebuah Cafe di Melbourne. Pada waktu musim dingin, jam 5.30 pagi saya harus sampai di tempat untuk menyapu dan mengepel lantai. Setelah itu saya keluarkan meja serta kursi untuk diletakkan di depan cafe dan di halaman gedung. Baru kemudian saya mengeluarkan beberapa heater (alat pemanas) yang besarnya lebih tinggi dari badan saya. Pada saat jam kantor tiba, orang-orang mulai datang untuk membeli kopi dan saya melayani mereka. Pada waktu tamu mulai sepi pada jam 10 pagi atau jam 3 sore, saya membuang sampah atau membantu mencuci piring.
Jujur saja itu bukan pekerjaan yang menyenangkan. Ada kalanya saya begitu lelah dan ingin segera pulang untuk beristirahat. Tetapi saya sadar itu bukan pilihan tepat karena saya butuh uang untuk membayar tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Lalu apa yang membuat saya terus bertahan, bahkan mampu bekerja dengan senyuman? Jawabannya persis seperti konsep visualisasi di atas.
Bagini, saat itu saya sering berdialog dengan diri saya sendiri. Saya selalu membayangkan bahwa suatu hari kelak saya akan menjadi orang sukses. Saya membayangkan foto saya menghiasi koran-koran ibukota, memuat tulisan-tulisan saya dan memuat kisah hidup saya yang menginspirasi banyak orang.
Pada saat saya melihat tamu sedang duduk menikmati Cappucino sambil membaca koran, seolah-olah saya bisa melihat foto saya terpampang di halaman koran itu. Saya sampai mampu mem-visualisasikan tamu tersebut begitu antusias membaca setiap kalimat dari tulisan saya. Tangan sibuk membuat kopi, mulut sibuk menyapa tamu, tetapi hati dan pikiran saya terpaku pada koran itu. Saya menembus waktu dan ruang, saya melihat Eloy masa depan.
Karena Cafe tersebut terletak di gedung perkantoran, saya sempat merasa rendah-diri melayani para tamu berdasi, memakai jas serta wanita-wanita cantik dengan aroma parfum yang sangat mahal. Tetapi saya ingat, setiap kali merasa minder saya berkata pada diri sendiri; “waktunya akan tiba ketika saya seperti mereka, bahkan lebih. Saat ini saya melayani dengan gaji AUS$12.00/jam, tetapi kelak mereka akan menyaksikan Eloy yang sama sekali berbeda.”
Itulah salah satu pengalaman saya tentang kekuatan visualisasi atau gambaran masa depan. Memang sampai saat ini saya belum dimuat di koran manapun, tetapi harapan dan gambaran besar itu terus memacu saya untuk terus melangkah maju. Apakah kelak wajah dan tulisan saya berhasil menghiasi media ibukota, saya tidak tahu. Tetapi saya tahu satu hal, bahwa visi, harapan dan gambaran besar itu terus memacu langkah saya untuk terus berkarya.
Penutup
Bagaimana dengan Anda? Apakah saat ini Anda sedang menjalani hidup yang tidak menyenangkan? Apakah Anda sedang diminta menyelesaikan suatu pekerjaan baru dan itu mengganggu kenyamanan Anda? Usulan saya, jalani dan kerjakanlah dengan senyuman serta kebesaran jiwa.
Sebagai contoh, mungkin saat ini Anda menumpang di rumah mertua atau tinggal di rumah kecil sehingga Anda merasa sering direndahkan. Saran saya, sabarlah. Bayangkan rumah indah Anda lima tahun ke depan sebagai hasil keringat dan jerih payah Anda. Ingat, semua orang memulai dari satu titik, dan seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya: “Tidak penting bagaimana titik awal ketika Anda memulai perjuangan menuju kesuksesan, yang terpenting adalah bagaimana titik akhirnya.” Maka pastikan, pada akhirnya kelak Anda tampil sebagai pemenang.
Kesimpulannya adalah tanpa disiplin diri, orang yang terlahir jenius sekalipun tidak akan meraih sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Karena itu, pastikan Anda melatih diri mulai saat ini dan mulai dari hal-hal kecil. Mungkin sekedar tidur satu jam lebih awal dari biasanya agar Anda dapat bangun lebih pagi untuk berolah-raga? Mungkin sekedar menjaga kemuliaan kata-kata yang keluar dari mulut ini agar tidak melukai hati orang lain? Atau mungkin sekedar menjaga diri agar tidak terus-menerus tergoda membeli barang-barang mahal yang sebenarnya tidak diperlukan? Rasanya poin terakhir ini penting agar budaya materialisme dapat dihentikan.
Bila Anda seorang tenaga penjual, bagaimana bila mulai hari ini Anda komitmen untuk tidak makan siang sebelum berhasil menelpon sejumlah prospek yang Anda targetkan? Bila Anda seorang istri, bagaimana bila Anda mendisiplinkan diri untuk menyambut suami pulang, dengan senyuman dan kasih sayang, sekalipun harus menunggu hingga larut malam?
Bila Anda seorang suami, bagaimna bila setiap hari minggu Anda komitmen memberikan waktu untuk istri dan anak-anak? Intinya adalah, pikirkan satu hal, sesuatu yang kecil dan sederhana saja, lalu disiplinkan diri Anda untuk melakukannya selama dua minggu ke depan, lalu perhatikan bagaimana hasilnya.
Sebagai penutup, untuk membangun disiplin-diri, ingat tiga hal berikut ini:
Pertama, kalahkan kecenderungan untuk menolak kesulitan. Ingat bahwa kesulitan dan penderitaan adalah guru para juara. Termasuk dalam menghadapi krisis global seperti sekarang ini – baik sebagai individu, organisasi maupun sebagai bangsa mari kita hadapi dengan keyakinan dan kebesaran jiwa. Kesulitan ini berguna untuk melahirkan manusia unggul dan para pemimpin sejati. Pemimpin sejati adalah kebutuhan mendesak bangsa ini. Akankah kita menjadi salah seorang diantaranya?
Kedua, kalahkan kecenderungan untuk berfokus pada kenikmatan jangka pendek (sesaat). Ingat kesuksesan dan kebahagiaan sejati tidak pernah datang dalam semalam. Kesuksesan dan kebahagiaan yang bertahan lama selalu menuntut harga untuk dibayar – harga itu bernama disiplin-diri. Bayarlah harga kesuksesan Anda, mulai dari sekarang. Waktunya akan tiba ketika Anda mulai menikmati buahnya.
Ketiga, kalahkan kecenderungan hidup tanpa visi atau tanpa gambaran masa depan. Latih diri Anda untuk mem-visualisasikan diri Anda lima atau sepuluh tahun ke depan. Bila Anda seorang manager sebuah perusahaan, dapatkah Anda melihat diri Anda beranjak naik menjadi CEO of the year? Bila Anda seorang pengusaha muda, dapatkah Anda melihat sepuluh ribu orang bekerja di perusahaan Anda?
Saat ini, saya sedang melihat diri berdiri di hadapan tiga ribu orang, tengah mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut ini. Saya dapat merasakan semangat dan antusiasme mereka. Mata mereka menyinarkan harapan baru. Sepertinya, hati mereka telah disentuh, hidup mereka diubahkan. Mereka mendapat pencerahan, mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.
Saat ini, saya sedang melihat jutaan orang memegang buku hasil karya saya. Mereka membaca di cafe, busway, halte, ruang tunggu, dalam pesawat, sekolah, kampus, dan di ruang tidur. Saya melihat, setiap pembaca tersenyum seperti hati mereka telah disentuh, hidup mereka diubahkan. Mereka mendapat pencerahan, mereka menjadi lebih menghargai kehidupan.
Ketika tengah membayangkan semua ini, hati saya diam-diam memanjatkan doa: “Tuhan, bagaimanakah orang seperti saya ini mampu mencapai semua itu? Bagaimana mungkin saya mampu menyentuh hati manusia lain, apalagi mengubahkannya? Kumohon ya Tuhan, tolonglah saya mengubah diri sendiri lebih dulu. Ya, sungguh hanya Engkau yang mampu mengubah hati manusia. Kami ini sesungguhnya hanyalah alat di tanganMu.”
Saya mendengar seseorang bertanya; “Jadi, apakah semua visi, harapan dan bayangan indah itu akan terwujud?” Saya menjawab; “Sangat mungkin!”. Tetapi, apa yang akan terjadi satu menit ke depan saya tidak tahu. Hanya satu hal yang saya tahu – bahwa visi, harapan dan bayangan itu terus memberi saya kekuatan untuk belajar mendisplinkan diri dan terus bergerak maju. Saya hanya merindukan satu hal, ketika kelak Tuhan memanggil saya pulang, IA menemukan saya sedang melakukan yang terbaik.” Bagaimana dengan Anda?
Sebagai seorang Motivator, salah satu bacaan / tontonan favorite saya adalah buku-buku / film yang berkisah tentang kesuksesan. Selama sepuluh tahun terakhir saya pun beruntung karena dapat bertemu dan berteman baik dengan orang-orang, yang menurut ukuran saya, mereka terhitung sebagai orang-orang sukses.
Tetapi, apa definisi sukses? Saya kira ini adalah pertanyaan yang kedengarannya sederhana, namun kita perlu untuk merenungkannya dengan serius supaya kita tidak berakhir dalam penyesalan, dan hidup kitapun menjadi sia-sia.
Setelah banyak belajar dan berpikir, saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa memang betul, tidak ada definisi universal tentang “sukses.” Sukses adalah tentang banyak hal. Setiap orang memiliki definisi dan ukuran suksesnya masing-masing. Definisi saya mungkin tidak sama dengan definisi Anda, begitu juga definisi Anda tidak sepenuhnya sama dengan definisi orang lain yang Anda kenal.
Namun yang menarik adalah, saya perhatikan satu hal, semakin hari semakin banyak orang yang mendefenisikan kesuksesan berdasarkan tiga hal saja, yakni: Kekuasaan, Uang dan Kemasyuran. Menurut mereka, salah satu saja dari unsur ini Anda miliki, Anda sudah masuk kualifikasi untuk disebut sukses. Tetapi, betulkah demikian?
Menurut pemahaman saya, ketiga unsur di atas pada dasarnya baik, dan tidak salah bila kita semua berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Bahkan ketika saya diundang oleh suatu perusahaan untuk memotivasi karyawannya, tugas saya adalah memacu para peserta untuk lebih berhasil, termasuk dalam ketiga unsur tersebut, yakni: Kekuasaan, Uang dan Kemasyuran.
Tetapi sekali-kali kita semua perlu diingatkan, khususnya pada waktu ketiga unsur tersebut membutakan mata hati kita sehingga unsur penting lainnya menjadi terlupakan, dan akhirnya kita tergoda untuk menghalalkan segala cara.
Di sekeliling kita ada banyak contoh orang-orang yang pernah berjuang sekuat tenaga untuk meraih kekuasaan, uang dan kemasyuran. Tidak sedikit dari mereka yang berhasil mendapatkannya. Dan kita harus akui, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai, rajin dan ulet. Tetapi yang sangat disayangkan adalah, ketika mereka baru saja menggengam kesuksesan bernama uang, di saat yang sama mereka kehilangan kesuksesan lainnya, yang justru jauh lebih berharga, bernama keluarga, kesehatan dan bahkan keselamatan di dunia yang akan datang.
BEBERAPA KISAH
Setelah berdoa dan menunggu selama delapan tahun, akhirnya sepasang suami istri dianugerahi seorang anak oleh Tuhan. Oh, betapa bahagianya mereka saat itu. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, pasangan suami – istri ini bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak uang. Karena pekerjaan yang menumpuk, mereka sering pulang malam. Sang anak kehilangan figur dan kekurangan perhatian orang tua. Ia pun salah bergaul, berkenalan dengan Narkoba dan kemudian berakhir sebagai pecundang.
Kita juga saksikan tidak sedikit orang-orang yang meraih kekuasaan, uang dan kemasyuran tetapi kemudian berakhir di dalam penjara. Bahkan, tidak sedikit orang yang kesuksesannya diliput oleh banyak media tetapi akhirnya mereka putus asa dan mengakhiri hidupnya sendiri.
Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah kisah nyata. Kisah ini telah membuat saya lebih banyak merenung. Saya juga berharap, setelah membacanya Anda akan lebih banyak merenung. Dengan demikian, mudah-mudahan perjalanan kita di tengah dunia yang sementara ini tidak sia-sia. Benar kata seorang bijak, “Musuh dari yang terbaik bukan hal-hal buruk, melainkan hal-hal yang baik. Musuh dari yang terpenting bukan hal-hal sepele, melainkan hal-hal yang penting.”
Tinggal sekarang, bagaimana kita memilih yang terbaik dan yang terpenting itu, diantara puluhan atau ratusan hal-hal baik dan penting, yang kita hadapi setiap hari? Jelas, ini bukan perkara mudah. Hal ini menuntut awareness (kesadaran) dan wisdom (kebijaksanaan) tingkat tinggi. Kita dituntut untuk sekali lagi menentukan prioritas hidup kita. Sebagai tip sederhana, pada saat bangun di pagi hari, mari kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan keluar dari kamar sebelum kita bertanya pada diri sendiri pertanyaan ajaib ini: “Bila hari ini adalah hari terakhir aku hidup, apa yang paling bernilai / berharga untuk aku kerjakan?” Pastikan jawaban Anda benar dan jujur.
Bacalah kisah berikut ini...
Pada tahun 1923, sekelompok orang paling sukses bertemu di Hotel Edgewater Beach di Chicago, Amerika Serikat. Secara keseluruhan, kelompok ini menguasai kekayaan lebih banyak dari total perbendaharaan Amerika saat itu. Tahun demi tahun mereka mengukir sukses. Surat kabar dan majalah meliput kisah-kisah keberhasilan mereka. Orang tua dan para guru mendorong kaum muda untuk meniru teladan mereka.
Delapan orang dari mereka adalah:
1. “Beruang” terbesar di Wall Street 2. Presiden dari Bank of International Settlements 3. Kepala dari monopoli terbesar dunia 4. Presiden dari perusahaan baja terbesar dunia 5. Spekulan gandum terbesar dunia 6. Presiden dari Bursa Saham New York 7. Anggota kabinet presiden Amerika 8. Presiden dari perusahaan gas terbesar dunia
Dari sudut pandang apapun, pria-pria ini telah menanjak ke puncak sukses. Mereka telah menemukan rahasia untuk mendapatkan uang. Bila saat ini mereka menulis buku tentang Rahasia Kesuksesan, pastilah buku itu menjadi International Best Seller. Bila mereka mengadakan seminar Motivasi, ribuan orang pasti bersedia membayar mahal asalkan dapat mendengarkan mereka.
Tetapi, dua puluh tujuh tahun setelah pertemuan di Edgewater Beach itu...
1. Jesse Livermore, investor terbesar di Wall Street mati bunuh diri 2. Leon Fraser, presiden the Bank of International Settlements, juga mati bunuh diri 3. Ivan Kruegar, kepala dari monopoli dunia terbesar, mati bunuh diri 4. Charles Schwab, presiden dari perusahaan baja terbesar mati dalam keadaan bangkrut, setelah hidup dengan hutang selama lima tahun terakhir sebelum kematiannya 5. Arthur Cutten, spekulator gandum terbesar, mati di luar negeri dalam keadaan bangkrut 6. Richard Whitney, presiden The New York Stock Exhange, masuk penjara Sing-Sing 7. Alber Fall, seorang anggota kabinet presiden, dibebaskan dari penjara agar ia bisa mati di rumah 8. Presiden dari perusahaan gas terbesar, Howard Hopson menjadi gila . Seseorang bijak pernah menulis:
“Uang dapat memberi Anda sebuah istana yang sangat megah, penuh dengan karya-karya seni bernilai tinggi. Uang juga dapat memenuhi rumah Anda dengan perabot terbaik dan garasi Anda dipenuhi dengan mobil-mobil mewah...namun uang tidak dapat memberi Anda rumah yang penuh dengan kasih sayang atau penghargaan tulus dari orang-orang yang tinggal di dalamnya....Uang dapat dipakai untuk membeli ranjang emas murni, namun uang tidak dapat membeli istirahat satu menit yang disertai dengan damai di hati.”
Apa definisi “Sukses” bagi Anda? Selamat merenung!
Name: Eloy Zalukhu Home: Jakarta, Indonesia About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University. See my complete profile