Bila saat ini, Tuhan memberi Anda kesempatan untuk meminta tiga hal secara spesifik, dengan janji bahwa IA pasti mengabulkannya, kira-kira Anda akan meminta apa?
Pertanyaan di atas telah saya tanyakan kepada banyak orang dan umumnya, setelah berpikir beberapa saat, mereka merasa cukup kesulitan untuk memberi jawaban yang paling tepat. Kesulitan itu muncul bukan karena kekurangan keinginan untuk diminta, sebaliknya karena terlalu banyak, sehingga menjadi bingung bagaimana memilih tiga yang terpenting diantara sekian banyak hal penting lainnya.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan istilah “The paradox of choice”. Dulu kita berpikir bahwa semakin banyak pilihan akan semakin mudah dan efesien hidup kita. Tetapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya; Semakin banyak pilihan, kita semakin membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk membandingkan suatu pilihan dengan pilihan yang lainnya, hanya untuk kemudian sampai pada suatu titik dimana kita merasa bingung karena kelebihan informasi.
Tetapi inilah yang menjadi masalah banyak orang, yakni menginginkan terlalu banyak hal, alias tidak ada fokus atau tanpa tujuan yang jelas. Sebagai contoh; Dengan tersedianya beragam pilihan profesi / usaha / pekerjaan, banyak orang tergoda untuk mencobanya satu per satu. Bayangkan seseorang yang berprofesi sebagai guru, namun kemudian ia mencoba menjadi agen Asuransi paruh waktu. Ini bisa saja keputusan yang baik bila saja ia belajar konsisten. Namun tidak lama berselang, seorang teman mengajaknya untuk bisnis MLM, dan iapun langsung ikut. Hanya dalam hitungan bulan ia telah aktif dalam salah satu partai politik.
Bayangkan juga seorang pria berusia 39 tahun, dengan latar belakang pendidikan Teknologi Informasi. Selama ini ia tidak pernah ada pengalaman kerja dalam suatu bidang tertentu lebih dari dua tahun. Ia selalu berpindah-pindah. Dan sekarang Ia ingin menjadi seorang guru Managemen, sekaligus menjadi pengusaha Agrobisnis yang berhasil. Dalam waktu bersamaan ia sedang menjalani profesi sebagai tenaga Sales produk kecantikan.
Sekilas, perilaku kedua orang dalam contoh di atas terasa aneh. Tetapi realitanya banyak orang di luar sana yang menjalani hidup dengan cara seperti demikian. Mereka berharap bahwa salah satu dari kegiatan tersebut akan berbuahkan kesuksesan. Namun ternyata strategi hidup semacam ini lebih sering berakhir buntung daripada untung. Mereka selalu terlihat sibuk dan bekerja hingga larut malam, namun pada akhirnya mereka tidak menghasilkan apa-apa yang berarti. Alasannya sangat sederhana, yakni karena tenaga, waktu dan pikiran mereka banyak yang terbuang percuma, tidak terarah pada sebuah tujuan. Mereka mungkin tahu banyak hal tetapi hanya kulitnya saja. Mereka tidak pernah menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu.
Selain itu, ketika kesulitan datang mereka juga tidak terbiasa bertekun, karena mereka belum menentukan apa yang betul-betul ingin dicapai. Setiap kali menghadapi kesulitan, mereka berpikir bahwa masih banyak alternatif pilihan. Akibatnya, mereka terlalu cepat tergoda meninggalkan suatu usaha / profesi / pekerjaan yang ada dan mencari lagi peluang yang baru. Maka semua kegiatan yang mereka lakukan dikerjakan seadanya saja, sehingga kualitas yang dihasilkanpun selalu tidak maksimal. Karena itu orang-orang tidak lagi mempercayai mereka, sehingga tidak heran bila mereka selalu saja berakhir dalam kesusahan.
Sebaliknya, oleh karena banyaknya pilihan itu sendiri, ada juga sekelompok orang yang justru menjadi apatis, tertekan, kebingungan dan kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi pasif, takut mencoba sesuatu yang baru, menyerah pada nasib dan kemudian tersingkirkan. Coba perhatikan orang-orang di sekeliling Anda saat ini, berapa banyak yang hidup tanpa sasaran yang jelas. Mereka bisa saja menekuni suatu profesi / usaha / pekerjaan selama bertahun-tahun namun mereka tidak mengalami kemajuan atau terobosan besar. Ini terjadi karena mereka belum memutuskan ingin mencapai apa salam hidup ini. Setiap hari mereka hanya sekedar menyambung hidup, tanpa impian dan tanpa tujuan besar yang layak diperjuangkan.
Putuskan Hari Ini
Sepuluh tahun lalu, ketika masih kuliah di Melbourne, topik seperti ini masih awam buat saya. Saat itu, saya belum memahami pentingnya menentukan sasaran hidup. Saya masih meraba-raba kelak akan menjadi apa. Saya belum mampu memutuskan ingin memperjuangkan apa dalam hidup ini. Saya sekedar menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya potensi, tenaga, pikiran dan waktu saya banyak terbuang untuk ha-hal sepele dan tidak bermutu.
Sebagai contoh sederhana, setiap kali ke toko buku saya selalu merasakan kesulitan dalam memilih buku yang akan dibeli, karena saya belum memutuskan ilmu apa yang ingin saya tekuni. Maka saya ke toko buku hanya sekedar lihat-lihat tanpa mendapat banyak manfaat. Beberapa kali saya akhirnya membeli buku, namun kini buku-buku tersebut tidak banyak berhubungan dengan profesi yang tengah saya geluti.
Tetapi, banyak orang yang mengalami hal serupa. Untuk hal-hal kecil saja, coba ingat ketika Anda mampir ke bioskop dan bingung memilih dari sekian banyak film bagus yang ditawarkan. Demikian juga ketika masuk dalam sebuah restoran, banyak orang bingung memilih dari sekian banyak menu lezat yang ada disana. Bagaimana dengan memilih calon pasangan hidup, memilih pekerjaan, bidang usaha yang ingin digeluti. Atau mungkin sekedar memilih kostum untuk dikenakan dalam sebuah pesta. Jadi jelas, memilih tiga hal yang terpenting untuk diperjuangkan dalam hidup bukan hal mudah untuk dilakukan.
Namun bagaimanapun sulitnya, bila kita ingin meraih sukses yang lebih besar, kita dituntut untuk dapat memilih dan memutuskan apa yang betul-betul kita inginkan dalam hidup ini. Mengapa? Alasannya sederhana;
Bila kita belum memutuskan apa yang kita inginkan maka kita tidak tahu tindakan apa yang perlu kita lakukan dan tekuni.
Dan bila kita tidak tahu tindakan apa yang perlu kita lakukan dan tekuni maka kita juga tidak tahu hasil seperti apa yang akan kita dapatkan.
Akibatnya potensi, tenaga, pikiran dan waktu kita menjadi tidak terarah. Sehingga dapat dipastikan seluruh hidup kita akan berakhir dalam kesia-siaan.
Kita perlu ingat bahwa hasil adalah anak daripada sebuah tindakan, dan tindakan adalah anak dari sebuah keputusan.
Dalam terang pemikiran seperti itulah Jack Canfield pernah bertutur, “Salah satu sebab utama mengapa seseorang belum mendapatkan apa yang ia inginkan adalah karena ia belum memutuskan apa yang betul-betul ia inginkan.” Atau dalam kalimat Ben Stein, bahwa “Langkah pertama dan utama untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan adalah dengan memutuskan apa yang betul-betul Anda inginkan.”
Maka, bila saat ini Tuhan memberi saya kesempatan untuk meminta tiga hal kepadaNya, inilah yang akan saya minta: (1) Dimampukan untuk hidup berkenan kepada-Nya, setiap waktu. (2) Dimampukan untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, serta (3) Dimampukan untuk menjadi Motivator & Business Trainer, sepuluh terbaik di Asia, pada tahun 2020. Saat ini seluruh potensi, pikiran, tenaga dan waktu yang saya miliki terfokus untuk mewujudkan ketiga hal itu. Bagaimana dengan Anda? Apakah yang menjadi tiga keinginan terbesar Anda saat ini? Putuskanlah sekarang.
Sukses untuk Anda! Label: Putuskan Hari Ini |