Visitor


Guest Book
Links
oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools











Blog Directory - OnToplist.com

Free Automatic Backlink
Free Backlinks
TopOfBlogs
Review Our Site
Review eloyzalukhu.com on alexa.com

Facebook
Eloy Zalukhu

Create Your Badge
Rabu, 31 Desember 2008
Kebiasaan Menunda

Berkaca dari pengalaman pribadi dan kisah hidup banyak orang, saya berani menyimpulkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan seseorang, adalah: Kebiasaan menunda.

Selama bertahun-tahun saya pernah bergulat dengan kebiasaan buruk ini. Kenyataan bahwa saya menghabiskan lima tahun di bangku SMA jelas merupakan bukti nyata. Tetapi kalau mau jujur, berapa banyak di antara kita yang tidak pernah menunda membuat tugas atau menunda belajar hingga malam sebelum ujian? Hampir semua pernah melakukannya, sampai-sampai muncullah istilah “SKS” atau Sistim Kebut Semalam itu. Jadi jelas “menunda” adalah kebiasaan buruk banyak orang.

Tetapi, sama seperti kebiasaan lainnya, penundaan dibentuk secara perlahan-lahan. Tidak ada orang yang terlahir dengan rasa rendah diri, tidak ada orang yang terlahir dengan pola makan tertentu, tidak ada pula orang yang terlahir selalu menggigiti kuku, atau terlahir stress terus menerus. Demikian juga tidak ada orang yang terlahir dengan kebiasaan menunda-nunda. Semua kebiasaan adalah perilaku yang kita pelajari dan lakukan terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari sifat dasar kita. Sama seperti ungkapan John Dryden “Pertama kita membentuk kebiasaan, kemudian kebiasaan tersebut membentuk kita.”

Kebiasaan menunda pertama-tama dibentuk dari hal-hal kecil. Sebagai contoh, sebelum tidur kita menunda untuk sikat gigi karena sedang asyik menonton atau membaca majalah baru. Tetapi kemudian rasa ngantuk menyerang lalu tertidur. Ketika alarm bernyanyi di pagi hari, kita menunda untuk segera bangun, menunda lipat selimut, menunda mandi, dan menunda doa. Akhirnya kita menunda untuk mengerjakan sebuah tugas atau proyek kantor, dan kemudian menunda menjadi sebuah kebiasaan.

Jerry & Kristi Newcombe, dalam buku mereka berjudul “I’ll Do It Tommorow...” bercerita tentang seorang petani yang keluar untuk menggembalakan sapi. Tetapi pada saat ia pergi, ia menyadari sebuah pagar perlu diperbaiki. Untuk beberapa lama, ia bermaksud memperbaikinya, tetapi ia telah menundanya terlalu lama sehingga badai besar bisa meruntuhkannya. Jadi ia pergi ke dalam kandang untuk mengambil peralatannya, dan di sana ia melihat sampah yang ia simpan dari saat terakhir ia menggunakannya. Peralatan berserakan di seluruh ruangan, dan ia mulai mengaturnya.

Namun kemudian, ia ingat bahwa ia telah meninggalkan palu di dalam rumah, jadi sebelum ia selesai mengatur kotak perlatannya, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambilnya. Saat menuju rumah, ia menyadari bahwa ada empat kotak sampah yang belum ia keluarkan ke jalan, dan ia tiba-tiba ingat bahwa hari ini adalah hari untuk mengangkut sampah. Jadi ia membawa dua kotak sampah ke jalan, ketika ia melihat koran tergeletak di halaman.

Berita utama koran itu menangkap perhatiannya, jadi ia pergi ke dalam rumah dan duduk di kursi malas kegemarannya – “hanya untuk beberapa menit” – “hanya untuk membaca artikel ini” pikirnya. Sementara itu, sapi-sapinya merumput ke luar di hutan belantara.
Saya kira kisah petani di atas merupakan gambaran yang sangat tepat tentang penundaan. Seorang penunda akan menemukan hal-hal yang seharusnya dilakukan hari ini ditunda sampai besok untuk kemudian kembali ditunda dan akhirnya tidak pernah dikerjakan. Kalaupun pada akhirnya sesuatu itu harus dikerjakan karena sebuah tuntutan, namun karena dikerjakan secara terburu-buru dan dalam perasaan terpaksa, sudah dapat dipastikan bahwa hasilnya tidak maksimal. Itu sebab, penundaan dapat juga disebut sebagai jalan tol menuju kemiskinan.

Tidak heran bila banyak orang menyebut penundaan sebagai pencuri waktu, dan saya kira mereka benar. Ini berarti penundaan jauh lebih kejam dan jauh lebih berbahaya daripada sekelompok mafia. Para mafia mencuri uang dan harta benda lainnya, tetapi lebih daripada itu penundaan mencuri properti terbesar yang kita miliki yakni waktu. Akibatnya kita bisa kehilangan ketenangan dan mengalami perasaan bersalah tentang hal-hal penting yang tidak terselesaikan. Bahkan, kita bisa kehilangan seluruh kesempatan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Bayangkan sepasang suami-istri yang akan pergi ke Bali untuk menghabiskan liburan akhir tahun mereka. Mereka telah membeli tiket dan merencakan sebuah rencana khusus ketika tiba di sana. Di hari itu, sementara sang suami bekerja, sang istri akan mengepak barang. Ia memiliki keinginan untuk melakukannya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ketika ia sedang berpikir, ia melihat sofa di ruang tamu begitu kotor, sehingga ia ingin membersihkannya. Ketika ia pergi ke dapur untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan, ia melihat piring dan gelas kotor berserakan di sana.

Jadi daripada berkemas, ia menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan sofa dan area dapur. Saat sang suami pulang dari bekerja, sofa dan sebagian area dapur bersih mengkilat, tetapi tidak ada yang siap untuk berangkat karena baju-celana yang perlu mereka bawa masih terendam di tempat cucian.

Melewatkan Kesempatan

Coba renungkan berapa banyak kesempatan baik yang telah Anda lewatkan karena kebiasaan menunda. Mari renungkan berapa banyak potensi serta ide-ide maha agung yang dibawa sampai ke liang kubur karena seseorang menunda dan terus menunggu waktu “terbaik” untuk mewujudkannya.

Berapa banyak orang yang gagal dalam ujian akhir karena mereka menunda untuk mempersiapkan diri dengan baik? Berapa banyak tenaga penjual yang gagal mendapatkan sebuah proyek besar karena mereka menunda untuk melengkapi data yang dibutuhkan, atau sekedar menunda menghadiri sebuah pertemuan, menunda mengirim surat elektronik, atau sekedar menunda menelepon orang yang dibutuhkan?

Coba renungkan berapa banyak pengusaha yang menghabiskan waktu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menemukan sebuah ide bisnis, yang bisa meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun mereka menunggu saat-saat yang “tepat” untuk melakukannya – hanya untuk menyaksikan perusahan lain menemukan ide serupa, yang langsung mengerjakannya dan menikmati keuntungan yang luar biasa.

Berapa banyak keluarga yang akhirnya tercerai-berai karena terbiasa menunda untuk menyelesaikan kesalah-pahaman yang ada? Bahkan barusan tadi pagi saya mendengar seseorang meninggal dunia hanya karena menunda untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang tengah ia derita. Jangan lupa hitung berapa banyak waktu dan uang yang terbuang percuma sebagai akibat menunda pembayaran beberapa tagihan.

Renungkan juga berapa banyak hubungan bisnis atau persahabatan yang berakhir dalam konflik berkepanjangan hanya karena seseorang menunda untuk memberi penjelasan atau sekedar meminta maaf. Renungkan berapa banyak hubungan baik yang gagal terbangun hanya karena seseorang menunda memberi senyum atau sekedar tegur sapa. Bila semua dihitung satu per satu maka jelas bahwa penundaan adalah pencuri yang paling kejam. Mungkinkah ia tengah mencuri dari Anda hari ini? Selamat merenung...

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.51  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
Previous Post
Archives
About Me

Name: Eloy Zalukhu
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University.
See my complete profile
Network

BLOGGER

Live Traffic Feed