Visitor


Guest Book
Links
oggix.com : Free Shoutbox & Complete Blog Tools











Blog Directory - OnToplist.com

Free Automatic Backlink
Free Backlinks
TopOfBlogs
Review Our Site
Review eloyzalukhu.com on alexa.com

Facebook
Eloy Zalukhu

Create Your Badge
Rabu, 31 Desember 2008
Kambing Hitam
Kita hidup dalam suatu masyarakat yang suka mencari “kambing hitam”, dan salah satu kalimat favorit kita adalah: “Itu bukan salahku.”

Seorang pria berkata, “Aku adalah seorang yang cepat marah karena aku dibesarkan oleh seorang ayah yang pemarah bahkan suka memukul ibuku.” Seorang wanita berkata, “Sudah dua tahun aku merasa depresi seperti ini karena suamiku berpindah cinta ke lain hati.”

Seorang tenaga penjual berkata, “Aku selalu gagal mencapai target karena kondisi ekonomi kita yang masih terpuruk.” Seorang pemuda berkata, ”Aku gagal menyelesaikan kuliah karena aku lahir dari keluarga miskin.”

Masing-masing kalimat di atas menyalahkan pihak yang sama yakni si “kambing hitam.” Ada kambing bernama ayah, ada kambing bernama suami, ada kambing bernama ekonomi dan ada kambing bernama keluarga. Pada intinya masing-masing menyatakan hal yang sama, yakni bahwa “kemalangan yang menimpa aku bukan salahku. Aku hanya pihak yang manjadi korban.”

Sejak masih duduk di bangku SMA saya sudah giat mencari tahu apa yang membuat seseorang berhasil dan yang lain gagal. Apa yang membuat seseorang bahagia dan yang lain berduka. Dari semua orang yang saya temui, buku yang saya baca dan sumber informasi lainnya, saya sampai pada kesimpulan ini:

“Alasan utama kegagalan seseorang adalah karena ia tidak mengambil tanggung jawab atas kesuksesan dan kebahagiaannya sendiri. Ciri-ciri orang seperti ini adalah suka menyalahkan orang lain, keadaan atau masa lalu.”

Ketika Anda mengatakan “Ini bukan salahku,” sadar atau tidak, Anda sedang mengirim pesan kepada otak, dan otak Anda akan menerjemahkan pesan itu menjadi, “Aku tidak bertanggung jawab atas semua kemalangan ini.” Pada detik otak menangkap kesimpulan itu, pada detik yang sama potensi dan kreativitas Anda rontok dan langsung terkunci.

Akibatnya, Anda akan terterangkap dalam lumpur kesedihan dan kemalangan yang berkepanjangan. Dengan berlalunya waktu, Anda bukan mengalami pemulihan. Sebaliknya Anda akan “mengasihani diri” dan menjadi semakin terpuruk. Bila Anda tidak berlatih untuk mengambil kembali tanggung jawab itu, dapat dipastikan bahwa Anda akan mati dalam kesedihan dan kemalangan tak berujung!

Bagaimana dengan Anda? Mungkin saat ini Anda mempunyai alasan-alasan yang sah untuk merasa marah atau menangis. Anda mungkin telah melewati hal-hal yang tidak layak diterima dalam kehidupan ini. Mungkin Anda secara fisik, verbal, seksual, atau emosional pernah dilecehkan. Mungkin Anda telah bergumul untuk menangani suatu penyakit kronis atau masalah jasmani lainnya yang menurut dokter tidak dapat dipulihkan. Mungkin seseorang mengambil keuntungan dari Anda dalam bisnis dan Anda jatuh miskin.

Saya tidak bermaksud merendahkan pengalaman-pengalaman menyedihkan itu, tetapi jika Anda ingin hidup dalam kemenangan, Anda tidak dapat membiarkan kejadian-kejadian itu mengendalikan pilihan-pilihan hidup Anda di hari ini. Anda harus bangkit dan memutuskan untuk berhenti menjadi korban keadaan. Anda harus bangkit dan berkomitmen untuk menolak menjadi korban masa lalu. Ingat, solusi terhadap masalah yang kita alami seringkali tidak terletak pada kambing hitam (baca: di luar diri), melainkan di dalam diri ini.

Sebagai latihan, sebanyak tiga kali dalam sehari (pagi, siang, malam), katakan pada diri Anda kalimat ajaib ini: “Kesuksesanku dan kebahagiaanku adalah tanggung jawabku. Bukan keadaan dan bukan juga orang lain.” Ketika otak menerima pesan yang terkandung dalam kalimat tersebut, secara otomatis potensi dan kreativitas Anda akan keluar. Pada saat itulah Anda akan mengalami apa yang dinamakan “pencerahan”. Hasilnya, hati yang terluka mulai pulih, jiwa yang tertekan mulai bangkit dan wajah yang murung kembali bersinar. Cobalah dan buktikan sendiri!

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 15.04   0 comments
Titik Akhir
“It’s not how you start out; it’s how you finish up.”

Setiap kali saya merenungkan kalimat di atas, jiwa saya merasakan suatu getaran bahkan perasaan takut. Ada satu pesan penting yang terkandung dalam kalimat itu, suatu pesan yang terlalu berharga untuk kita lewatkan. Itu sebab dalam artikel kali ini saya mengajak kita untuk sama-sama merenungkannya kembali.

Bagi saya pribadi, kalimat di atas kira-kira bertutur begini:

“Eloy, sadarlah bahwa yang paling penting bukan bagaimana kondisi titik awal ketika Anda memulai perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Bahkan, bukan juga mengenai berapa besar kesuksesan yang telah Anda raih hingga detik ini. Bukan itu! Tetapi, sesungguhnya yang paling penting adalah bagaimana kondisi titik akhir daripada seluruh perjalanan hidupmu.”

Masing-masing kita memulai perjalanan dari suatu titik awal. Suatu titik yang berbeda bagi setiap orang. Diantara kita ada yang memulai dari kondisi serba cukup bahkan berkelebihan. Bayangkan saja seseorang yang lahir dari orang tua yang berpendidikan tinggi serta memiliki materi lebih dari cukup. Apalagi bila ia memiliki postur tubuh dan kondisi fisik yang serba baik. Tentu saja semua itu memberikan berbagai bentuk kemudahan untuk menuju suatu titik bernama “kesuksesan”.

Namun, diantara kita banyak juga yang memulai perjalanan dari titik awal dengan kondisi yang sangat terbatas. Saya pun termasuk dalam kelompok ini. Secara singkat, saya lahir sebagai bungsu dari enam bersaudara, di suatu desa yang sampai hari ini desa tersebut belum dialiri listrik dan jalan beraspal. Tidak heran bila baru pada usia sepuluh tahun saya berhasil melihat “benda” bernama mobil, karena pada usia itulah pertama kali saya keluar dari desa tersebut.

Pada usia masih sembilan bulan ayah saya pergi untuk selamanya. Dan karena suatu faktor, sejak saat itu berbagai macam kesulitan dan penderitaan kami alami. Saya masih ingat, waktu masih anak-anak, saya tidak pernah berpikir atau membayangkan untuk sekolah di Jakarta, apalagi sekolah di Australia selama enam tahun, apalagi menjalani profesi sebagai Motivator & Business Trainer seperti saat ini. Satu hal yang saya tahu, saya memulai dari titik awal dengan kondisi yang sangat terpuruk.

Tetapi seperti pesan dari kalimat pembuka di atas, bahwa kondisi awal bukanlah yang terpenting. Sebaliknya, pertanyaan yang membuat hati saya gemetar adalah ini:

“Ketika saya tiba pada titik akhir itu, yakni detik terakhir Tuhan memanggil, dan saya meninggalkan dunia yang sementara ini, pada saat itu, akankah Tuhan menemukan saya tengah mengerjakan yang terbaik? Akankah Tuhan menemukan saya tengah bekerja dengan seluruh potensi yang telah Ia berikan?”

Jelas, ini adalah sebuah perjuangan setiap detik, dan perlombaan sepanjang hidup. Tidak heran bila ditemukan bahwa sembilan dari sepuluh pejuang berbalik arah, menyerah pada kenikmatan sesaat dan berakhir dalam kemalangan. Maka sekali lagi mari kita ingat, bahwa “bukan titik awal yang penting, melainkan titik akhir dari perjalan hidup kita masing-masing.”

Templeton & Clifford

Bila Anda cukup banyak membaca, Anda pasti pernah mendengar orang bernama Billy Graham. Tetapi bagaimana dengan orang bernama Chuck Templeton dan Bron Clifford? Apakah Anda pernah mendengar nama kedua orang itu? Kemungkinan tidak pernah, karena kedua orang itu pernah berjuang dan berhasil mencapai suatu kesuksesan besar namun mengakhirinya dalam keadaan mengenaskan.

Dikisahkan bahwa pada tahun 1945, sama seperti Billy Graham, setiap kali Chuck Templeton dan Bron Clifford berkhotbah ribuan orang memadati auditorium. Ribuan orang rela mengantri berjam-jam hanya untuk mendengarkan mereka berbicara. Setiap kali mereka berbicara, mereka menyentuh hati para pendengar dan ribuan orang pun diubahkan hidupnya. Singkat kata, mereka bertiga pernah dikenal sebagai pembicara dan pengkhotbah ulung.

Namun tidak lama setelah kesuksesan itu, pada tahun 1950, Templeton meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang pengkhotbah. Ia menjadi atheis dan meninggalkan Tuhan. Demikian juga dengan Clifford, pada tahun 1954 ia kehilangan keluarganya, pekerjaanya dan kesehatannya. Perlahan-lahan Clifford bahkan kehilangan hidupnya karena kecanduan pada alkohol. Ia meninggal pada usia tiga puluh lima tahun. Ia pergi tanpa nyanyian dan tanpa penghargaan. Sungguh sebuah titik akhir yang membuat hati saya gemetar.

Mengingat yang Terhilang

Sekarang, cobalah ingat-ingat beberapa nama yang pernah Anda kenal sebagai seorang yang sangat sukses, seorang panutan, idola, atau bahkan seorang pahlawan bagi jutaan umat. Pada masa kejayaan mereka, kisah sukses orang-orang ini mungkin pernah diliput oleh berbagai media. Jutaan orang jatuh hati dan mengagumi mereka.

Namun dimanakah mereka kini? Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka masih memberikan pengaruh positif? Apakah mereka, setidaknya dengan sisa kejayaan masa lalu, masih berjuang? Ataukah mereka telah jatuh, hancur berkeping-keping dan berakhir dalam keputus-asaan?

Bagaimana dengan diri Anda sendiri? Mari merenung, dan mari menjawab dengan jujur, karena kalau kita sudah tidak lagi mampu jujur pada diri sendiri, lalu apa yang dapat kita perbaiki dari diri ini? Untuk mambantu Anda merenung, mohon jawab pertanyaan sederhana ini:

“Bila selama satu bulan ini seluruh kisah hidup Anda dibongkar di hadapan publik, ditayangkan di layar TV dan media lain, akankah dunia menyaksikan seorang yang lurus hatinya?

Setelah seluruh isi pikiran dan tindakan Anda ditampilkan di hadapan semua orang, akankah Anda sendiri, bersama seluruh keluarga dan para sahabat berjalan mengelilingi kota dalam keadaan bangga, atau dalam keadaan malu dan kepala tertunduk?

Jangan-jangan, segala kejahatan dan kebejatan kita, apakah itu perselingkuhan atau korupsi yang kita lakukan, ternyata hanya menunggu waktu untuk matang, lalu ia keluar dari persembunyian dan menari di hadapan khalayak banyak. Wah, betapa mengerikan ketika hari seperti itu benar-benar datang!

Karena itu, sekali lagi, mari kita sadari dengan sungguh-sungguh bahwa yang paling penting bukan bagaimana kondisi titik awal ketika kita memulai perjalanan menuju sebuah kesuksesan. Bahkan, bukan juga mengenai berapa besar kesuksesan yang telah kita raih hingga detik ini. Bukan itu! Tetapi, sesungguhnya yang paling penting adalah bagaimana kondisi titik akhir daripada seluruh perjalanan hidup kita masing-masing.”

Ketika seluruh isi pikiran dan tindakan kita ditampilkan di hadapan umum, akankah mereka menemukan seorang yang jujur dan lurus hati? Semoga!


Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.59   0 comments
Motivator Teosentris

Beberapa waktu lalu, setelah selesai memberikan ceramah di suatu pertemuan, seorang peserta datang menghampiri saya dan langsung bercerita tentang buku yang baru saja ia baca, yakni “The Secret.“ Lalu saya bertanya tentang pencerahan apa yang ia dapatkan dari buku tersebut. Dari cerita singkatnya saya berasumsi bahwa buku tersebut adalah buku yang berisi pengajaran dari sebuah kepercayaan yakni: “New Age Movement” atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah “Gerakan Zaman Baru.”

Karena rasa penasaran, saya akhirnya membeli buku tersebut. Setelah mempelajari apa yang diajarkan, asumsi awal saya ternyata tepat, bahwa The Secret adalah pengajaran New Age. Kepastian ini semakin dikukuhkan pada saat menonton The Oprah Winfrey Show, yang tengah menampilkan Michael Bernard Beckwith dan James Arthur Ray, dua nara sumber dalam buku The Secret.

Apa itu New Age?

Sebelum kita membahas apa itu pengajaran New Age, mari merenungkan beberapa poin yang terdapat dalam buku The Secret. Dalam kesempatan ini, saya akan mengacu pada buku terjemahan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sekarang mari kita membuka halaman 207.

Pada halaman tersebut, Neale Donald Walsch bertutur tentang Rahasia Kehidupan, ia berkata:

“Tidak ada papan tulis di langit tempat Tuhan telah menuliskan tujuan Anda, misi hidup Anda. Tidak ada papan tulis di langit yang bertuliskan, “Neale Donald Walsch, pria tampan yang hidup di awal abad kedua puluh satu, yang...”

Lalu ada bagian kosong di papan tulis itu. Dan untuk sungguh-sungguh memahami apa yang sedang saya lakukan di sini (di planet bumi ini), mengapa saya ada di sini (di planet bumi ini), saya harus menemukan papan tulis itu dan menemukan apa yang ada dalam benak Tuhan tentang saya. Namun, papan tulis itu tidak ada.

Jadi, tujuan Anda adalah apa yang Anda katakan sebagai tujuan Anda. Misi Anda adalah misi yang Anda berikan pada diri sendiri. Hidup Anda adalah hidup yang Anda ciptakan, dan tidak ada seorang pun berhak menghakiminya, sekarang atau selamanya.”

Baca kembali, dan renungkan makna dari kalimat-kalimat Neale di atas, karena di dalam pemikiran Neale tersirat ajaran New Age yang sangat kental. Setidaknya saya mencatat tiga poin penting:

(1) “Tidak ada papan tulis“...artinya, konsep tentang Tuhan yang mencipta dan memberikan tujuan kepada manusia, merupakan sebuah konsep yang tidak nyata dan sebuah kesia-siaan.

(2) Karena itu Neale meyakini bahwa manusia sendirilah yang menentukan tujuan dan misi hidupnya. Lebih jauh ia berkata bahwa “Hidup Anda adalah hidup yang Anda ciptakan sendiri.”

(3) Ia juga meyakini bahwa “tidak ada seorang pun yang berhak menghakimi Anda.”

Bila Neale ditanya, apakah kalimat terakhir tersebut, berarti Tuhan pun tidak berhak menghakimi manusia? Saya kira ia akan menjawab, “Ya! Tuhan tidak berhak.” Bila Anda menonton Oprah Winfrey Show yang saya sebut di atas, baik Michael Beckwith maupun James Ray tidak mengakui adanya Surga dan Neraka. Jelas, ini adalah ajaran New Age, sebuah “agama” baru yang sedang melanda dunia, dan telah berhasil nenawan pikiran jutaan orang, baik melalui buku-buku dan seminar Motivasi, melalui film dan berbagai bentuk media lainnya.
New Age Movement

Menurut Douglas R. Groothuis, dalam bukunya “Unmasking the New Age”, gerakan ini memiliki setidaknya enam keyakinan mendasar. Namun kali ini kita hanya melihat tiga keyakinan pertama saja, yakni:

1. Semua adalah satu

Gagasan bahwa semua adalah satu merasuk ke dalam gerakan New Age – dari kesehatan holistik sampai ke fisik baru, dari politik sampai ke psikologi antar pribadi, dari agama Timur sampai ke okultisme. Nama lain dari gagasan ini adalah Monoisme.

Mono berarti “satu”. Jadi, monoisme adalah suatu kepercayaan bahwa semua yang ada adalah satu.

Maksudya adalah semua saling berkaitan satu dengan yang lain, saling bergantung dan saling ber-penetrasi (saling meresap satu terhadap yang lain). Pada puncaknya, tidak ada lagi perbedaan antara Allah, manusia, wortel atau sebuah batu karang. Mereka semua adalah bagian dari realitas yang berlanjut, yang tidak ada batasnya, tidak ada pembagian yang tegas.

Semua pengertian perbedaan antara obyek-obyek yang terpisah, antara Ahmad dan Rita, atau antara Ahmad dengan sebatang pohon, atau antara Allah dan Ahmad– hanya suatu bayangan dan tidak nyata.

2. Semua adalah Allah

Sekali kita mengakui bahwa semua adalah satu, termasuk Allah, maka tinggal selangkah saja untuk mengakui bahwa “semua adalah allah”. Inilah Panteisme. Segala sesuatu – tumbuh-tumbuhan, siput-siput, buku-buku dan lainnya – dikatakan mengambil bagian dalam satu esensi ilahi.

3. Manusia adalah Allah

Ini adalah salah satu klaim dari New Age yang menggiurkan: kita bukan saja sempurna, faktanya kita adalah allah-allah. Filsuf dan pelopor New Age, L.L.Whyte mengatakan secara terbuka,

“Sudah sejak lama sekali, setiap orang yang menyangkal Allah (yang trasenden) akan meninggikan keilahian dirinya sendiri. Dengan menjatuhkan Allah, manusia memulihkan dirinya sendiri. Kini waktunya Allah harus diletakkan pada tempatnya, yaitu di dalam manusia, dan tidak ada yang mustahil melakukan hal itu.”

Bagi New Age, kita adalah allah secara tersamar. Hanya pengabaian yang menghalangi kita untuk menyadari realitas keilahian kita. Tetapi bila kita dapat menggunakan pikiran, kesadaran dan emosi kita secara sempurna maka suatu hari nanti kita akan menjadi allah sendiri. Dan bila Anda meyakininya, maka hal ini tidak mustahil untuk terjadi. Kuncinya adalah pikiran Anda sendiri!

Tujuan kita, menurut analis New Age, Theodore Roszak, adalah “membangunkan allah yang sedang tertidur di dalam hakekat manusia yang terdalam.” Bahkan lebih jauh Swami Muktananda menegaskan konsep panteismenya dengan mengatakan : ”Berlututlah pada dirimu sendiri. Hormati dan sembahlah dirimu sendiri. Allah tinggal di dalam engkau sebagai Engkau!”

Sekali lagi, bila Anda menonton The Oprah Winfrey Show, hari minggu lalu di Metro TV, maka Anda akan menangkap betapa kentalnya ketiga keyakinan tersebut di atas dalam pemaparan Michael Beckwith, James Ray dan Oprah Winfrey. Salah seorang peserta dalam Oprah Show tersebut menyatakan keraguannya terhadap pengajaran the Secret, namun sayang sekali, dalam waktu sangat cepat pemikirannya digugurkan oleh Michael, James dan Oprah. Ketika berbicara tentang Tuhan, dengan sangat jelas Michael Beckwith berkata “God is within.” Sekali lagi ini adalah pengajaran New Age bahwa allah dan manusia adalah satu. Allah tinggal di dalam engkau sebagai engkau!

The Law of Attraction

Bila Anda membaca buku “The Secret”, Anda pasti memahami bahwa rahasia yang ditawarkan adalah “The Law of Attraction”, yaitu Hukum Tarik – Menarik. Inti daripada hukum ini adalah kekuatan pikiran. Bob Doyle menjelaskan definisinya:

“Pada dasarnya hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan akan menarik kemiripan. Tetapi sebenarnya kita berbicara di tingkat pikiran.” (Hal 8)

Dalam kalimat sederhana, hukum tarik-menarik mengajarkan: “Fokus pada pikiran positif, maka hal-hal positif akan terjadi dalam hidup Anda. Sebaliknya fokus pada pikirkan negatif, maka hal-hal negatif akan menimpa hidup Anda.” Seperti yang dikatakan oleh Mike Dooley, “Dan prinsip itu dapat diringkas dalam tiga kata sederhana – Pikiran menjadi sesuatu!” (Hal. 8)

Ya, sesederhana itu! Semuanya kembali kepada kekuatan pikiran...

Dan bila dibaca sekilas, tampak bahwa pengajaran itu baik-baik saja. Bukankah semua buku Motivasi dan Motivator pun mengajarkan yang sama, yaitu tentang kekuatan pikiran? Bukankah Kitab Suci pun mengajarkan bahwa kita perlu bijaksana dalam mengendalikan pikiran dan kata-kata kita? Bukankah apa yang ada dalam pikiran dan hati akan bermanifestasi dalam tindakan, dan tindakan kita ikut menentukan kualitas hidup kita?

Lalu apa yang kurang tepat dari ajaran The Secret? Kesalahan ajaran The Secret terletak pada akar pangajarannya, yakni New Age, yang melawan keberadaan Allah yang berdaulat, dan menjadikan diri manusia sebagai pusat segala sesuatu. Mari kita bahas lebih detail.

Dua Macam Motivator

Kita mengenal dua istilah yakni “Antroposentris dan Teosentris.” Antroposentris adalah pemahaman bahwa segala sesuatu berpusat pada manusia. Sementara Teosentris adalah pemahaman bahwa segala sesuatu berpusat pada Allah.

Nah inilah yang membedakan buku-buku dan motivator yang ada. Bila Anda perhatikan, buku-buku dan Motivator yang ada di luar sana, umumnya menganut paham Antroposentris walaupun mereka mungkin tidak berani mengakuinya secara terang-terangan, karena takut kehilangan pengikut.

Tetapi ingat bahwa para Motivator ini adalah orang-orang yang pandai menjual, jadi mereka tahu bagaimana mengemas diri dan ajaran mereka sehingga terasa sebagai sesuatu yang sangat masuk akal, bahkan terkesan sebagai sebuah pencerahan atau terobosan baru.

Orang awam tidak mudah mengenali ajaran Antroposentris dan New Age ini karena semua dikemas sedemikian halus, bahkan dikaitkan dengan ilmu Psikologi. Lebih lagi, ajaran ini memberikan harapan yang dicari oleh semua umat manusia, yakni: Kebahagiaan dan Kekayaan yang berlimpah. Pada tahun 1997, ketika pertama kali bersentuhan dengan buku-buku Motivasi pun saya sempat terpengaruh dan menjadi pengikut ajaran ini! Sekalipun saat itu saya sudah mendengar ajaran New Age, namun belum mampu melihat kaitannya dengan pikiran para Motivator yang tertuang dalam buku dan seminar mereka.

Salah satu realita menarik, ternyata penganut dan guru dari kelompok Antroposentris / New Age ini termasuk pula mereka yang banyak berbicara tentang Spiritual atau menggunakan ayat-ayat Kitab Suci dalam buku dan seminar mereka. Sekali lagi mereka sungguh-sungguh singa berbulu domba!

James Arthur Ray, yang adalah narasumber buku The Secret, mengembangkan The Science of Success and Harmonic Wealth, yang mengajarkan cara menerima hasil yang tak terbatas dalam segala bidang, yakni: Keuangan, Relasi, Intelektual, Fisik dan Spiritual. Nah, perhatikan bahwa dalam pengajaran James terdapat juga tentang spiritual. Tetapi spiritual macam ini adalah spiritual ciptaan New Age, yaitu begaimana menggunakan pikiran, emosi dan kesadaran secara sempurna untuk membangunkan allah yang sedang tertidur di dalam diri. Hal ini dapat ditempuh melalui meditasi atau cara-cara mistik supranatural.

Bila Anda masih belum teryakinkan akan kesalahan pengajaran buku the Secret, dan beberapa buku yang senafas dengannya, maka bacalah tulisan Rhonda Byrne berikut ini dan bandingkan dengan tiga keyakinan New Age di atas.

Sekarang, buka buku The Secret halaman 49, dimana tertulis judul “Cara Menggunakan Rahasia.” Pada kalimat pertama, Rhonda Byrne menulis “Anda adalah pencipta, dan ada sebuah proses yang mudah untuk mencipta dengan menggunakan hukum tarik – menarik.” Baca terus, sampai Anda tiba pada halaman 50, dimana Byrne kembali menulis:

“Kisah yang indah ini menunjukkan bagaimana seluruh hidup Anda serta segala sesuatu yang ada di dalamnya telah dicipta oleh ANDA. Jin hanya menjawab setiap perintah yang Anda tugaskan. Jin adalah hukum tarik – menarik, dan ia selalu hadir serta mendengarkan segala sesuatu yang Anda pikirkan, ucapkan dan lakukan.

Jin menggangap segala sesuatu yang Anda pikirkan adalah apa yang Anda inginkan! Segala sesuatu yang Anda bicarakan adalah apa yang Anda inginkan! Segala sesuatu yang Anda lakukan adalah apa yang Anda inginkan!

Anda adalah Tuan dari Semesta, dan Jin ada di sana untuk melayani Anda. Jin tidak pernah mempertanyakan perintah Anda. Anda memikirkannya dan Jin segera mulai mendongkrak Semesta, melalui orang-orang, situasi dan peristiwa, untuk memenuhi keinginan Anda.”

Kesimpulan

Sebagai Motivator, saya percaya, bahkan sungguh-sungguh percaya, pada kekuatan kata-kata, pikiran dan emosi. Dan saya juga sungguh-sungguh percaya pengaruh kesemuanya itu terhadap nasib seseorang. Dalam seminar dan pelatihan Motivasi yang saya berikan di berbagai perusahaan, saya pun dengan antusias mengajarkan bahwa:

“Kata-kata negatif akan menciptakan pikiran negatif, pikiran negatif akan menciptakan emosi negatif, emosi negatif akan menciptakan keputusan negatif, keputusan negatif akan menciptakan tindakan negatif, tindakan negatif akan menciptakan kebiasan negatif, kebiasaan negatif akan menciptakan karakter negatif, dan karakter negatif akan menentukan kualitas hidup atau nasib seseorang.” Dan demikian sebaliknya!

Jadi bantahan saya terhadap buku/film The Secret tidak terletak pada kekuatan daripada pikiran. Bantahan saya justru ditunjukkan kepada pengajaran mereka yang berpusat pada diri manusia dan menyingkirkan keberadaan Allah yang berdaulat atas kehidupan manusia. Sekali lagi, saya sungguh-sungguh percaya pada kekuatan kata-kata, pikiran dan emosi positif. Saya terus melatih diri untuk mempraktekan ilmu ini setiap hari dan memang hasilnya sungguh-sungguh luar biasa. Namun, saya berkesimpulan bahwa Motivator sejati adalah:

“Motivator yang bukan saja hanya memahami potensi maha-dahsyat yang terdapat di dalam diri manusia, tetapi juga memahami sumber daripada potensi maha-dahsyat tersebut, yakni Allah sendiri. Dan potensi yang dimiliki manusia itu harus dikembalikan untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kemuliaan diri manusia sendiri.”

Karena itu secara tegas dan jelas, saya menyatakan diri sebagai Motivator Teosentris, yang percaya bahwa manusia dicipta oleh Allah untuk memuliakan Allah sendiri. Saya mengakui bahwa manusia diberikan bakat, talenta, pikiran, emosi dan kesadaran yang luar biasa hebat, tetapi semuanya itu harus tunduk di bawah perintah dan kedaulatan Allah. Nah konsep “Kedaulatan Allah” inilah yang hilang dari pengajaran The Secret.
Saya juga percaya bahwa manusia dicipta dan diberikan freewill oleh Tuhan, yaitu kebebasan untuk memilih. Namun kebebasan itu harus dimurnikan oleh Allah sendiri supaya manusia tidak memakainya untuk melawan Allah. Manusia tidak dicipta untuk kesenangan dirinya sendiri, melainkan untuk kesenangan penciptanya. Dan sesungguhnya ini adalah dasar daripada Ethos Kerja yang sejati, yakni manusia bekerja untuk menyenangkan hati Allah. Istilah populernya: “Kerja adalah ibadah!”

Motivator Antroposentris sangat berbeda, karena mereka berbicara mengenai potensi manusia untuk satu tujuan yakni untuk kesenangan manusia itu sendiri. Mereka bisa saja mengajarkan peserta seminar untuk berlaku baik, tetapi berlaku baik itu hanyalah sebagai strategi untuk mendapatkan sesuatu, baik dari sesama maupun dari Allah, yang mereka istilahkan sebagai alam semesta atau energi.

Perhatikan bagaimana Jack Canfield mengatakannya di dalam buku The Secret, halaman 45:

“Sejak mengenal Rahasia ini dan mulai menerapkannya ke dalam kehidupan, hidup saya sungguh menjadi ajaib. Menurut saya, jenis kehidupan yang diimpikan oleh setiap orang adalah kehidupan yang saya jalani sehari-hari. Saya tinggal di sebuah rumah besar bernilai empat setengah juta dollar. Saya mempunyai istri yang layak diperjuangkan sampai mati. Saya berlibur ke semua tempat indah di dunia. Saya mendaki gunung. Saya menjelajah. Saya mengikuti espedisi penelitian hewan liar. Semua ini sudah terjadi dan masih terus terjadi karena mengetahui cara menerapkan Rahasia.”

Dalam satu paragraf saja, terdapat sembilan kata “saya.” Pengajaran yang sangat berpusat pada diri sendiri ini telah merasuk dalam hati manusia modern, termasuk di Indonesia. Saya sampai tidak habis berpikir, bagaimana Jack Canfield bisa tidur nyenyak di dalam rumah seharga empat setengah juta dollar, sementara pada saat yang sama lebih dari empat setengah juta manusia di dunia tidur di bawah kolong jembatan dalam keadaan perut kosong. Wah, Motivator macam apa ini? Inilah Motivator Antroposentris dan guru daripada pengajaran New Age!

Maka, pesan saya untuk Anda, waspadalah terhadap buku-buku yang Anda baca maupun Motivator yang selama ini Anda idolakan. Bila Anda memiliki anak, pastikan Anda menjaga mereka, karena pengajaran ini sangat aktif disebarkan melalui Seminar/Training Motivasi, Film, buku, lagu, fashion, bahkan masuk ke dalam kelas sekolah dan institusi agama.

Bila Anda membeli buku atau ikut pelatihan/seminar Motivasi, telitilah dasar pemikiran dan ajaran para Motivator itu. Jadilah pembaca dan peserta seminar yang tidak mudah dibohongi dan dibodohi. Di luar sana ada banyak orang yang mengaku sebagai Motivator, namun mereka bukan Motivator sejati. Mereka hanya ingin meraup uang dari hasil penjualan buku dan hasil penjualan harapan-harapn kosong melalui pelatihan dan seminar mereka. Sesungguhnya, semua harapan itu semacam balon yang langsung pecah ketika ditusuk jarum. Waspadalah, jangan mau dibohongi lebih lama lagi!

Kepada rekan-rekan penulis dan Motivator yang membaca tulisan ini, mari kita semua menjadi Motivator Teosentris – Motivator Sejati! Mari kita jadikan Sang Pencipta Agung itu sebagai pusat dari setiap pengajaran kita, bahkan pusat dari seluruh hidup kita. Sesungguhnya menjadikan manusia sebagai pusat, apalagi menjadikan manusia sebagai allah, sudah dilakukan oleh iblis di taman Eden.

Di taman itu, Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu, karena tergoda oleh ajakan iblis bahwa setelah memakan buah itu mereka akan menjadi Allah. Dan kita tahu, akibatnya sangat fatal, hingga kita tanggung sampai hari ini. Mari kita sadari bahwa iblis yang sama masih melancarkan tipu muslihatnya hingga hari ini, karena ia memang bermusuhan dengan Allah. Tetapi dengan bersandar pada pertolongan Allah sendiri, saya yakin kita mampu bertahan bahkan mampu mengalami kebahagiaan dan kesuksesan yang sejati itu!

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.54   4 comments
Kebiasaan Menunda

Berkaca dari pengalaman pribadi dan kisah hidup banyak orang, saya berani menyimpulkan bahwa salah satu penyebab utama kegagalan seseorang, adalah: Kebiasaan menunda.

Selama bertahun-tahun saya pernah bergulat dengan kebiasaan buruk ini. Kenyataan bahwa saya menghabiskan lima tahun di bangku SMA jelas merupakan bukti nyata. Tetapi kalau mau jujur, berapa banyak di antara kita yang tidak pernah menunda membuat tugas atau menunda belajar hingga malam sebelum ujian? Hampir semua pernah melakukannya, sampai-sampai muncullah istilah “SKS” atau Sistim Kebut Semalam itu. Jadi jelas “menunda” adalah kebiasaan buruk banyak orang.

Tetapi, sama seperti kebiasaan lainnya, penundaan dibentuk secara perlahan-lahan. Tidak ada orang yang terlahir dengan rasa rendah diri, tidak ada orang yang terlahir dengan pola makan tertentu, tidak ada pula orang yang terlahir selalu menggigiti kuku, atau terlahir stress terus menerus. Demikian juga tidak ada orang yang terlahir dengan kebiasaan menunda-nunda. Semua kebiasaan adalah perilaku yang kita pelajari dan lakukan terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari sifat dasar kita. Sama seperti ungkapan John Dryden “Pertama kita membentuk kebiasaan, kemudian kebiasaan tersebut membentuk kita.”

Kebiasaan menunda pertama-tama dibentuk dari hal-hal kecil. Sebagai contoh, sebelum tidur kita menunda untuk sikat gigi karena sedang asyik menonton atau membaca majalah baru. Tetapi kemudian rasa ngantuk menyerang lalu tertidur. Ketika alarm bernyanyi di pagi hari, kita menunda untuk segera bangun, menunda lipat selimut, menunda mandi, dan menunda doa. Akhirnya kita menunda untuk mengerjakan sebuah tugas atau proyek kantor, dan kemudian menunda menjadi sebuah kebiasaan.

Jerry & Kristi Newcombe, dalam buku mereka berjudul “I’ll Do It Tommorow...” bercerita tentang seorang petani yang keluar untuk menggembalakan sapi. Tetapi pada saat ia pergi, ia menyadari sebuah pagar perlu diperbaiki. Untuk beberapa lama, ia bermaksud memperbaikinya, tetapi ia telah menundanya terlalu lama sehingga badai besar bisa meruntuhkannya. Jadi ia pergi ke dalam kandang untuk mengambil peralatannya, dan di sana ia melihat sampah yang ia simpan dari saat terakhir ia menggunakannya. Peralatan berserakan di seluruh ruangan, dan ia mulai mengaturnya.

Namun kemudian, ia ingat bahwa ia telah meninggalkan palu di dalam rumah, jadi sebelum ia selesai mengatur kotak perlatannya, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambilnya. Saat menuju rumah, ia menyadari bahwa ada empat kotak sampah yang belum ia keluarkan ke jalan, dan ia tiba-tiba ingat bahwa hari ini adalah hari untuk mengangkut sampah. Jadi ia membawa dua kotak sampah ke jalan, ketika ia melihat koran tergeletak di halaman.

Berita utama koran itu menangkap perhatiannya, jadi ia pergi ke dalam rumah dan duduk di kursi malas kegemarannya – “hanya untuk beberapa menit” – “hanya untuk membaca artikel ini” pikirnya. Sementara itu, sapi-sapinya merumput ke luar di hutan belantara.
Saya kira kisah petani di atas merupakan gambaran yang sangat tepat tentang penundaan. Seorang penunda akan menemukan hal-hal yang seharusnya dilakukan hari ini ditunda sampai besok untuk kemudian kembali ditunda dan akhirnya tidak pernah dikerjakan. Kalaupun pada akhirnya sesuatu itu harus dikerjakan karena sebuah tuntutan, namun karena dikerjakan secara terburu-buru dan dalam perasaan terpaksa, sudah dapat dipastikan bahwa hasilnya tidak maksimal. Itu sebab, penundaan dapat juga disebut sebagai jalan tol menuju kemiskinan.

Tidak heran bila banyak orang menyebut penundaan sebagai pencuri waktu, dan saya kira mereka benar. Ini berarti penundaan jauh lebih kejam dan jauh lebih berbahaya daripada sekelompok mafia. Para mafia mencuri uang dan harta benda lainnya, tetapi lebih daripada itu penundaan mencuri properti terbesar yang kita miliki yakni waktu. Akibatnya kita bisa kehilangan ketenangan dan mengalami perasaan bersalah tentang hal-hal penting yang tidak terselesaikan. Bahkan, kita bisa kehilangan seluruh kesempatan yang ditawarkan oleh kehidupan.

Bayangkan sepasang suami-istri yang akan pergi ke Bali untuk menghabiskan liburan akhir tahun mereka. Mereka telah membeli tiket dan merencakan sebuah rencana khusus ketika tiba di sana. Di hari itu, sementara sang suami bekerja, sang istri akan mengepak barang. Ia memiliki keinginan untuk melakukannya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ketika ia sedang berpikir, ia melihat sofa di ruang tamu begitu kotor, sehingga ia ingin membersihkannya. Ketika ia pergi ke dapur untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan, ia melihat piring dan gelas kotor berserakan di sana.

Jadi daripada berkemas, ia menghabiskan waktu berjam-jam membersihkan sofa dan area dapur. Saat sang suami pulang dari bekerja, sofa dan sebagian area dapur bersih mengkilat, tetapi tidak ada yang siap untuk berangkat karena baju-celana yang perlu mereka bawa masih terendam di tempat cucian.

Melewatkan Kesempatan

Coba renungkan berapa banyak kesempatan baik yang telah Anda lewatkan karena kebiasaan menunda. Mari renungkan berapa banyak potensi serta ide-ide maha agung yang dibawa sampai ke liang kubur karena seseorang menunda dan terus menunggu waktu “terbaik” untuk mewujudkannya.

Berapa banyak orang yang gagal dalam ujian akhir karena mereka menunda untuk mempersiapkan diri dengan baik? Berapa banyak tenaga penjual yang gagal mendapatkan sebuah proyek besar karena mereka menunda untuk melengkapi data yang dibutuhkan, atau sekedar menunda menghadiri sebuah pertemuan, menunda mengirim surat elektronik, atau sekedar menunda menelepon orang yang dibutuhkan?

Coba renungkan berapa banyak pengusaha yang menghabiskan waktu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menemukan sebuah ide bisnis, yang bisa meningkatkan keuntungan perusahaan. Namun mereka menunggu saat-saat yang “tepat” untuk melakukannya – hanya untuk menyaksikan perusahan lain menemukan ide serupa, yang langsung mengerjakannya dan menikmati keuntungan yang luar biasa.

Berapa banyak keluarga yang akhirnya tercerai-berai karena terbiasa menunda untuk menyelesaikan kesalah-pahaman yang ada? Bahkan barusan tadi pagi saya mendengar seseorang meninggal dunia hanya karena menunda untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang tengah ia derita. Jangan lupa hitung berapa banyak waktu dan uang yang terbuang percuma sebagai akibat menunda pembayaran beberapa tagihan.

Renungkan juga berapa banyak hubungan bisnis atau persahabatan yang berakhir dalam konflik berkepanjangan hanya karena seseorang menunda untuk memberi penjelasan atau sekedar meminta maaf. Renungkan berapa banyak hubungan baik yang gagal terbangun hanya karena seseorang menunda memberi senyum atau sekedar tegur sapa. Bila semua dihitung satu per satu maka jelas bahwa penundaan adalah pencuri yang paling kejam. Mungkinkah ia tengah mencuri dari Anda hari ini? Selamat merenung...

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.51   0 comments
Menang Atas Kehilangan
Kehilangan adalah sebuah pengalaman yang dapat dialami oleh setiap orang. Tidak peduli apakah Anda pria atau wanita, tinggal di kota atau di desa, miskin atau kaya raya, penguasa atau rakyat jelata, orang muda atau lanjut usia. Pengalaman kehilangan tidak mengenal agama ataupun suku bangsa. Ia bersifat universal sehingga tidak seorang pun yang dapat luput dari padanya.

Pengalaman kehilangan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada orang yang kehilangan harta, ada pula yang kehilangan orang yang dicintainya. Ada orang yang kehilangan pekerjaan ada pula yang kehilangan tempat tinggalnya. Ada orang yang kehilangan jabatan dan ada pula yang kehilangan kesehatannya. Bahkan pada akhirnya, setiap orang akan kehilangan nyawanya!

Maka ketika saya berpikir lebih dalam, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa: “Hidup adalah rangkaian pengalaman tentang kehilangan.” Kesimpulan ini bisa jadi merupakan sesuatu yang “menakutkan” bagi banyak orang, sehingga tidak heran bila sangat sedikit yang berani membicarakannya secara terbuka.

Tetapi karena “pengalaman kehilangan” adalah sebuah realita hidup manusia, maka yang terbaik dan paling bijaksana adalah supaya kita belajar mengenali dan menang atas “kehilangan” itu sendiri. Bila tidak, kita akan menjadi orang-orang yang hidup dalam kesedihan dan kekecewaan tak berujung.

Sebagai seorang Motivator, sudah menjadi pekerjaan saya untuk membuat seseorang bergerak maju, bekerja dengan antusias dan penuh semangat, guna mendapatkan suatu hasil yang lebih baik dan semakin baik. Namun semakin banyak orang yang saya temui, saya semakin menyadari bahwa ternyata menolong orang untuk mendapatkan sesuatu barulah setengah perjalanan karir seorang Motivator sejati.

Sesungguhnya, perjalanan hidup untuk mendapatkan dan mempertahankan sesuatu, hanyalah satu sisi mata uang. Sisi yang lain daripada kehidupan manusia berbicara mengenai kehilangan apa yang pernah didapat. Pada saat “pengalaman kehilangan” itulah pencerahan yang sejati dibutuhkan. Dan pencerahan ini tidak dapat diberikan oleh Kecerdasan Emotional (EQ). Seseorang yang sedang mengalami kehilangan hanya dapat dicerahkan secara tuntas oleh Kecerdasan Spiritual (SQ), seperti yang akan kita bahas kali ini. Renungkan kisah berikut...

Kisah Seorang Pemburu

Diceritakan tentang dua orang sahabat yang tinggal di suatu desa. Mereka memiliki kesenangan yang sama, yakni: berburu. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berada di tengah hutan tiba-tiba seekor harimau muncul siap menerkam mereka berdua. Dengan sekuat tenaga kedua sahabat bergelut dengan harimau yang sangat kuat itu, dan harimau itupun berhasil dikalahkan.

Namun akibat dari pertempuran sengit itu, salah satu dari mereka kehilangan tiga jari tangan kanannya. Sementara sahabat yang satu lagi kehilangan seluruh jari tangan kanan dan kirinya. Dengan bantuan seseorang yang tengah lewat, kedua sahabat berhasil kembali ke rumah dengan selamat. Setelah perawatan selama tiga bulan, luka-luka mulai sembuh dan mereka siap memulai hidup baru.
Tetapi dengan berjalannya waktu, sahabat yang kehilangan tiga jari sering murung dan kehilangan gairah hidup. Ia sering marah dan mengurung diri di dalam rumah. Ia sering bercerita betapa kecewanya dia dengan ketiga jarinya yang telah hilang.

Bagaimana dengan sahabat yang kehilangan sepuluh jari? Apakah ia murung dan tersiksa oleh rasa kecewa yang lebih besar? Ternyata tidak, ia masih bisa tersenyum dan mampu menatap masa depan dengan penuh gairah.

Pertanyaanya adalah: mengapa mereka sangat berbeda dalam hal meresponi kehilangan yang mereka alami? Ketiga poin di bawah ini merupakan jawabannya.

1. Tak ada yang kebetulan

Ketika Anda kehilangan sesuatu yang berharga, seperti kehilangan pekerjaan, usaha bangkrut, kehilangan kesehatan atau ditinggal pergi oleh orang yang Anda cintai, hal yang normal bila Anda menangis dan bersedih hati. Namun jangan biarkan “kehilangan” itu menguasai dan meruntuhkan hidup Anda selamanya. Bangkit dan sadarkan diri Anda bahwa tidak ada satupun yang terjadi karena kebetulan, termasuk juga di dalam kehilangan yang tengah Anda alami.

Di balik semua kejadian selalu, sekali lagi saya katakan, selalu ada maksud dan tujuan yang baik. Memang, pada waktu kita sedang berada di tengah titik kehilangan itu, tidak selalu mudah untuk mengenali maksud dan tujuan baik yang dikandungnya. Tetapi bila saja, melalui kehilangan itu, kita dapat belajar untuk lebih kuat menghadapi kehilangan berikutnya, bukankah hal tersebut telah menjadi sesuatu yang baik dan berharga?

Jadi, sekali lagi mari kita belajar untuk percaya bahwa tidak ada kejadian, bahkan yang paling buruk sekalipun, yang terjadi secara kebetulan atau diluar ijin Sang Penguasa dunia ini. Di tengah kehilangan, yakinkan diri Anda bahwa Tuhan masih mengontrol dunia ini, termasuk hidup Anda. Lebih dari itu yakinkan diri Anda bahwa Tuhan tidak mungkin merencanakan kecelakaan untuk umatNya, karena hal itu melawan naturNya, yang adalah baik, kudus, dan adil. Karena itu, jangan putus asa, dan jangan pernah menyerah!

2. Menghitung yang Tersisa

Pemburu yang kehilangan tiga jari menjadi kecewa dan tidak mampu bersyukur karena ia terlalu sibuk menghitung apa yang telah hilang darinya. Memang, ketika pikiran kita difokuskan pada apa yang telah hilang maka kehilangan tiga jari bisa terasa sangat menjengkelkan.

Bila dibayangkan, hidup pastilah tidak senyaman seperti waktu memiliki jari yang lengkap. Bekerja pasti lebih susah, belum lagi perasaan malu bila berjabat tangan dengan seseorang. Wah betapa sedihnya, betapa repotnya, dan betapa malunya kehilangan tiga jari.

Tetapi pemburu yang satu lagi tidak mengfokuskan pikirannya untuk menghitung sepuluh jari yang telah hilang, karena ia sadar jari itu tidak mungkin lagi dapat kembali. Ia menolak untuk menjadi korban kejadian masa lalu.

Karena itu, ia memilih untuk menghitung apa yang tersisa dalam hidupnya. Maka kemudian setiap pagi, ia bersyukur bahwa ia masih diberikan kesempatan untuk hidup. Dia sadar, di hutan itu sesuatu yang jauh lebih buruk bisa saja terjadi kepadanya. Ia bisa saja kehilangan nyawa!

Maka kemampuan kita bersyukur sangat tergantung cara kita menghitung. Bila kita menghitung dari apa yang hilang, maka pastilah kita akan sulit bersyukur. Sebaliknya, bila rasa syukur berangkat dari apa yang tersisa, mungkinkah rasa syukur itu akan pernah berakhir?
3. Mendapat Sang Pemberi

Poin yang ketiga ini jauh lebih penting dibandingkan poin yang pertama dan kedua diatas. Untuk dapat menghadapi kehilangan maka seseorang harus naik kelas dari pemahaman spiritual: “Aku ingin mendapat ini-itu dari Tuhan” menjadi “Aku ingin mendapatkan Tuhan itu sendiri (Sang Pemberi ini-itu).”

Maksudnya begini: Banyak orang yang beragama, kemudian berbuat baik atau hidup saleh karena mereka berharap, melalui semua perbuatan baik mereka, hidup mereka diperlancar, keluarga mereka dijagai, usaha mereka dibuat berhasil, tubuh mereka disehatkan...oleh yang namanya Tuhan.

Silahkan baca lagi kalimat di atas, dan renungkan sebentar. Kalau Anda dapat memahami konsep penting ini maka Anda akan meresponi kehilangan, bahkan hidup secara keseluruhan secara berbeda. Perhatikan, pada kalimat di atas, yang menjadi tujuan akhir adalah “mendapatkan ini-itu” dari Tuhan.

Artinya adalah: Tuhan berperan sebagai “alat”. Sekali lagi, Tuhan ditempatkan hanya sebagai alat untuk mendapatkan ini-itu.

Risiko bagi orang yang memiliki pemahaman seperti di atas adalah, ketika suatu hari ia ditimpa kemalangan dan mengalami kehilangan, ia akan merasa sangat kecewa, frustasi, putus asa, berhenti berbuat baik dan kemudian mulai mengutuki serta meninggalkan Tuhan.

Mengapa ia mengutuki dan meninggalkan Tuhan? Alasannya sangat sederhana: Karena Tuhan tidak bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang tersebut.

Maka, ketika saya pikirkan lebih dalam lagi tentang konsep ini, maka yang paling menarik adalah: Dari konsep pemahaman seperti di atas, ternyata, sebetulnya yang tengah berperan sebagai Tuhan, bukanlah Tuhan melainkan manusia yang tengah berharap “ini-itu” tersebut.

Maka, sekali lagi, yang terjadi adalah: Tuhan tidak lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh manusia. Jelas, ini adalah pemahaman yang terbalik dan keliru, dan tentu saja sangat berbahaya bagi jiwa seseorang.

Itulah sebab, saya menawarkan pemahaman lain dalam meresponi kehilangan. Mari kita naik kelas dari sekedar mengharapkan ini-itu dari Tuhan, menjadi ingin mendapatkan Tuhan itu sendiri. Hanya dengan pemahaman yang baru inilah, maka hubungan kita dengan Sang Pencipta, tulus didasarkan pada cinta kita kepadaNya, dan bukan cinta kita kepada pemberianNya. Artinya, waktu kaya ataupun miskin, waktu sehat ataupun sakit, kita mampu mengucap syukur dan tidak berhenti berbuat baik apalagi sampai mengutuki dan meninggalkan Dia.

Maka di level pemahaman yang baru inilah manusia dapat berkata:

“Di tengah dunia yang fana ini, aku dapat kehilangan segala-galanya. Namun, kendati aku kehilangan segala-galanya, aku ingin pastikan bahwa aku mendapatkan Sang Pemberi, sumber segala-galanya, yaitu Tuhan itu sendiri. Dan bagiku itulah yang paling berarti!”

Sekali lagi, “kehilangan” adalah realita hidup manusia. Ketika ia datang menghampiri, dengan tegar mari menghadapinya dengan tiga tips di atas, sampai kita menjadi pemenang.

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.48   0 comments
Kekuatan Fokus
Orang Italia memiliki pepatah yang sangat bagus, bunyinya: “Often, he who does too much does too little.” Terjemahan bebasnya kira-kira begini: Seseorang yang mengerjakan terlalu banyak (tidak fokus), biasanya mendapatkan hasil yang sangat sedikit.

Senada dengan itu orang terkaya dunia, Bill Gates juga pernah berucap “My success, part of it certainly, is that I have focused on a few things.” Jadi Bill Gates berbagi ilmu, bahwa ternyata ia berhasil menjadi orang terkaya dunia karena dari awal perjalanan bisnisnya (Mircrosoft) Ia telah memutuskan untuk berfokus hanya pada beberapa hal saja, yakni hal-hal yang sesuai dengan potensi yang ia miliki, khusunya sebagai seorang creator atau pencipta suatu ide/produk.

Bayangkan bila Bill Gates, selama tiga tahun membangun Mircrosoft, kemudian selama dua tahun belajar dan berusaha keras menjadi seorang politikus handal, lalu dua tahun kemudian berusaha menolong anak-anak yatim dengan bekerja di World-Vision. Dan tiga tahun kemudian, ia memulai bisnis baru dalam bidang properti.

Sudah pasti, hasil yang didapatkannya akan sangat jauh dari yang ia miliki saat ini. Bisa jadi, ia akan dikenal sebagai pecundang nomor satu dunia dan bukan orang terkaya.

Setelah mempelajari kehidupan orang-orang sukses, yaitu orang-orang yang telah berhasil memberikan pengaruh di jaman mereka masing-masing, saya sampai pada suatu kesimpulan: “Salah satu alasan terbesar kegagalan seseorang adalah hilangnya fokus dalam usaha atau pekerjaanya.” Nyatanya, terlalu banyak orang yang berubah usaha, profesi atau pekerjaan semudah berubahnya arah angin. Tidak heran bila mereka selalu kecewa dengan hasil yang mereka dapatkan.

Sekarang, coba Anda amati orang-orang yang ada di sekitar Anda, mungkin saudara atau seorang teman. Berapa orang yang konsisten atau fokus mengerjakan sesuatu dengan kualitas terbaik selama lima tahun terakhir, dan berapa orang yang sudah berpindah profesi atau pekerjaan? Kemudian bandingkan tingkat kesuksesan dan kebahagiaan kedua kelompok tersebut. Saya yakin, orang yang fokus pastilah lebih sukses dan lebih bahagia. Pasti!

Namun perhatikan, supaya tidak salah menyimpulkan, perlu diingat bahwa perbandingan di atas, harus dilakukan “apple to apple.” Artinya bandingkan orang-orang dengan tingkat pendidikan atau jabatan yang sama. Gaji seorang Manager yang berpindah kerja setiap awal tahun tidak dapat dibandingkan dengan gaji seorang Office Boy yang telah bekerja pada sebuah perusahaan selama sepuluh tahun.

Perlu diingat juga bahwa konsep untuk berfokus pada suatu pekerjaan atau profesi tidak sama dengan menyerah atau menerima nasib. Hal yang tidak bijaksana bagi seseorang untuk bertahan pada jabatan supervisor di sebuah perusahaan keluarga selama delapan tahun, bila di perusahaan automotive besar ada kesempatan untuk menjadi Manager dengan kompensasi yang lebih tinggi. Lebih lagi bila ia lebih menyenangi industri automotive dibanding pekerjaannya yang sekarang.

Jadi berpindah kerja atau profesi atau mencoba jenis usaha lain, selama beberapa kali bisa saja dibenarkan. Tujuannya jelas, yaitu mencari pekerjaan, profesi atau usaha yang lebih sesuai dengan bakat dan potensi masing-masing. Namun bila perpindahan atau perubahan itu menjadi pola jangka panjang atau kebiasaan, itulah yang akan menciptakan kegagalan tak berujung.

Menjadi Ahli

Saya sangat meyakini bahwa untuk tampil sebagai pemenang di era persaingan ini, Anda harus menjadi seorang ahli di bidang yang Anda geluti. Kebenaran ini berlaku untuk individu maupun perusahaan!

Karena itu, berusahalah sungguh-sungguh untuk mengenali potensi dan bakat terbaik Anda. Kenali pekerjaan, profesi atau bidang usaha yang Anda senangi. Kemudian, bila hal-hal yang diperlukan sudah siap, ambil langkah pertama.

Pada mulanya tidak akan mudah, namun bila Anda tekun dan sabar, dalam tahun yang ketiga Anda akan mulai memanen hasil jerih payah Anda. Kebenaran ini saya alami secara pribadi. Tahun pertama saya memulai karir sebagai Motivator & Business Trainer betul-betul sulit. Waktu itu saya masih usia 27 tahun, dengan uang dan pengalaman pas-pasan.

Ketika saya menemui beberapa senior dan pimpinan perusahaan untuk sharing visi, tidak sedikit yang menyuruh saya pulang dan mulai mencari pekerjaan. Alasan mereka selalu sama, “Eloy, kamu terlalu muda.” Bahkan ada yang lebih ekstrem, seorang wanita berkata “Eloy untuk menjadi pembicara sukses, perlu modal. Mobil mewah adalah salah satunya.” Ia berkata demikian karena ia tahu bahwa waktu itu saya tidak punya kendaraan. Namun sekali lagi, dengan ketekunan dan kesabaran sukses itu akan dapat diraih. Saya telah membuktikan bahwa keraguan mereka tidak berdasar!

Sebagai penutup, renungkan tiga pertanyaan ini:

(1) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang fokus pada pekerjaan, profesi atau usahanya?

(2) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang ahli di bidangnya?

(3) Ketika nama Anda disebut, apakah orang-orang membayangkan seorang yang mencitai pekerjaanya?

Mari kita berloma-lomba menjawab “ya” terhadap ketiga pertanyaan tersebut, karena itulah kunci menuju kesuksesan dan kebahagiaan tak terbatas!

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.45   0 comments
Bekerja Sesuai Bakat
Ratusan tahun yang lalu, Confucius pernah memberi nasihat begini, “Carilah pekerjaan yang betul-betul Anda senangi, maka seumur hidup Anda tidak perlu lagi menyebutnya bekerja.” Senada dengan itu Malcolm Forbes pernah berucap; “Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan seseorang adalah tidak berusaha mencapai kesuksesan dengan cara mengerjakan apa yang betul-betul ia senangi.”

Bayangkan skenario berikut ini...

Sepuluh orang dari kampung dibawa ke Jakarta. Mereka berumur masing-masing 21 tahun, pendidikan terakhir SMP, dan seumur hidup mereka belum pernah melihat “benda” bernama Komputer. Sesampai di Jakarta, mereka mengikuti kursus Komputer selama enam bulan. Setelah selesai kursus mereka bekerja pada sebuah perusahaan dimana pekerjaan utama mereka adalah mengetik setiap hari. Setelah enam bulan, kualitas kerja mereka dievaluasi. Kira-kira menurut Anda, apakah kualitas mengetik mereka semua sama?

Jawabannya, tidak sama! Ada yang sangat baik, ada yang cukup baik, ada pula yang buruk. Pertanyaanya adalah, mengapa bisa demikian? Bukankah mereka memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sama? Mereka juga kursus di tempat yang sama, dimana materi dan staf pengajarnya semua sama. Lalu mengapa hasil akhir bisa berbeda?

Secara sederhana, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah; karena terdapat perbedaan talenta atau bakat khusus di dalam diri masing-masing orang.

Benson Smith & Tony Rutigliano, dalam buku mereka yang terkenal berjudul “Discover Your Sales Strengths,” menceritakan penemuan mereka bahwa ternyata orang-orang dengan kualitas mengetik terbaik memiliki kombinasi antara kecekatan fisik atau physical dexterity (khususnya di bagian jari-jari), dengan kemampuan berkonsentrasi pada pekerjaan yang sama, selama berjam-jam bahkan berbulan-bulan tanpa merasa jenuh.

Menurut mereka, kemampuan seperti itu tidak didapat melalui kursus, pengalaman ataupun pendidikan. Kemampuan tersebut merupakan talenta atau bakat khusus yang terdapat dalam diri seseorang bahkan sebelum ia melihat benda bernama Komputer. Masih menurut Smith & Rutigliano, tanpa talenta yang tepat, semua pengalaman, pelatihan dan pendidikan tidak akan pernah mampu menjadikan seseorang menjadi The World-Class Performers, atau performer kelas dunia.

Seseorang yang memiliki talenta seperti dijelaskan di atas, pada saat mulai mengetik ia merasakan suatu daya tarik yang maha dahsyat. Di saat itu ia menemukan core-geniusnya, dan potensi terbaiknya bangun dari tidur. Maka orang ini, mengikuti kursus dengan penuh keceriaan. Ia mengerjakan semua pekerjaan kantor dengan sukacita dan tanpa paksaan. Ia menjadi ketagihan, sampai-sampai lupa makan dan lupa tidur. Inilah keadaan yang dikenal dengan istilah flow – mengalir / hanyut.

Seorang komposer melukiskannya seperti ini:

“Berada dalam suatu keadaan ekstase sampai disuatu titik di mana Anda merasa seolah-olah Anda hampir-hampir tidak nyata. Saya pernah mengalami hal ini berulang kali. Seakan-akan tangan saya bukan lagi milik saya, dan saya merasa tidak terlibat apa-apa. Saya hanya duduk mematung seraya menonton dalam keadaan takjub dan kagum. Gubahan itu seolah-olah mengalir dengan sendirinya.”

Flow

Istilah flow, pertama kali diperkenalkan oleh Mihaly Csikszentmihalyi, ahli psikologi dari University of Chicago lewat bukunya yang terkenal “Flow: The Psychology of Optimal Experience.” Di situ ia menampilkan hasil penelitiannya selama dua puluh tahun, terhadap kesaksian berbagai macam orang dari berbagai macam profesi: Penari, pendaki gunung, insinyur, ahli bedah, pelukis, pemahat, pemain catur, musisi, atlit, ice skater, petani, guru, penulis, ibu rumah tangga dan sebagainya.

Dari penelitian tersebut ia mendapatkan benang merah pengalaman yang sama dari orang-orang-orang yang berbeda, bahwasanya kualitas kerja mereka mencapai hasil terbaik ketika mereka mengalami suatu peleburan total atau hanyut dalam apa yang sedang mereka kerjakan. Perasaan seperti itu memabukkan dan menimbulkan ketagihan seperti tengah melayang atau mengalir seperti air, oleh karenanya ia dinamakan flow.

Kesimpulannya adalah; kinerja terbaik dihasilkan pada saat seseorang mengerjakan sesuatu dengan senang hati atau berada dalam zona flow. Mengenai hal itu saya meyakini bahwa keadaan flow muncul ketika seseorang mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan talenta atau bakat alaminya. Talenta atau bakat alami ini bersifat given, yang berarti diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang secara unik dan berbeda-beda.

Apakah ada talenta yang lebih superior dibandingkan talenta yang lain? Menurut pemahaman saya tidak ada. Setiap talenta pada dasarnya baik dan memiliki potensi untuk mengukir sejarah. Namun seseorang bisa berakhir sebagai “Pecundang” karena ia tidak mengenali talenta atau bakat khusus yang ada di dalam dirinya. Atau pada beberapa kasus, seseorang mengenali talenta yang ia miliki namun ia tidak menghargainya. Ia lebih memilih untuk menjadi diri orang lain sehingga talenta yang ia miliki tidak berkembang, bahkan bisa hilang.

Jadi setiap orang diberikan talenta atau bakat khusus, namun menjadi tanggung jawab masing-masing orang untuk menemukan, menghargai dan mengembangkannya. Sekarang, bagaimana cara menemukan talenta atau bakat khusus tersebut? Berikut adalah lima langkah yang dapat digunakan, yakni:

1. Hasrat - Ingat waktu Anda masih remaja. Mungkin Anda merasa senang olah-raga, bermain musik, menulis, menari, melukis atau berbicara di depan umum? Ingat suatu kegiatan yang mana ketika Anda melakukannya, Anda merasakan suatu kesenangan yang amat sangat. Anda seakan memasuki zona flow.

2. Kemampuan belajar dengan cepat – Ada orang-orang yang sangat cepat belajar suatu olah raga baru. Sementara orang lain lebih cepat mengikuti gerakan tarian baru. Dan lain lagi lebih cepat belajar piano. Dan yang lain lagi lebih cepat memahami bagaimana menjadi pembicara yang menggugah dan mengubah. Bagaimana dengan Anda?

3. Kepuasan – Ketika Anda mengerjakan suatu kegiatan Anda merasakan suatu kepuasan. Anda tidak saja hanya merasa senang tetapi juga merasa puas dan bangga ketika mengerjakannya.

4. Kemenangan kecil di masa lalu – Pada waktu saya masih kuliah di Melbourne, saya sering mendapat kesempatan untuk berbicara di depan sekelompok orang. Setelah berbicara, tidak jarang saya mendapatkan pujian dari seseorang yang berkata bahwa hal yang baru saya sampaikan telah menguatkan dan menginspirasi mereka. Kemenangan – kemenangan kecil seperti itu telah menghantarkan saya kepada profesi seperti saat ini.
5. Bertanya – Langkah yang paling penting adalah bertanya kepada Sang Pemberi Talenta, yaitu Tuhan sendiri. Tuhan memberikan talenta tertentu kepada Anda supaya Anda hidup dan beraktivitas sesuai dengan talenta tesebut. Tuhan tidak membiarkan Anda tinggal dalam kebingungan. Sebaliknya, Ia ingin Anda mengenali talenta yang Ia berikan supaya hidup Anda efektif dan efesien.

Maka bila lampu dicipta untuk menerangi, kursi dibuat untuk diduduki, bagaimana dengan manusia? Ada orang yang dicipta untuk menjadi Dokter, maka jadilah Dokter terbaik. Ada orang yang dicipta menjadi Pengacara, maka jadilah Pengacara terbaik. Ada orang yang dicipta menjadi Motivator, maka jadilah Motivator terbaik. Demikian juga dengan pengusaha, guru, dan ibu rumah tangga. Semuanya dicipta untuk menunaikan tugas panggilannya dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya, inilah dasar dari pemikiran “Kerja adalah Ibadah...”

Maka, bila Anda melihat benang merah dari kelima hal di atas, itulah karir atau profesi yang telah disiapkan untuk Anda. Kerjakanlah dengan semangat dan ketekunan, maka imbalan yang akan Anda nikmati akan berkelimpahan. Secara khusus Anda akan mengalami pemenuhan dan kepuasan batin.

Saya telah berjanji dan terus berjuang untuk menjadi “ One of the World Greatest Motivator...,” berpatokan pada kelima langkah di atas, saya meyakini bahwa saya diberikan talenta dan bakat khusus dalam bidang ini. Mudah-mudahan Anda pun menjadi The Greatest, atau yang terbaik dalam bidang Anda masing-masing. Maka, melalui profesi atau pekerjaan kita, masyarakat dunia yang lebih makmur dan lebih sejahtera akan dapat kita saksikan bersama.


Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.43   0 comments
Mencintai Pekerjaan

“What is it that you like doing? If you don’t like it, get out of it, because you’ll be lousy at it. You don’t have to stay with a job for the rest of your life, because if you don’t like it you’ll never be successful in it.”

Kalimat di atas merupakan nasihat dari seorang pemimpin bisnis kaliber dunia, bernama Lee Iaccocca. Intinya adalah, bila Anda ingin sukses dalam karir atau usaha, Anda harus memulainya dengan menemukan apa yang anda senangi, kemudian kerjakan dengan fokus serta ketekunan. Dengan berlalunya waktu, Anda akan menjadi ahli dalam bidang tersebut. Dengan itu, imbalan dalam bentuk materi, status dan berbagai penghargaan lainnya pasti akan menjadi milik Anda.

Memang, pekerjaan atau usaha apapun pasti membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin ada kesuksesan sejati dengan tidur-tiduran sepanjang hari. Namun, bila Anda menyenangi kegiatan/pekerjaan itu, Anda akan jauh lebih kuat dan lebih bersemangat dalam menjalaninya, sekalipun harus mandi keringat dan meneteskan air mata.

Dalam film Center Stage, diceritakan tentang dua orang gadis cantik yang sedang berlatih di American Ballet Academy. Gadis yang satu bernama Maureen dan yang satu lagi bernama Jody. Maureen telah belajar Ballet sejak masih anak-anak, sementara Jody baru memulainya setamat High School (SMU). Menurut dua orang pelatih, Jody tidak memiliki kaki dan postur tubuh yang cocok untuk menjadi penari Ballet. Jody pun terancam dropped out dari sekolah Ballet tersebut.

Berbeda dengan Maureen. Ia bukan hanya cantik, ia juga memiliki kaki yang sangat lentur dan memiliki teknik yang sangat baik. Tetapi pada suatu malam pertunjukkan besar, dimana Maureen seharusnya menjadi pemeran utama, ternyata ia tidak muncul di panggung. Ibunya bingung lalu bergegas keluar mencari Maureen.

Di hadapan mama yang sedang kecewa, Maureen mencurahkan isi hatinya. Ia mengundurkan diri karena sesungguhnya ia tidak pernah mau menjadi penari Ballet. Satu-satunya alasan ia melakukannya selama belasan tahun adalah karena sang mama mendorongnya terus-menerus. Dengan tetesan air mata, Maureen berkata:

“Mama mencintai Ballet tetapi tidak punya kaki lentur seperti kakiku. Aku punya kaki lentur tetapi aku tidak punya hati untuk Ballet seperti hati mama.”

Kemudian mereka tertunduk lalu berpisah melewati pintu yang berbeda. Bagaimana dengan Jody?

Diperlihatkan, ketika teman-temannya sedang tertidur pulas Jody berlatih sendirian. Kuku-kuku jari kakinya lecet dan berdarah-darah namun ia terus berlatih. Suatu kali ia berkata kepada pelatihnya:

“Aku tidak ingin meneruskan kuliah, aku hanya ingin menjadi penari Ballet.”

Bagi Jody, tidak ada kegiatan/pekerjaan lain yang lebih menyenangkan kecuali menjadi seorang penari Ballet. Singkat cerita, dengan kerja keras dan ketekunan ia berhasil menjadi penari Ballet profesional. Pada suatu akhir pertunjukkan dimana ia menjadi pemeran utama, para pelatih, teman-teman dan seluruh penonton berdiri memberikan tepuk tangan sebagai penghargaan atas kesuksesannya. Itulah buah dari cinta terhadap pekerjaan!

Sebaliknya, bila Anda tidak menyenangi apa yang Anda kerjakan dan bila Anda bekerja semata-mata hanya demi gaji bulanan, lebih baik Anda mulai memikirkan kegiatan/pekerjaan lain yang Anda senangi. Mungkin Anda dapat menghasilkan sesuatu untuk bertahan hidup setiap bulan, tetapi yakinlah Anda tidak akan mungkin menorehkan tinta emas kesuksesan dengan mengerjakan sesuatu setengah hati. Tentang ini, Kahlil Gibran pernah menulis...

Kerja adalah cinta yang nyata, kasih yang tampak
Dan jika engkau tidak bekerja dengan cinta
Tetapi hanya dengan rasa enggan
Lebih baik bagimu untuk tidak bekerja
Dan duduk saja di pinggir jalan sambil mengemis
Dari orang-orang yang bekerja dengan sukacita

Bila Anda tidak menyenangi pekerjaan Anda, sudah pasti Anda akan sering menunda pekerjaan. Anda akan cepat merasa bosan, jenuh dan menggerutu terus-menerus. Anda juga harus memaksakan diri untuk menyelesaikan segala sesuatu. Anda tidak akan terpacu untuk belajar lebih banyak tentang pekerjaan Anda. Bagi Anda, kerja tidak lain adalah sebuah penderitaan.

Dalam kondisi seperti ini, secara fisik Anda boleh hadir di kantor tetapi hati dan pikiran Anda berada di tempat lain. Energi yang Anda pantulkan selalu negatif. Dan entah Anda sadar atau tidak, atasan, teman-teman dan pelanggan Anda sesungguhnya dapat merasakan energi negatif yang Anda pantulkan tersebut. Akibatnya mereka merasa tidak nyaman bekerjasama dengan Anda. Hasil akhirnya sudah dapat dibayangkan, kinerja Anda pastilah tidak pernah memuaskan. Dengan berlalunya waktu, Anda akan menjadi virus dalam perusahaan tersebut, dan semua pihakpun akan dirugikan.

Konsep atau pemikiran seperti ini masih asing bagi kebanyakan orang. Bagaimana tidak, dari kecil kita telah diajar, baik langsung atau tidak langsung, bahwa “kerja” dan “kesenangan” berada pada kutub yang berbeda. Keduanya tidak mungkin bersatu. Selama lima hari (Senin – Jumat) kita bekerja banting tulang. Selama itu pula kita mengalami berbagai tekanan dan level stress kita terus meningkat. Tetapi pada hari Sabtu dan Minggu, kita menikmati hari pembebasan. Itulah sebabnya pada hari Jumat, kita mendengar orang-orang berteriak kegirangan, “Thanks God, Its Friday!” Dengan kata lain, syukurlah sekarang sudah hari Jumat! Aku bebas...!

Tetapi pertimbangkanlah hal ini: Rata-rata 1/3 dari waktu kita habis untuk bekerja, yaitu delapan jam per hari. Kalau Anda tersiksa selama lima hari dalam seminggu oleh karena Anda tidak menyenangi pekerjaan Anda, bayangkan akibatnya bagi kesehatan dan kehidupan Anda secara keseluruhan.

Setelah membaca semua itu mungkin Anda kemudian bertanya tiga hal:

Pertama: Apa mungkin semua orang bisa mengerjakan apa yang ia senangi dan mendapat imbalan cukup darinya?

Kedua: Bila memang mungkin, darimana memulainya? Karena saat ini saya masih belum menemukan kegiatan/pekerjaan apa yang saya senangi.

Ketiga: Bila saya sudah menemukan apa yang saya senangi, apakah itu berarti saya harus segera keluar dari pekerjaan? Ataukah saya bisa memulainya dengan mencintai apa yang sekarang saya kerjakan?

Menjawab ketiga pertanyaan di atas, untuk sementara, renungkan dua pertanyaan ajaib ini:

(1) Kegiatan apa yang Anda mau kerjakan dengan sebaik-baiknya sekalipun tanpa dibayar?

(2) Bila dengan mengerjakan suatu kegiatan, lima tahun dari hari ini Anda akan mendapatkan imbalan materi sebesar Rp. 50 Juta per bulan (Anda boleh ganti 50 Juta menjadi 500 Juta, tergantunag kondisi Anda saat ini). Kira-kira kegiatan apakah yang tergambar dalam pikiran Anda?

Bagi saya, kegiatan itu adalah berdiri di atas panggung untuk memotivasi dan melatih puluhan, ratusan dan ribuan orang. Termasuk juga kegiatan menulis seperti ini. Bagaimana dengan Anda?

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.41   0 comments
Nedes Nak, Nedes

Beberapa waktu lalu, saya memberikan pelatihan Motivasi untuk sebuah perusahaan di Bandar Lampung. Salah seorang peserta memberikan pertanyaan yang sangat menarik, kira-kira demikian:

“Saya sangat setuju dengan yang Pak Eloy ajarkan, bahwa manusia memiliki potensi untuk meraih sukses yang tak terbatas. Tetapi kenyataannya, pada saat kita berusaha untuk meraih kesuksesan itu, sering kali hasilnya tidak maksimal. Saya pikir-pikir, sepertinya hal itu terjadi karena kita sering kali tidak konsisten atau terlalu cepat menyerah.

Tetapi kita menyerah bukan karena kita tidak mampu lagi untuk meneruskan perjuangan. Melainkan karena kita tergoda untuk mengikuti perasaan kita sendiri yang cenderung tidak mau susah atau tidak mau bayar harga. Maunya, cari yang instan...Nah, pertanyaan saya adalah, bagaimana kita bisa menang atas kencenderungan seperti ini?”

Setelah berpikir cukup keras, saya pun memberikan tiga tips seperti yang diharapkan. Salah satu dari tips tersebut saya ingat dari sebuah buku yang pernah saya baca pada tahun 1998. Buku tersebut berjudul “The Road Less Travelled,” karya agung seorang Psychiatrist bernama Morgan Scott Peck. Salah satu bab dalam buku ini diberi judul “Delaying Gratification – Sacrificing Present Comfort for Future Gains.”

Delaying gratification secara sederhana dapat diterjemahkan menjadi: “Menunda kesenangan/kenyamanan sesaat demi mendapatkan kesenangan/kenyamanan yang lebih besar dan lebih utuh di kemudian hari.”

Tips ini dijelaskan dengan sebuah penelitian yang pernah dilakukan dengan melibatkan sejumlah anak-anak berusia sekitar 4 tahun. Anak-anak tersebut dikumpulkan dalam suatu ruangan. Di atas meja mereka masing-masing diletakkan empat buah marshmallow, makanan kecil semacam candy yang sangat disukai oleh anak-anak.

Lalu sorang guru berkata kepada mereka, “Anak-anak, selama 45 menit kedepan, kalian akan menonton film bagus dan sementara itu saya akan keluar dari ruangan ini dan membiarkan kalian menonton bersama. Selama saya pergi, kalian boleh memakan habis keempat marshmallow yang ada di depan kalian. Tetapi...dengarkan baik-baik, bila di antara kalian ada yang berhasil menahan diri untuk tidak memakan marshmallow tersebut sampai saya kembali, maka saya akan menghadiahkan kepadanya lebih banyak lagi marshmallow untuk dibawa pulang.”

Setelah memastikan bahwa semua anak mengerti setiap kata yang baru saja diucapkan, sang guru keluar dan membiarkan anak-anak tersebut menonton. Di setiap sudut ruangan telah dipasang sejumlah video camera untuk merekam gerak-gerik setiap anak.

Dari rekaman tersebut terlihat respon dari masing-masing anak. Ada yang satu menit setelah sang guru keluar dari ruangan, keempat marsmallow langsung disantap. Beberapa anak lain berhasil menahan diri sampai sepuluh menit, bahkan sampai tiga puluh menit, tetapi akhirnya tergoda untuk memakan satu, dua, tiga dan ada yang habis semuanya.

Tetapi ada tiga anak yang berhasil menahan diri. Mereka berhasil menunda kenikmatan sesaat demi marshmallow yang lebih banyak. Dari rekaman terlihat jelas bahwa mereka ingin sekali memakan marshmallow itu. Apalagi pada menit-menit terakhir ketika anak-anak lain memakan habis marksmallow mereka. Perjuangan yang tidak mudah bagi anak umur tujuh tahun.

Setiap kali mereka melihat marshmallow yang menari di atas meja, mereka mengalihkan mata ke layar TV. Kadang mereka menutup mata, kadang mereka menjauh dari marshmallow dan memandang ke luar jendela. Berbagai cara mereka lakukan dan pada akhirnya mereka pun berhasil.

Tiga puluh tahun kemudian, ketika anak-anak tersebut telah beranjak dewasa diselidiki bagaimana kehidupan mereka. Hasilnya sangat menarik, ternyata ketiga anak yang berhasil menahan diri untuk tidak memakan marshmallow mendapatkan nilai-nilai terbaik dari sekolah terbaik. Kehidupan sosial mereka juga baik dan mereka mencapai prestasi puncak pada pekerjaan mereka masing-masing.

Sebaliknya anak-anak yang tidak mampu menahan diri untuk makan marsmallow, rata-rata gagal dalam sekolah, terlibat pergaulan buruk dan pelanggaran hukum, beberapa masih menganggur dan beberapa lainnya tidak diketahui keberadaannya.

Penelitian ini menyimpulkan pentingnya menahan diri dan menunda kesenangan, bila kita ingin meraih kesuksesan yang lebih besar dan lebih utuh (Baca: Kesuksesan Sejati).

Setiap kita memiliki marshmallownya masing-masing. Bagi sekelompok orang marsmallow itu berupa seks. Berapa sering kita menyaksikan orang-orang berbakat jatuh karena tidak mampu menahan nafsu seksnya? Bagi kelompok lain, marshmallow itu berupa barang-barang mahal. Tidak jarang tagihan kartu kredit membengkak karena nafsu belanja yang tidak bisa dikendalikan. Bagi para tenaga Sales, marshmallow itu bisa muncul dalam bentuk perasaan malu bila ditolak oleh calon konsumen. Tidak heran bila tenaga Sales seperti ini selalu gagal mencapai target.

Setelah saya selesai menjelaskan, peserta yang barusan bertanya terlihat manggut-manggut. Ia kemudian bercerita bahwa bagi suku/etnis Lampung Abung, khususnya di Kotabumi, istilah Delaying Gratification itu dapat diartikan dengan kata: “Nedes.” Waktu ia masih kecil orangtuanya sering mengajarkan kepadanya untuk menahan diri dan menunda kesenangan, demi kesuksesan di kemudian hari. Ia mengaku sudah lama melupakan nasihat yang sangat berharga tersebut. Menurut penjelasannya, kata nedes biasa dipakai oleh orang tua ketika menasehati anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu: “Nedes, nak...nedes!”

Selama kita masih hidup, kita pasti akan menemui berbagai macam bentuk marshmallow ini (baca: godaan). Untuk bisa tampil sebagai pemenang, kita perlu melatih diri untuk konsisten pada visi yang sedang kita tuju. Kita harus belajar untuk tidak mudah berbelok arah. Kita perlu untuk terus mengingatkan diri, “Nedes...Nedes! Tahan Diri - Tahan Diri! Tunda Kesenangan - Tunda Kesenangan!”

Atau, bila marshmallow itu sangat menggoda dan terlalu sulit untuk ditolak, larilah dan jangan lagi menoleh ke belakang....Iya, saya tahu, saya pernah mengalaminya, perkara yang satu ini memang bukan perjuangan yang mudah untuk dimenangkan. Tetapi bila kita sungguh-sungguh berusaha, dengan terus berdoa dan bersandar pada pertolongan Tuhan, niscaya kita akan mampu bertahan bahkan tampil sebagai pemenang. Cobalah dan buktikan sendiri.


Sukses untuk Anda!

Label: , ,

posted by Eloy Zalukhu @ 14.36   0 comments
Putuskan Hari Ini
Bila saat ini, Tuhan memberi Anda kesempatan untuk meminta tiga hal secara spesifik, dengan janji bahwa IA pasti mengabulkannya, kira-kira Anda akan meminta apa?

Pertanyaan di atas telah saya tanyakan kepada banyak orang dan umumnya, setelah berpikir beberapa saat, mereka merasa cukup kesulitan untuk memberi jawaban yang paling tepat. Kesulitan itu muncul bukan karena kekurangan keinginan untuk diminta, sebaliknya karena terlalu banyak, sehingga menjadi bingung bagaimana memilih tiga yang terpenting diantara sekian banyak hal penting lainnya.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan istilah “The paradox of choice”. Dulu kita berpikir bahwa semakin banyak pilihan akan semakin mudah dan efesien hidup kita. Tetapi ternyata yang terjadi adalah sebaliknya; Semakin banyak pilihan, kita semakin membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk membandingkan suatu pilihan dengan pilihan yang lainnya, hanya untuk kemudian sampai pada suatu titik dimana kita merasa bingung karena kelebihan informasi.

Tetapi inilah yang menjadi masalah banyak orang, yakni menginginkan terlalu banyak hal, alias tidak ada fokus atau tanpa tujuan yang jelas. Sebagai contoh; Dengan tersedianya beragam pilihan profesi / usaha / pekerjaan, banyak orang tergoda untuk mencobanya satu per satu. Bayangkan seseorang yang berprofesi sebagai guru, namun kemudian ia mencoba menjadi agen Asuransi paruh waktu. Ini bisa saja keputusan yang baik bila saja ia belajar konsisten. Namun tidak lama berselang, seorang teman mengajaknya untuk bisnis MLM, dan iapun langsung ikut. Hanya dalam hitungan bulan ia telah aktif dalam salah satu partai politik.

Bayangkan juga seorang pria berusia 39 tahun, dengan latar belakang pendidikan Teknologi Informasi. Selama ini ia tidak pernah ada pengalaman kerja dalam suatu bidang tertentu lebih dari dua tahun. Ia selalu berpindah-pindah. Dan sekarang Ia ingin menjadi seorang guru Managemen, sekaligus menjadi pengusaha Agrobisnis yang berhasil. Dalam waktu bersamaan ia sedang menjalani profesi sebagai tenaga Sales produk kecantikan.

Sekilas, perilaku kedua orang dalam contoh di atas terasa aneh. Tetapi realitanya banyak orang di luar sana yang menjalani hidup dengan cara seperti demikian. Mereka berharap bahwa salah satu dari kegiatan tersebut akan berbuahkan kesuksesan. Namun ternyata strategi hidup semacam ini lebih sering berakhir buntung daripada untung. Mereka selalu terlihat sibuk dan bekerja hingga larut malam, namun pada akhirnya mereka tidak menghasilkan apa-apa yang berarti. Alasannya sangat sederhana, yakni karena tenaga, waktu dan pikiran mereka banyak yang terbuang percuma, tidak terarah pada sebuah tujuan. Mereka mungkin tahu banyak hal tetapi hanya kulitnya saja. Mereka tidak pernah menjadi ahli dalam suatu bidang tertentu.

Selain itu, ketika kesulitan datang mereka juga tidak terbiasa bertekun, karena mereka belum menentukan apa yang betul-betul ingin dicapai. Setiap kali menghadapi kesulitan, mereka berpikir bahwa masih banyak alternatif pilihan. Akibatnya, mereka terlalu cepat tergoda meninggalkan suatu usaha / profesi / pekerjaan yang ada dan mencari lagi peluang yang baru. Maka semua kegiatan yang mereka lakukan dikerjakan seadanya saja, sehingga kualitas yang dihasilkanpun selalu tidak maksimal. Karena itu orang-orang tidak lagi mempercayai mereka, sehingga tidak heran bila mereka selalu saja berakhir dalam kesusahan.

Sebaliknya, oleh karena banyaknya pilihan itu sendiri, ada juga sekelompok orang yang justru menjadi apatis, tertekan, kebingungan dan kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi pasif, takut mencoba sesuatu yang baru, menyerah pada nasib dan kemudian tersingkirkan. Coba perhatikan orang-orang di sekeliling Anda saat ini, berapa banyak yang hidup tanpa sasaran yang jelas. Mereka bisa saja menekuni suatu profesi / usaha / pekerjaan selama bertahun-tahun namun mereka tidak mengalami kemajuan atau terobosan besar. Ini terjadi karena mereka belum memutuskan ingin mencapai apa salam hidup ini. Setiap hari mereka hanya sekedar menyambung hidup, tanpa impian dan tanpa tujuan besar yang layak diperjuangkan.

Putuskan Hari Ini

Sepuluh tahun lalu, ketika masih kuliah di Melbourne, topik seperti ini masih awam buat saya. Saat itu, saya belum memahami pentingnya menentukan sasaran hidup. Saya masih meraba-raba kelak akan menjadi apa. Saya belum mampu memutuskan ingin memperjuangkan apa dalam hidup ini. Saya sekedar menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya potensi, tenaga, pikiran dan waktu saya banyak terbuang untuk ha-hal sepele dan tidak bermutu.

Sebagai contoh sederhana, setiap kali ke toko buku saya selalu merasakan kesulitan dalam memilih buku yang akan dibeli, karena saya belum memutuskan ilmu apa yang ingin saya tekuni. Maka saya ke toko buku hanya sekedar lihat-lihat tanpa mendapat banyak manfaat. Beberapa kali saya akhirnya membeli buku, namun kini buku-buku tersebut tidak banyak berhubungan dengan profesi yang tengah saya geluti.

Tetapi, banyak orang yang mengalami hal serupa. Untuk hal-hal kecil saja, coba ingat ketika Anda mampir ke bioskop dan bingung memilih dari sekian banyak film bagus yang ditawarkan. Demikian juga ketika masuk dalam sebuah restoran, banyak orang bingung memilih dari sekian banyak menu lezat yang ada disana. Bagaimana dengan memilih calon pasangan hidup, memilih pekerjaan, bidang usaha yang ingin digeluti. Atau mungkin sekedar memilih kostum untuk dikenakan dalam sebuah pesta. Jadi jelas, memilih tiga hal yang terpenting untuk diperjuangkan dalam hidup bukan hal mudah untuk dilakukan.

Namun bagaimanapun sulitnya, bila kita ingin meraih sukses yang lebih besar, kita dituntut untuk dapat memilih dan memutuskan apa yang betul-betul kita inginkan dalam hidup ini. Mengapa? Alasannya sederhana;

Bila kita belum memutuskan apa yang kita inginkan maka kita tidak tahu tindakan apa yang perlu kita lakukan dan tekuni.

Dan bila kita tidak tahu tindakan apa yang perlu kita lakukan dan tekuni maka kita juga tidak tahu hasil seperti apa yang akan kita dapatkan.

Akibatnya potensi, tenaga, pikiran dan waktu kita menjadi tidak terarah. Sehingga dapat dipastikan seluruh hidup kita akan berakhir dalam kesia-siaan.

Kita perlu ingat bahwa hasil adalah anak daripada sebuah tindakan, dan tindakan adalah anak dari sebuah keputusan.

Dalam terang pemikiran seperti itulah Jack Canfield pernah bertutur, “Salah satu sebab utama mengapa seseorang belum mendapatkan apa yang ia inginkan adalah karena ia belum memutuskan apa yang betul-betul ia inginkan.” Atau dalam kalimat Ben Stein, bahwa “Langkah pertama dan utama untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan adalah dengan memutuskan apa yang betul-betul Anda inginkan.”

Maka, bila saat ini Tuhan memberi saya kesempatan untuk meminta tiga hal kepadaNya, inilah yang akan saya minta: (1) Dimampukan untuk hidup berkenan kepada-Nya, setiap waktu. (2) Dimampukan untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera, serta (3) Dimampukan untuk menjadi Motivator & Business Trainer, sepuluh terbaik di Asia, pada tahun 2020. Saat ini seluruh potensi, pikiran, tenaga dan waktu yang saya miliki terfokus untuk mewujudkan ketiga hal itu. Bagaimana dengan Anda? Apakah yang menjadi tiga keinginan terbesar Anda saat ini? Putuskanlah sekarang.

Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 14.11   0 comments
Kekuatan Sikap Positif
KEKUATAN SIKAP POSITIF

Selama bertahun-tahun, saya telah menghadiri begitu banyak seminar, membaca ratusan buku, mendengarkan kaset berjam-jam, mewawancarai sejumlah orang sukses, melatih ribuan orang, dan menjalani hidup yang penuh lika-liku. Semuanya itu telah mengukuhkan keyakinan saya bahwa sikap positif sungguh-sungguh merupakan titik awal sekaligus faktor utama dan terpenting dalam perjalanan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sejati.

Kesimpulan di atas jelas bukan penemuan baru. Prinsip yang tak lekang oleh zaman ini memang telah menjadi kosa-kata umum dan digunakan secara populer. Namun bila kita intropeksi diri dan berani berkata jujur, kita mudah menemukan bahwa prinsip tersebut masih jauh dari praktik umum. Padahal ini bukan soal berapa banyak kita tahu tentang pentingnya memelihara sikap positif; ini adalah soal seberapa baik dan seberapa konsisten kita menerapkan pengetahuan itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Karena itu saya berharap tulisan ini menjadi wake-up call bagi setiap pembaca untuk menjadikan sikap positif sebagai prioritas utama. Artinya, jika Anda ingin kenaikan jabatan, jangan hanya bekerja lebih keras – meskipun Anda perlu melakukannya – namun lebih dari itu olah diri Anda sedemikian rupa sehingga Anda menjadi pribadi yang lebih mulia dan bernilai bagi perusahaan. Setelah Anda memiliki sikap yang lebih positif, mereka yang dapat mempromosikan Anda akan melihat bahwa Anda telah melampaui posisi Anda sekarang dan perlu pindah ke posisi yang lebih tinggi.

Sikap adalah langkah awal dari sebuah kesuksesan. Faktor lain seperti perencanaan yang baik, kerja keras bahkan keterampilan memimpin semua dibangun di atas dasar sikap positif. Tanpa sikap yang baik tidak akan mungkin ada hasil yang baik. Maka tidak jadi soal berapa umur Anda, posisi atau lingkungan Anda sekarang, gender, atau status perkawinan Anda, saya yakin bahwa sikap positif dapat memberikan sesuatu yang sungguh berarti dalam hidup Anda. Kenyataannya, aset paling berharga yang dapat Anda miliki adalah sikap positif. Intinya adalah sikap Anda hari ini menentukan sukses Anda di masa depan.

Hal Urban, dalam bukunya berjudul “Life’s Greatest Lessons” memaparkan penelitian yang dilakukan di Harvard dan beberapa universitas terkenal lainnya yang membenarkan kesimpulan di atas. Mereka menemukan bahwa sikap jauh lebih penting daripada kecerdasan, pendidikan, bakat, atau keberuntungan. Mereka menyimpulkan bahwa hampir 85% dari kesuksesan seseorang disebabkan oleh sikap, sedangkan 15% lainnya karena kemampuan. Walaupun sangat sulit memberikan persentase yang spesifik bagi karakteristik semacam ini, namun siapa pun yang pernah mempelajari perilaku manusia akan setuju bahwa titik awal bagi semua kesuksesan adalah sikap positif.

Berita baiknya adalah Anda mungkin tidak dapat mengubah warna kulit namun Anda dapat mengubah sikap Anda. Banyak peneliti percaya – dan saya setuju sepenuh hati – bahwa sikap positif bukanlah produk genetis atau ketuturunan, melainkan sebuah ciri yang dipelajari dengan pelatihan yang tepat. Karena itu jika Anda memiliki sikap yang buruk, Anda dapat mengubahnya menjadi baik. Jika sikap Anda sudah baik, sikap itu dapat dilatih untuk menjadi lebih baik lagi, mulai dari sekarang.

Apa itu Sikap?

Meskipun istilah “sikap” merupakan sesuatu yang umum, namun masih banyak yang belum memahami artinya. Setelah membaca cukup banyak referensi saya berhasil menemukan beberapa definisi. Tetapi saya kira yang paling mudah dipahami adalah definisi versi American Heritage Dictionary, yakni: “Cara berpikir atau merasakan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan”.

Dengan kata lain sikap adalah apa yang terjadi dalam diri seseorang, pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan; tentang diri sendiri, orang lain, keadaan dan kehidupan secara umum. Pikiran positif dan perasaan positif itu biasanya bermanifestasi dalam bentuk optimisme yang tinggi, pantang menyerah, percaya diri, mudah bersyukur, sabar, menghargai orang lain, menghargai perbedaan, mudah berteman, mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri atau pantang menyalahkan orang lain dan keadaan.

Sekarang pikirkan beberapa orang yang Anda kenal dan bagi dalam dua kelompok. Orang-orang yang Anda anggap sukses dan bahagia masukkan dalam kelompok A, sementara orang-orang yang Anda anggap kurang sukses dan kurang bahagia masukkan dalam kelompok B. Kemudian pikirkan dan tuliskan sikap yang mereka miliki masing-masing seperti tingkat optimisme, ketekunan, rasa syukur, kerja keras, kestabilan emosi, dan lainnya. Bila Anda betul-betul melakukannya Anda akan menemukan betapa besar pengaruh sikap positif maupun negatif terhadap kehidupan seseorang.

Salah satu contoh dari sikap positif diceritakan ulang oleh Zig Ziglar dalam bukunya berjudul “Better than Good”; Majalah Rotarian yang terbit pada bulan Maret 1988 mengisahkan tentang suatu organisasi alam liar yang menawarkan imbalan sebesar lima ribu dollar untuk setiap serigala yang tertangkap hidup-hidup untuk tujuan relokasi. Sam dan Jed menerima tantangan itu dan menjadi pemburu hadiah. Yang terutama merasa yakin adalah Sam; ia yakin dengan pengetahuannya dan Jed yakin tentang habitat serigala, mereka bisa meraih keberuntungan.

Mereka menghabiskan waktu siang-malam menjelajahi wilayahnya, mencari-cari gerombolan serigala untuk dijadikan sasaran, tetapi tidak sedikit pun melihat sesuatu. Setelah lelah berhari-hari melakukan pencarian, mereka jatuh tertidur jauh di tengah malam, di sekitar api unggun mereka. Sesuatu menyebabkan Sam terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Sambil bersandar pada satu siku, ia mendapati dirinya dan Jed dikelilingi oleh kira-kira lima puluh serigala yang menggeram-geram dengan mata yang berkilat-kilat dan gigi-gigi yang diperlihatkan. Ia menyodok Jed dengan tongkat dan berbisik, “Jed! Bangun! Kita kaya!”

Sahabatku, kisah di atas adalah contoh tentang sikap positif. Sam adalah orang yang melihat gelas setengah penuh bukan setengah kosong. Ia tipe orang yang optimis!

Bagaimana dengan Anda, apakah saat ini Anda sedang menghadapi serigala buas dalam pekerjaan, usaha atau keluarga? Semua kita memiliki pengalaman seperti Sam dan Jed. Serigala kita bisa saja datang dalam wujud tuntutan kerja yang semakin meningkat, atasan yang susah dipuaskan, pelanggan yang menyebalkan, atau kompetisi yang semakin menggila.

Dalam wilayah keluarga, serigala itu bisa datang dalam wujud pasangan yang egois dan selalu ingin menang sendiri, atau mungkin putra-putri Anda yang semakin susah untuk diarahkan. Sementara dalam wilayah personal, serigala itu bisa datang dalam bentuk kesehatan yang masih belum membaik, pendidikan dan pengalaman yang terbatas, atau mungkin sekedar kejadian di masa lalu yang masih membawa luka hati hingga hari ini.

Hari kemarin, saya mendapat pesan singkat dari seorang peserta Training yang pernah saya adakan di kota Medan. Ia menulis “Pak Eloy, ternyata menuju sukses itu sangat banyak rintangannya...terkadang membuat kita sangat stress.” Saya menjawab...:

“Iya, rintangan itu merupakan sarapan para juara. Tidak ada kesuksesan sejati tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Setiap kita memiliki rintangannya sendiri. Tinggal terserah kita masing-masing, kita dapat memilih untuk menyerah atau kita memilih untuk bertekun hingga titik darah terakhir. Itu adalah sikap, dan sikap adalah sebuah pilihan.”

Kiat Praktis

Sampai di sini mudah-mudahan Anda merasa sudah tidak sabar untuk mendapatkan sejumlah kiat praktis tentang bagaimana membangun sikap positif. Namun saya minta maaf karena topik itu selengkapnya akan saya bahas pada artikel berikutnya. Untuk sementara, mulai saat ini, ketika menghadapi situasi apapun, latih diri Anda untuk memiliki pikiran yang “terbuka”.

Sebagai contoh, ketika hujan mulai mengguyur Jakarta, Anda berdoa: “Tuhan, kalau benar Engkau mengasihiku, maka halau banjir ini masuk ke dalam rumahku.” Doa semacam itu adalah doa orang yang berpikiran tertutup. Ia telah menentukan satu-satunya cara untuk Tuhan membuktikan kasihNya adalah dengan menghentikan air masuk ke dalam rumahnya. Sikap berpikir semacam ini sangat berbahaya, karena Tuhan bisa saja berkata:

“Bagi-Ku, jangankan menghalau air masuk ke dalam rumahmu, membelah laut saja Aku mampu. Tetapi kali ini, Aku ingin menunjukkan kasih-Ku kepadamu dengan cara yang berbeda, yakni dengan membiarkan air itu masuk ke dalam rumahmu.

Tujuannya, Aku ingin kamu belajar berenang...karena Aku sudah mempersiapkan perkerjaan baru untukmu, dengan posisi dan gaji yang lebih tinggi...semuanya jauh lebih baik dari pekerjaanmu yang sekarang. Namun dalam pekerjaan itu kamu harus bisa berenang. Maka inilah cara-Ku untuk melatihmu berenang agar kamu dapat sukses dalam pekerjaan barumu nanti.”

Maksudnya adalah jangan menjadi orang yang kaku dan tertutup. Buka pikiran dan Anda akan melihat begitu banyak kesempatan tersedia bagi Anda. Jangan pula tergoda untuk terburu-buru menilai ucapan atau tindakan seseorang berdasarkan asumsi, prasangka ataupun kejadian masa lalu.

Lebih-lebih bila Anda sedang dalam keadaan emosi negatif. Percayalah apapun yang Anda katakan atau lakukan dalam keadaan emosi negatif pasti salah. Karena itu latih diri Anda untuk menjadi lebih tenang ketika menghadapi situasi apapun. Langkah awal untuk bisa memiliki ketenangan adalah dengan membangun hubungan yang baik dengan Tuhan melalui doa, karena dasar dari sikap positif adalah hati.


Sukses untuk Anda!

Label:

posted by Eloy Zalukhu @ 12.55   0 comments
Previous Post
Archives
About Me

Name: Eloy Zalukhu
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: Eloy Zalukhu lahir di suatu desa yang sampai hari ini belum dialiri listrik dan tak punya jalan beraspal. Baru pada usia sepuluh tahun ia melihat benda bernama mobil. Pada usia baru sembilan bulan ayahnya pergi untuk selamanya. Sejak saat itu berbagai macam kesulitan membentuk karakter hidupnya yang tahan uji dan tidak pernah menyerah. Atas pertolongan Tuhan, ia melanjutkan sekolah di Melbourne, Australia. Tahun 2001 ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang Marketing dan Management dari Deakin University.
See my complete profile
Network

BLOGGER

Live Traffic Feed